Sunan Kalijaga menggubah Epos Mahabharata secara budaya dan seni. Pada sisi seninya digubah secara bentuk fisik dalam cara penyampaian yang pada awalnya digambarkan dan dilukiskan pada lembaran-lembaran. Satu lembar menggambarkan satu adegan atau satu cerita dirubah menjadi bentuk-bentuk individual-personal yang diukir pada kulit binatang, digambar dengan bentuk tubuh yang tidak mirip manusia. Itulah Wayang Kulit yang dapat disaksikan hingga sekarang ini, dan keberadaannya diakui dunia bahwa Wayang Kulit ini berasal dari Jawa, karya Wali Allah Sunan Kalijaga dan para sunan yang lain. Selain seorang Wali Allah, Sunan Kalijaga juga seorang dalang, yang seringkali mendalang untuk menghibur dan berdakwah kepada umat dengan menggelar pertunjukan Wayang Kulit. Dalam menyampaikan dakwahnya Sunan Kalijaga juga menggubah sisi budaya dari epos Mahabharata menjadi lakon/cerita yang dibawakannya dalam mendalang. Seringkali lakon ciptaannya sendiri digelar sebagai sarana dakwah seperti cerita Jamus/Jimat Kalimasada (Kalimat Syahadat), Dewa Ruci, Petruk dadi Ratu, Wahyu Makutarama, dll. Pandawa Lima Ada lima perkara kewajiban sebagai muslim, Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji, kita mengenalnya sebagai rukun islam. Jika kita telah memenuhi syarat sebagai seorang muslim telah dewasa dan normal secara jasmani dan ruhani, meninggalkan satu perkara dari lima perkara, bahkan satu perkara dari Shalat yang lima waktu, kita sudah termasuk zalim, menzalimi diri sendiri dan itu jauh dari Allah. Allah telah membuat hukum yang wajib dikerjakan untuk hamba-hamba Nya. Jika kita sudah memilih dengan sadar, ikhlas, suka hati sebagai muslim sebagai pilihan yang terbaik, maka sudah barang tentu kita mesti sadar, ikhlas, suka hati pula tunduk pada ketentuan yang sudah ditetapkan dan diwajibkan oleh Allah, yang kita pilih itu, dan bukan karena faktor keturunan atau ikatan perkawinan, apalagi paksaan. Islam adalah ikhlas, rela, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Nya. Jika kita telah memilih dan kita mengerjakan kewajiban dan perintah Nya, maka Allah bersama kita. Dan jika kita menambah dengan amalan sunah-sunah, maka Allah lebih mencintainya dan mendekatkan diri Nya lebih dekat lagi kepada diri kita, lebih cepat dan lebih dekat daripada apa yang kita usahakan untuk mendekati Nya. Begitu pula sebaliknya jika kita melalaikan dan mengingkarinya dengan alasan apapun yang dibuat oleh diri kita, bahkan hanya melewatkan satu dari lima yang wajib, itu artinya kita melepaskan diri dari Allah. Allah tidak bersama kita. Sebab sudah terbukti dalam rentang waktu 14 abad (1433 tahun Hijriah), hukum Allah ini sudah melewati generasi demi generasi, bangsa demi bangsa, para Pemimpin, Khalifah, Sultan, Ulama, Wali-wali Allah silih berganti, kewajiban hamba tidak bertambah dan tidak berkurang. Ini artinya Allah telah memberi kewajiban kepada hamba-hamba-Nya sudah sesuai dengan kemampuan hamba-Nya, walaupun mereka (hamba-Nya) berada dalam bangsa, ras, negara, generasi dan peradaban yang berbeda. Bahkan justru dengan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya, hamba akan tetap eksis dan jaya dalam segala zaman dan kehancuran akan terjadi mana kala umat manusia mengingkari amanah-Nya. Hal itu telah diisyaratkan dalam kitab Mahabharata, bahwa para Pandawa (keturunan Pandudewanata) 5 kesatria bersaudara yang gagah perkasa sebagai rahmat dan berkah dari 5 Dewa, mempunyai kesepakatan, janji setia, komitmen bersama bahwa “Satu hidup hiduplah semua, satu mati matilah semua, satu sengsara atau sakit maka sengsara dan sakitlah semua, satu bahagia bahagialah semua.” Untuk kesepakatan hidup satu hidup semua dan bahagia satu bahagia semua, hampir semua manusia menganggukkan kepala, tapi tidak jika mati satu mati semua dan sengsara satu sengsara semua. Analogi dengan komitmen Pandawa itulah sesungguhnya hukum wajib bagi umat islam. Sunan Kalijaga memadukannya dalam konsep yang baik. Yudistira disimbolkan dengan Syahadat, Ksatria yang diberkati Dewa Darma dewa Keadilan, Ia bersenjatakan “Jamus Kalimasada”, (Jamus = kitab, Kalimasada = Kalimah Syahadat), ia mencintai sesama, tak ada manusia yang dibenci, ia tak mempunyai musuh, ia tak mau melukai musuh bahkan ketika berada di medan perang, ia sangat dermawan, bahkan memberikan istrinya sendiri ketika diminta, Itulah Yudistira dengan Jamus Kalimasadanya, bukan ampuh karena diucapkan di bibir saja, tapi ia tak terkalahkan oleh siapapun karena diamalkan, didermakan, dibaktian, dikerjakan bahkan kata sebuah riwayat yang tertulis, ia tak mati hingga ia masuk surga dengan jasad fisiknya. Bima disimbolkan dengan Shalat, ksatria kedua yang mendapat berkah Dewa Angin (Bayu), ia adalah ksatria yang secara fisik sangat perkasa, tapi ia juga ksatria yang gemar menjalankan laku prihatin, kuat puasa, kuat dzikir, kuat Shalat, kuat iktikaf, hingga dikaruniai nama Bratasena (Brata = laku prihatin, sena = kuat). Ia kokoh bagaikan tiang masjid/pilar langit/tiang agama. Ia jujur, berani dan adil, ia punya pepatah “Cuplak andeng-andeng” artinya tidak mentorerir/tidak memaafkan kesalahan apapun besarnya/kecilnya (semua kesalahan harus mendapatkan hukuman yang setimpal), bahkan jika badan sendiri melakukan pengingkaran/kesalahan ia akan potong, buang dan menghukum sendiri, (tanpa perlu dibawa, karena diajukan ke pengadilan, dengan debat panjang yang melelahkan dan berbelit-belit dengan hasil keputusan yang aneh). Nakula dan Sadewa, ksatria kembar yang diberkahi dewa kembar Aswin, ia disimbolkan dengan Zakat dan Puasa, sebab zakat wajib diberikan oleh seorang muslim dan sah sebelum dilaksanakannya Shalat Idul Fitri. Dengan kata lain Zakat dan Puasa bagi muslim dikerjakan dalam waktu yang bersamaan, yang digambarkan si kembar Nakula dan Sadewa. Arjuna disimbolkan dengan Haji, Ksatria tampan tiada tandingan sebagai anugerah Dewa Langit, Dewa Indra, adalah ksatria yang paling banyak dibicarakan dan memenuhi kriteria dalam segala bidang, ia mempunyai semua karakter kakak dan adiknya. Ia tampan, berbakti kepada saudara tua dan orang tuanya juga sesepuhnya, kuat bertapa brata, sakti tiada bandingan, berani dalam membela kebenaran, jujur adil dan bijak dalam bertindak, dermawan terhadap sesama, santun bahkan takut pada kata-kata istrinya yang setia, tidak sombong, tidak menonjolkan diri dengan segala kelebihan yang dimilikinya, sehingga menjadi kesatria kesayangan para dewata. Itulah mengapa Sunan Kalijaga menempatkannya simbol Haji, yaitu bersatunya dan puncaknya semua kewajiban ibadah kepada Allah. Togog Gubahan Sunan Kalijaga yang paling popular adalah diciptakannya dua tokoh wayang, yaitu Togog dan Semar, kedua tokoh ini dan anak-anaknya atau pengiringnya tidak terdapat dalam cerita Mahabharata, tetapi kedua tokoh ini akan selalu ada dalam setiap pementasan wayang. Kedua tokoh ini adalah saudara kakak-beradik, keduanya adalah penasehat seorang raja atau kesatria, tetapi jalan yang ditempuh berbeda. Konon kedua nama tokoh ini berasal dari nama dewa yang diyakini oleh masyarakat jawa bahkan sebelum masuknya Hindu dan Budha di tanah jawa. Togog mengabdi di kerajaan-kemewahan dunia, ia menjadi penasehat raja yang zalim, sombong, angkara murka, seorang raja yang jahat dan licik yang bertingkah laku buruk. Ia akan selalu menasehati dan menasehati tuannya dengan bijak, tetapi yang didapati pada akhirnya tidak satupun nasehat-nasehatnya yang baik itu dipertimbangkan apalagi ditaati dan dilaksanakan. maka raja jahat tetap menjalankan kejahatannya, pada mulanya raja ini mengalami kejayaan, tetapi pada akhirnya semuanya akan tamat, tumbang, habis, musnah dan kalah. Semar adik togok mengambil jalan lain, ia dan anak-anaknya Gareng, Petruk, Bagong/Bawor hadir bersama seorang Ksatria atau seorang Raja yang hidup dalam kesunyian dunia, seorang raja yang tidak tertarik pada kemewahan dunia, tetapi kebesaran dan kejayaan kerajaan dipakai sebagai sarana melayani rakyat sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Togog adalah wujud dari akhlak manusia, yaitu akhlak yang buruk. Seorang pejabat yang korup, tetap saja akan menasehati anak-anaknya dengan baik, benar dan arif, juga pada sanak familinya-para