PENGANGKATAN ISA KE LANGIT

Salah seorang dari pengikut yang lari inilah yang telah membelot dan menunjukkan tempat persembunyian Isa kepada musuh-musuh itu dialah Yudas Iskariot. Pemuda itu menunjukkan tempat persembunyian Isa, tetapi Tuhan memperlihatkan kekuasaanNya. Mata musuh tidak dapat melihat Isa, sedang muka Yudas Iskariot yang telah membelot itu, dirubah Allah menjadi serupa dengan muka Isa. Tepat disaat itu tentera Romawi menyerbu masuk, mereka melihat Yudas Iskariot yang serupa Isa itu segera ditangkapnya, dipukulinya, lalu mereka gantung di tiang gantungan yang berupa salib. Di tiang salib itulah orang tangkapan yang mereka kira Isa itu, mereka pakukan, lalu dilemparinya dengan batu, serta dipukulinya dengan kayu, sehingga darah tertumpah sebanyak-banyaknya. Isa yang sebenarnya terlepas dari usaha penangkapan itu, tetapi orang ramai dan musuh tidak mengetahuinya. Kemudian Allah mengangkat Isa ke langit. Isa diangkat ke langit (di sisi Allah) Jasad dan Ruhnya dalam keadaan masih hidup sebagaimana disebutkan Allah dalam firman-Nya : dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah [378]", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya [379]. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya [380]. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (An Nisa : 157 - 159) Catatan : [378]. Mereka menyebut Isa putera Maryam itu Rasul Allah ialah sebagai ejekan, karena mereka sendiri tidak mempercayai kerasulan Isa itu [379]. Ayat ini adalah sebagai bantahan terhadap anggapan orang-orang Yahudi, bahwa mereka telah membunuh Isa as atau Isa telah meninggal di daerah lain (khasmir). [380]. Tiap-tiap orang Yahudi dan Kristen akan beriman kepada Isa sebelum wafatnya, bahwa dia adalah Rasulullah, bukan anak Allah. Sebagian mufassirin berpendapat bahwa mereka mengimani hal itu sebelum wafat dan Isa belum Wafat sampai turun ke dunia sebelum hari kiamat datang. Orang-orang yang berpendapat bahwa Isa = Jibril, kebanyakan mereka yang meyakini bahwa Isa telah wafat di bumi dan dan mengingkari keterangan dari surat An Nisa ayat 157 – 159 yang tertulis diatas, sehingga tidak meyakini bahwa Isa telah diangkat Allah ke langit dengan alasan jasad (tubuh) Isa telah diwafatkan dan ruhnya yang merupakan Ruhul Qudus atau Jibril telah kembali ke langit. Pendapat ini adalah sangat keliru dan telah bercampur dengan paham yang diyakini umat kristen tentang Ruh Kudus. Dalam proses pengangkatan Isa as ke langit, Allah telah menjelaskan dalam ayat berikut : (Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menarik jiwamu (mu-tawaffi-ka) dan mengangkat kamu (wa rafi’uka) kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal hal yang selalu kamu berselisih padanya". (Ali Imran 3 : 55) Tidak ada satupun kata tentang kematian Isa dalam Al Qur’an, sementara kata-kata seperti qotalahu atau maata digunakan dalam ayat untuk merujuk ke kematian wajar para nabi yang lain, sedangkan kata tawaffa yang berarti menarik jiwa dipakai dalam kaitan dengan Isa. Dalam bahasa arab kata yang diterjemahkan dalam sebagian terjemahan ayat ini, sebagai engkau telah menyebabkanku mati adalah tawaffa dan berakar kata waffa berarti memenuhi. Tawaffa sebenarnya tidak pasti berarti mati namun tindakan menarik jiwa dapat melalui tidur, kematian atau dalam hal Isa as diangkat ke hadapan Allah. Juga dari Al Qur’an kita mengerti menarik jiwa tak pasti berarti kematian. Contohnya kata itu dapat berarti menarik jiwa seseorang ketika tertidur seperti yang ditunjukkan ayat ini. Dan Dialah yang menidurkanmu (ya-tawaffa-kum) di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. (Al An'aam 6 : 60) Kata yang digunakan untuk menarik jiwa dalam ayat ini sama dengan yang dipakai dalam surat Ali 'Imran : 55. Tawaffa seperti yang telah dijelaskan dalam ayat ayat tadi. Maka dapat disimpulkan bahwa Isa as tidak mati. Namun diangkat ke hadapan Allah. Kejadian ini dapat dianalogikan seperti halnya memutar sebuah kaset DVD, ketika dimulai maka dinamakan “Play” ketika berhenti sejenak pada perjalanan atau pemutaran kaset tersebut dinamakan “Pause” maka pada saat yang diinginkan untuk diputar lagi akan menjadi “Play” lagi. Tetapi jika memang sudah usai atau ingin diberhentikan maka dinamakan “Stop”. Sebenarnya peristiwa serupa telah terjadi dan dicatat dalam Al Qur’an dengan tempat dan waktu yang berbeda. Yaitu kisah Askhabul Kahfi yang juga mengalami proses “Pause” dalam kehidupan mereka yang artinya jiwa mereka ditarik Allah.sedangkan perbedaannya adalah jika Askhabul Kahfi berada di dalam gua di daerah Aphsos barat laut Tarsus dekat Petra Yordania maka Isa as di Masjidil Aqsho Yerusalem. Dan jika Askhabul Kahfi di-Pause selama 309 tahun maka Isa as di-Pause mulai tahun 30 M sampai kapan kita belum mengetahui waktu Isa as di-Play kembali oleh Allah SWT, jika dihitung sampai sekarang (2012) telah menginjak 1982 tahun sejak beliau di-Pause. Selama mulai zaman Nabi Adam as sampai sekarang ini tentunya banyak sekali cerita-cerita tentang proses Pause dalam kehidupan manusia, ada yang dicatat dalam kitab suci ada juga yang tidak, seperti halnya kisah Sunan Kalijaga yang konon telah menjaga tongkat Sunan Bonang di pinggir sungai dengan bertapa (ditidurkan) selama 3 tahun. Dan tentunya masih banyak cerita-cerita serupa di belahan bumi lain yang pastinya peristiwa “Pause” ini hanyalah dikaruniakan Allah kepada mereka yang dekat dengan-Nya, yaitu para nabi, para rasul, ulama warosatul ambiya, shadiqin, syuhada dan shalihin. Hanya orang-orang yang tidak beriman kepada hal yang gaib yang tidak mempercayai kejadian “Pause” dalam kehidupan para kekasih Allah. Dan pada saat sekarang ini, banyak orang-orang ini berfaham kapitalis atau materialistik (berlawanan dengan beriman kepada hal yang gaib) yang telah banyak merusak Agama Allah.