sahabatnya, ia juga berjanji diforum-forum dengan janji-janji yang baik untuk kemajuan kemaslahatan orang banyak, tetapi dia tetap saja korup. Kita seringkali menasehati orang lain dengan nasehat yang baik dan mulia, memang begitulah kita mesti menasehati jika diminta, tetapi bukan hanya sering, malah sebagian besarnya bahkan seluruhnya apa yang kita katakan adalah hal-hal yang tidak kita kerjakan. Kita terlalu bersemangat hingga kita tidak pernah mendengarkan apa yang kita katakan, sesungguhnya setiap kata apa yang kita ucapkan telinga kita sendiri yang pertama mendengarkannya. Kita berkata seolah-olah hanya untuk telinga orang lain yang siap mendengarkan dan kita seringkali menutup tuli “telinga dan hati nurani” apa yang kita katakan, yang secara sadar tidak kita kerjakan oleh diri kita dan nyata-nyata bertentangan dengan akal sehat dan nurani sendiri. Sesekali kita masih berprasangka orang lain tak tahu apa yang kita kerjakan, memang orang lain tidak tahu, tetapi “Tuhan tidak Tidur”. Kita sering bertindak/berlaku tidak adil, sebab kita tidak jujur pada diri sendiri. Dalam pengertian umum, kita bahkan kebanyakan atau sebagian besar dari orang-orang yang mengaku islam adalah Togog, mengapa? Sebagai seorang muslim, barangkali kita tidak pernah absen dalam Shalat Jum’at, tapi benarkan kita sehari-hari Shalat lima waktu dengan konsekuen (kontinyu), walaupun hanya memenuhi syarat wajibnya saja dan tidak tepat waktu, ternyata sebagian kita tidak Shalat dengan sengaja atau karena kesibukan duniawi yang menghadang, kita begitu takut absen dari pemerintah, pimpinan, juragan, bos (kita memang harus disiplin dalam kerja), yang telah memberi nafkah untuk anak istri, tapi kita lalai atau tidak peduli pada yang memberikan hidup pada semuanya. Kita mungkin menjalankan Shalat lima waktu, tapi kita jarang ingat atau tidak ingat akan Allah dimanapun kita berada, sesuai dengan makna Shalat itu sendiri wa aqimis Shalata lid dzikri (dirikanlah Shalat untuk mengingat Allah) dan inna Shalata tanha anil fakhsya’i wal munkar (sesungguhnya shalat itu mencegah berbuat keji dan mungkar). Alhasil kelihatannya kita Shalat, tetapi sesungguhnya kita lupa dan menzalimi diri kita sendiri dan orang lain, itulah Togog yang lalai dalam Shalatnya. Begitu pula puasa, sudahkah kita memenuhi walau yang wajibnya saja, sekedar melewatkan atau menahan lapar dari pagi hingga sore. Sajian buka puasa berjajar sepanjang jalan dan tersaji disetiap Masjid dan rumah-rumah muslim. Benarkah kita puasa hari itu? Di bulan Ramadhan pasar lebih ramai dan pengunjung mol lebih banyak dari yang Shalat tarawih, kehidupan seperti berganti ke malam hari. Kita disuruh mengekang, tapi pengeluaran di bulan puasa apalagi menjelang lebaran bertambah-tambah. Kita disuruh berpuasa, kita mungkin berpuasa dari makanan dan minuman, tapi tidak pada kata-kata kita, langkah-langkah kita, pandangan mata kita, pikiran kita, hasrat kita, telinga kita, alhasil kita belum berpuasa. itulah Togog yang berpuasa tapi tidak puasa. Seorang muslim yang bekerja keras dan jujur, berangkat pagi dan pulang sore hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga, misalnya dia tak menjalani Shalat lima waktu. Orang ini memperoleh penghasilan dan gaji dengan halal. Cukup atau tidak cukup ia telah memberi sarana hidup untuk anak dan istri. Uang yang ia peroleh hanya membuat anak dan istri bertahan hidup, tapi tak ada berkah dari Allah yang menyertai, karena ia telah mengabaikan satu perintah Allah yang diwajibkan atasnya. Jika perintah Allah diabaikan, maka Allah tidak bersama kita, jika ALLAH tak bersama kita, maka kita bersama musuh Allah, karena musuh Allah-lah yang mengendalikan kita agar kita tidak taat kepada-Nya dan akan selalu taat kepada musuh-Nya. Dari lima perkara kewajiban sebagai muslim yang disebut rukun islam. Jika ada satu komponen atau lebih dari lima perkara kewajiban ini ditinggalkan sebagai muslim adalah OFF, maka semua menjadi OFF. Kondisi OFF inilah yang kita sebut “TOGOG”, yaitu ketika Allah tidak beserta kita, bahkan Allah SWT membenci kita. Semar Semar adalah penggambaran dari Ahlakul Karimah, yaitu Akhlak Muhammad Rasulullah SAW. Bagaimana Akhlak Nabi menjahir dalam tingkah laku kita? Dalam penjelasan sebelumnya (TOGOG), apapun perbuatan kita jika ada unsur “OFF” dari kedua hukum wajib yang telah ditentukan oleh Allah bagi umat muslim, berdasarkan ketentuan pelaksanaannya, maka tingkah laku kita akan mengarah menjadi OFF, Allah membenci kita, Allah tak bersama kita. Jadi jika ingin Semar muncul dalam tingkah laku kita, kita mesti taat, konsekuen, jujur pada diri sendiri. Kita penuhi semuanya hingga tidak ada lagi OFF. Manusia diciptakan hanya untuk beribadah-mengabdikan-menghamba kepada-Nya. Sunan Kalijaga dalam menggambarkan tingkah laku manusia yang berakhlakul Karimah disimbolkan dengan “SEMAR”. Semar dalam perwujudan di pewayangan selalu akan berbicara kepada kstaria/raja yang diikutinya dengan kata-kata yang khas dan tetap sepanjang sejarah wayang, versi Jawa, Sunan Kalijaga. Semar akan selalu mengawali kata-katanya dengan : “LAE-LAE, MBEGEGEG UGEG-UGEG SANDULITO HEMEL-HEMEL. BAPA BENDORO KULO. “Lae-lae, adalah ucapan/lafas ALLAH-ALLAH, mengucapkan Asma Allah, seseorang yang berzikir dengan lafas “Allah Allah Allah, ….” Mbegegeg Ugeg-ugeg, adalah seorang hamba yang sedang duduk “Tawaruk berzikir”, duduk yang kuat/kokoh, cara duduk ini berkebalikan dengan cara duduk dalam takhiyat akhir dalam Shalat sehingga kaki membentuk lafazd/tulisan MUHAMMAD dalam huruf Arab, itulah cara duduk yang paling sopan, beradab dan beretika di hadapan Allah SWT. Sandulito Hemel-Hemel, adalah satu colekan jari telunjuk untuk menarik butir-butir tasbih, walaupun hanya satu colekan kecil di ujung jari, akan tetapi tetasa begitu besar dan kokoh di hati sanubari, sebab satu colekan ini diucapkan bersamaan dengan lafas Allah,Allah,Allah…, dihati sanubari, diucapkan dengan suara sir yaitu tak terdengar oleh telinga diucap secara batin di dalam hati. Bapa Bendoro Kulo, Bapa adalah Bapak, Ayah, Abi, Abu, Abah, Buya. Bendoro adalah Juragan, Bos, Pimpinan, Guru, Pir, Mursyid. Dan Kulo = saya. Di dunia ini tidak ada seorang “anak” sekaligus sebagai seorang pembantu/hamba bagi Bapaknya, anak adalah anak sedangkan pembantu adalah pembantu. Seperti kata berikut. Tomi anak Suharto, Tomi bukan pembantu Suharto, Harmoko pembantu Suharto, Harmoko bukan anak Suharto. Tetapi seorang “anak” sekaligus adalah seorang “pembantu” atau seorang “pembantu” sekaligus adalah seorang “anak”, di dunia ini tidak ada, kecuali di dunia Tasawuf. Seorang Guru Mursyid, akan mempunyai banyak sekali (ribuan bahkan jutaan) murid-murid yang disebut salik, murid-murid ini adalah anak-anaknya, karena Mursyid adalah guru ruhani maka anak-anak ini adalah dalam pengertian ruhani, (bukan anak kandung), Ketika murid-murid atau anak-anak ini telah belajar sekian waktu dan sudah cukup akan ilmu, seorang Guru akan segera mengangkatnya sebagai pembantunya, yang disebut Khalifah. Jadi perkataan Semar : Bapa bendoro kulo, mbegeg ugeg-ugeg, sa ndulito hemel-hemel, adalah berarti : “Seorang Khalifah Pembantu dari seorang Guru Mursyid, yang sedang berzikir (rutin berzikir setiap hari), dengan cara yang benar (duduk tawaruk, kebalikan dengan posisi duduk takhiyat dalam Shalat), dengan suara sir (di dalam hati), dengan menggunakan tasbih sebagai alat menghitung, dengan pelan tapi pasti, dengan lafas Allah-Allah, dst. Perkataan Semar tersebut selalu diucapkan sebelum berdialog, memberikan petuah, petunjuk-nasihat kepada tuannya, mempunyai pengertian bahwa Seorang Khalifah dan Murid hendaknya sebelum melakukan aktifitas pribadi keseluruhannya di dalam masyarakat sebagai pengabdian (ibadah) kepada Allah SWT, ia terlebih dahulu berzikir kepada Allah (bukan hanya sekedar ingat kepada Allah) dengan cara yang diajarkan Guru Mursyid kepadanya. Begitu juga ketika sedang melakukan gerak/aktifitas hidup ia tetap berzikir/mengingat Allah (ketika berjalan, duduk, berdiri, berbaring). Perkataan Semar ini walaupun mengarah kepada seorang Khalifah yang sedang berzikir sendiri-sendiri, akan tetapi sesungguhnya merupakan contoh salah satu dari lima kewajiban ruhani yang wajib dikerjakan, sebab jika Semar harus berkata yang mengisyaratkan dengan bahasa isyarat sebagai simbol bahwa seorang Khalifah harus mengerjakan kewajibannya secara keseluruhannya, ini tentu saja akan membutuhkan kata-kata yang terlalu panjang dan bertele-tele sekaligus aneh didengar oleh orang Jawa sekalipun dan ini tidak efektif, maka Semar hanya mengucapkan satu bagian saja sebagai sampel keseluruhan, yaitu “berzikir secara pribadi” selain berzikir berjamaah, bersedekah, berubudiah, berziarah, dan beriktikaf (berkalwat). Kenapa Semar harus berkata mengisyaratkan sebagai hal yang wajib dikerjakan oleh seorang “Penempuh Jalan Ketuhanan” dengan sampel “Berzikir Pribadi” dan bukan sampel lain, sebabnya adalah bahwa di dalam dzikir pribadi terdapat pelemahan, pengekangan, pengendalian nafsu-nafsu buruk dan menumbuhkan-memunculkan nafsu-nafsu yang baik (sifat-sifat yang baik) seperti yang sudah disabdakan Rasulullah bahwa ada perang yang lebih besar dari perang badar yaitu “Bertempur Melawan Hawa Nafsu.” Dan di dalam Mahabharata disebutkan bahwa di dalam tubuh manusia (Widura) itulah tempat pertempuran antara Arjuna (ruhani manusia sebagai anak asuh Mursyid sebagai penerus misi Nabi-nabi, sebagai tumpuan pembawa sifat-sifat yang baik, Nama-nama yang Indah bagi Allah), melawan Karno (Jin Korin) sebagai anak asuh Iblis, sebagai pembawa pesan-pesan dan sifat-sifat Dajjal dengan 101 kedustaan, tempat pertempuran ini digambarkan dalam perang Bharatayuda di Padang Kuru Setra, tempat yang luas sebagai kuburan wangsa Kuru. Nafsu yang telah menjahir menjadi sifat-sifat buruk yang diemban oleh Karno (Korin yang setelah sekian lama diasuh oleh nafsu yang buruk) ini hanya dapat direndam dan dikendalikan oleh dzikirullah, sehingga yang muncul dalam tingkah laku kita adalah sifat-sifat kebaikannya (sifat Arjuna yang mengemban sifat baik). Nafsu-nafsu buruk dari Karno/Korin yang digambarkan sebagai Korawa 101 di dalam tubuh manusia akan bersarang di tujuh tempat, tujuh tempat itu adalah : 1. Kalbu (Hati Sanubari) Kalbu merupakan sentral dari ruhani manusia atau sanubari manusia. Kalbu ini terletak di dua jari di bawah susu kiri dan satu jari ke arah kiri. Sebagai Karno ia adalah tempat/sumber hawa nafsu kehendak Iblis/syaitan yaitu cinta dunia, kafir dan sirik. Untuk mengendalikannya dibutuhkan dzikir dengan dzikrullah sebanyak-banyaknya, sehingga hiduplah hati sanubari dan memunculkan kebaikannya (Arjuna) yaitu Iman, Islam, Tauhid dan Ma’rifatullah. 2. Ruh (berhubungan dengan paru-paru jasmani), tempat sifat binatang ternak. Terletak 2 jari di bawah ini susu dan satu jari ke arah kanan. Sifat (buruk) ini yaitu sifat binatang ternak yang suka mengikuti hawa nafsu, makan, tidur, seksual, bersenang-senang. Dan sifat yang tidak disukai oleh Allah dan RasulNya, yaitu sifat loba, tamak, rakus, bakhil. Dengan dzikrullah sebanyak sebanyak-banyaknya, maka yang tampak sifat kebaikannya, yaitu sifat menerima dengan syukur apa yang ditetapkan oleh Allah untuknya dan tetap berusaha menurut cara yang wajar. 3. Sirri (Hati Kasar Jasmani), adalah sifat binatang buas. Terletak dua jari dibawah susu kiri dan satu jari ke arah kanan. Sifat (buruk) ini akan nampak pada amarah/buas, bengis, pendendam, sukar berbuat onar, kekezaman , penganiayaan, permusuhan, penindasan dan kezaliman. Untuk membersihkannya dibutuhkan dzikirullah sebanyak sebanyak-banyaknya, sehingga berganti sifat (baik) kesempurnaan yaitu kasih dan sayang. 4. KHAFI (Limfa Jasmani), adalah sifat syaitaniah. Terletak dua jari dibawah susu kanan dan satu jari kearah dalam susu kanan. Menimbulkan sifat was-was, khasad, dengki, khianat, cemburu, dusta, busuk hati, munafik, mangkir janji. Untuk membersihkannya dibutuhkan dzikirullah sebanyak sebanyak-banyaknya, sehingga muncul sifat syukur, ridho, sabar dan tawakal. 5. AKHFA (Empedu Jasmani), adalah sifat yang hanya pantas dimiliki/bagi Allah. Terletak ditengah-tengah dada. Adalah segala sifat ke “AKU” an yaitu sombong, takabur, ria, loba, tamak, ujub (membanggakan diri) dan segala sifat keakuan yang lain akulah yang pandai, akulah yang kaya, akulah yang gagah/cantik dsb. Untuk mengendalikannya dibutuhkan dzikirullah sebanyak sebanyak-banyaknya, sehingga muncul sifat yang ikhlas, khusuk, tadaruk dan diam untuk bertafakur terhadap keagungan dan kebesaran Allah. 6. NATIKA (Otak Jasmani), adalah sifat panjang angan-angan Letaknya di ubun-ubun, adalah sifat panjang angan-angan, banyak khayal untuk merencanakan hal-hal yang jahat untuk memuaskan hawa nafsu. Untuk mengendalikannya dizikirkan sebanyak sebanyak-banyaknya, sehingga muncul nafsu mutmainah yaitu sifat sakinah, tentram, berfikir tenang. 7. KULLU JASAD (Setiap Anggota Tubuh) Menzikirkan seluruh latifah dan seluruh anggota badan beserta ruas-ruasnya dari ujung rambut sampai ujung kuku (urat, darah, tulang, daging, kulit, kuku, sel-sel, bulu roma dan pori-pori) sebanyak sebanyak-banyaknya, sehingga sifat malas, jahil dan lalai lenyap/terkendali. Dari tujuh tempat diatas lima tempat adalah sarang syetan yang paling besar seperti disebutkan dalam surat an-naas ayat 5 berbunyi “yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia” dan dua tempat selanjutnya adalah tempat pelarian setan, sehingga tidak ada ruang sekecilpun untuk setan jika kita membersihkan jasad kita dari nafsu-nafsu buruk dari korin yang setiap hari akan kembali jika kita tidak memeranginya, inilah perang yang lebih besar dari perang badar yaitu memerangi hawa nafsu. Jadi Semar adalah gambaran Sunan Kalijaga untuk akhlak Muhammad Rasulullah SAW. yaitu akhlak kita yang muncul sebagai akibat kita dengan ikhlas mengerjakan seluruh kewajiban ibadah kita kepada Allah, kewajiban jasmani dan ruhani, dengan metode yang benar, dengan bimbingan yang benar, sehingga Allah ridho terhadap langkah-langkah kita, bahkan jika menambah-nambahi dengan sunah-sunahnya maka Allah lebih mencintainya dan lebih dekat kepada kita, Allah beserta kita, hingga langkah kita adalah langkah-Nya, tangan kita adalah tangan-Nya, seperti dalam Al Qur’an “dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar” (Al Anfaal : 17) Dan Semar adalah seluruh tingkah laku kita didalam bermasyarakat yang diridhai oleh Allah sebagai akibat ketaatan kita kepada-Nya dengan mengikuti syariah Muhammad SAW. Akhlak (perilaku) yang seharusnya kita jalankan adalah akhlak Rasulallah SAW dan Rasulallah SAW diutus ke dunia untuk menyempurnakan Akhlak manusia. Dalam pendahuluan kitab wirid hidayat jati karya R.Ng. Ranggawarsita (1802-1873) mengatakan bahwa kitab ini berisi “ngelmu ma’rifat kasempurnaning Ngahurip”,artinya Ilmu Ma’rifat kesempurnaan Hidup, yang menjadi ajaran para wali. Jangka waktu kehidupan para wali sekitar tahun 1500 Masehi, dengan kehidupan Ranggawarsita sekitar tahun 1850 Masehi berjarak 350 tahun. Dapat diperkirakan bahwa ilmu ma’rifat ini telah menjadi pegangan sejak jaman demak melalui Pajang, Mataram Islam, Kartasura sampai zaman Surakarta. ngelmu ma’rifat kasempurnaning Ngahurip tersebut telah disebutkan dalam symbol-simbol dalam pewayangan diatas sehingga sama persis dengan dengan ajaran sunan mengenai dasar ilmu ma’rifat di bawah ini : Pohon sajarotul yakin yang disebut khayu/kehidupan/life berada di luar zat bertempat di alam akhdiyat (world of devine oneness) berpusat di kalbu (hati sanubari) merupakan sentral dari ruhani manusia atau sanubari manusia. Ia adalah tempat/sumber hawa nafsu kehendak iblis yaitu cinta dunia,kafir dan sirik. Cahaya/nur, yang disebut nur/light berada di luar kehidupan bertempat di alam wahdat (world of devine attributes) berpusat di ruh (berhubungan dengan paru-paru jasmani), tempat sifat binatang ternak. Sifat buruk ini yaitu sifat binatang ternak yang suka mengikuti hawa nafsu, makan, tidur, seksual, bersenang-senang. Dan sifat yang tidak disukai oleh allah dan rasulnya, yaitu sifat loba, tamak, rakus, bakhil Cermin, yang disebut miratul khayahi/rasa/felling berada di luar cahaya bertempat di alam wakhidayat (world of devine actions) berpusat di sirri (hati kasar jasmani), adalah sifat binatang buas. Sifat (buruk) ini akan nampak pada amarah/ buas, bengis, pendendam, suka berbuat onar, kekejaman, penganiayaan, permusuhan, penindasan dan kezaliman. Nyawa, yang disebut roh ilafi/sukma/soul berada di luar rasa bertempat di alam arwah (world of the souls) berpusat di khafi (limfa jasmani), adalah sifat syaitaniah. Menimbulkan sifat was-was, khasad, dengki, khianat, cemburu, dusta, busuk hati, munafik, mangkir janji. Dian, yang disebut landili/nafsu/pasions berada di luar sukma bertempat di alam misal (World of forms) berpusat di akhfa (empedu jasmani), adalah sifat yang pantas bagi allah. Adalah segala sifat ke “aku” an yaitu sombong, takabur, ria, loba, tamak, ujub (membanggakan diri) dan segala sifat keakuan yang lain : akulah yang pandai, akulah yang kaya, akulah yang gagah/ cantik dsb. Permata, yang disebut darah/akal/budi/reason berada di luar nafsu bertempat di alam ajsam (world ogf body) berpusat di natika (otak jasmani), adalah sifat panjang angan-angan, banyak khayal untuk merencanakan hal-hal yang jahat untuk memuaskan hawa nafsu. Dinding jalal (tirai), yang disebut jasad/body berada di luar akal bertempat di alam insane kamil (the perfect man) berpusat di kullul jasad/seluruh anggota badan beserta ruas-ruasnya dari ujung rambut sampai ujung kuku (urat, darah, tulang, daging, kulit, kuku, bulu roma dan pori-pori) yang menyebabkan sifat malas, jahil dan lalai lenyap/ terkendali. Dewa Ruci Cerita Dewa Ruci adalah cerita asli jawa yang diperkirakan ditulis pada pertengahan abad ke 15. Secara singkat karya ini dapat diceritakan sebagai berikut : Pada waktu dewasa Pandawa dan Kurawa mempunyai guru bernama Durna dalam ilmu keprajuritan dan kesaktian. Setelah Pandu Dewanata Raja Hastina meninggal dunia. Tahta sebenarnya harus diserahkan kepada Pandawa, namun Kurawa juga menginginkan tahta itu. Berbagai usaha dilakukan untuk melenyapkan Pandawa. Antara lain melalui guru Durna. Durna memerintah Bima untuk mencari tirta pawitra, air kehidupan. Bima disuruh mencarinya di gunung candra muka. Dua raksasa menghadangnya di jalan. Mereka dibunuhnya dan ternyata mereka penjelmaan dewa indra dan bayu, namun tidak menemukan tirta pawitra. Maka Bima kembali ke resi Durna, kemudian disuruh mencari di pusat samudra. Para Kurawa berharap dalam perjalanan berbahaya ini Bima akan menemui ajalnya. Pada perjalanannya Bima dihalangi oleh seekor naga besar, akan tetapi dapat dibunuphnya. Akhirnya Bima sampai di tempat yang sunyi senyap dan hening. Maka Bima berjumpa dengan Dewa Ruci yang sudah mengetahui siapa Bima dan apa maksud kedatangannya di samudra. Dan Bima disuruh masuk ke tubuh melalui telinga Dewa Ruci dan disinilah Bima memperoleh berbagai pengalaman melihat warna-warni beraneka ragam dan akhirnya muncul wujud seperti boneka gading. Maka Dewa Ruci berkata “itulah hidup di dalam dirimu, Bima”. Dan Bima menyadari telah mendapatkan apa yang ia cari tirta pawitra, air kehidupan. Filsafat yang didapatkan di dalam serat Dewa Ruci ini adalah filsafat mistika (Mistical Philoshophy) yang diperoleh tidak melalui penalaran rasional, melainkan melalui penghayatan batin (inner experience) dengan jalan dzikir (meditation). Di dalam keadaan kesadaran dzikir manusia memperoleh pengetahuan penghayatan (experiential knowledge). Pengetahuan ini dituangkan dalam cerita kiasan (majas) perjalanan Bima mencari air kehidupan. Bima mendaki gunung, masuk samudra dan bertemu Dewa Ruci serta masuk ke tubuhnya dan akhirnya melihat boneka gading. Ini semua menggambarkan keakuan (ego) mengatasi kesadaran aku (ego consciousness), masuk alam tak sadar (the unconscious), bersatu dengan pribadi (the self) dan memperoleh pengetahuan dengan melihat hakikat hidup sebagai boneka. Tergambar disini proses transendental dan transendensi dari kesadaran ego atau panca indrawi menuju kesadaran pribadi (self consciousness) dan akhirnya mencapai kesadaran ilahi atau alam semesta (devine or cosmic consciousness). Seluruh proses ini menjadi experiential knowledge dan dituangkan dalam conceptual knowledge pada antropologi dan dan epistemology mistika. Candra jiwa manusia (human image) tidak berhenti pada aku saja, melainkan dapat mengalami tranformasi dari aku ke pribadi dan aku mutlak (ego-self-absolute being). Pengetahuan mutlak (absolute knowledge) diperoleh dengan manunggalnya subyek dan obyek (union of subject and object). Cerita Dewa Ruci ini dapat dianggap sebagai mitos yang menggambarkan penghayatan batin seseoang. Bukan termasuk alam fisika melainkan alam psikologi. Cerita Dewa Ruci ini tidak mungkin dipahami dengan logika Aristotales. Tetapi dapat dipahami dengan logika paradoksal (paradoxical logic). Cerita ini serat dengan makna yang mendalam dalam kisah serupa jika dikupas dan dikaji cerita gubahan para wali Allah ini memberikan pengajaran sebagai berikut : Bimasena diperintah Gurunya Resi Durna, agar mencari tujuh sarang angin di sebuah gunung. Bima langsung pergi ke gunung, karena kecepatan langkahnya, 20 menit kemudian Bima sudah sampai ditepi hutan di kaki gunung. Langkah Bima dihadang Raksasa Buto Cakil, tanpa banyak kata Cakil menerjang Bima dengan sepenuh kekuatan, karena masuk daerah kekuasaannya tanpa permisi, Cakil terkejut karena Bima tidak bergeser sedikitpun dari terjangan Cakil, lalu Cakil takut senjata andalannya keris dibuang dan Ia melarikan diri. Ini adalah gambaran dari seseorang manusia yang sedang duduk berzikir, berselang waktu 20 menit berlalu, pinggang terasa pegal-pegal dan lutut dan kaki terasa kesemutan, duduk terasa tidak nyaman lagi, lalu gerakan tasbih dihentikan, dzikir selesai dan tasbih dilempar, dzikir ditutup dan selesai sebelum waktunya. kewajiban dzikir diputuskan ketika belum selesai atau baru memulai berzikir 20 menit, karena pikiran terpedaya pada pinggang, lutut dan kaki, sehingga perasaan hati tidak dapat berkonsentrasi dan pikiran melayang pergi kemana-mana, itulah manusia yang disimbolkan sebagai Cakil. Cerita selanjutnya, dengan kisah yang semestinya. Cakil menerjang Bima, Bima tidak bergeser sedikitpun walau diterjang Cakil dengan sekuat tenaga, Cakil tidak tinggal diam dan dicabut kerisnya, tetapi karena kalah cepat dan tenaga, Cakil tewas ditangan Bima, Bima melanjutkan pendakiannya ke gunung, setelah sampai ke gunung, dicarilah tujuh sarang angin disemak belukar-dibawah batu di pohon-pohon, di dalam gua dan sekitarnya, tujuh sarang angin itu belum juga diketemukan, muncul dari dalam gua, raksasa yang mengerikan, karena merasa terganggu dengan kehadiran Bima yang memporak-porandakan tempat tinggalnya yang selama ini aman, terjadilah perang tanding yang seru, dan raksasa terbunuh. Inilah gambaran setelah seorang berzikir dengan khusyu, konsentrasi tinggi dan dzikir selesai dengan jumlah dan waktu yang sudah sesuai dengan derajat dan kedudukan seseorang, maka sesungguhnya ia telah menemukan dan melalui tujuh sarang angin, yaitu tujuh tempat yang disebutkan diatas yang sesungguhnya adalah pengendalian hawa nafsu buruk sehingga dapat memunculkan tingkah laku yang baik, akhlak yang baik, akhlak Rasulallah SAW. Maka kemudian Bima mengetahui apa arti sarang angin, lalu Bima pulang menghadap Gurunya, belum lagi Bima melaporkan hasil yang didapat, Resi Durna sudah menghadang didepan pintu untuk memberikan tugas yang baru atau tugas selanjutnya, “Sekarang juga berangkatlah carilah Air Perwita Sari yang letaknya di tengah samudra”. Karena ketaatan Bima kepada Gurunya, setelah meminta restu kepada Guru, Bima langsung berangkat pergi lari dengan kecepatan angin, anugerah dari bapaknya (Dewa Bayu), dalam sekejap Bima sudah sampai didepan sebuah samudra. Bima melompat dan berenang dengan sekuat tenaga, baru saja sampai ke tengah samudra, Bima dihadang raksasa Buto Rambut Geni, terjadilah pertarungan yang dasyat, beruntung sebelum Bima kelelahan (karena harus berenang dan menyelam) si raksasa dapat ditaklukkan dan dibunuh. Sebelum Bima bernapas panjang, seekor Naga Raksasa muncul dengan mulutnya yang membuka lebar-lebar dipermukaan samudra dan badannya ada di dalam air, sebelum Bima berfikir apa yang harus dikerjakan, ternyata badan ular sudah membelit tubuhnya, dada jadi sesak nafas, pinggang terasa mau putus, dan kakinya kesemutan karena saluran darah terasa terhenti, bahkan dada, perut dan kaki lama-lama terasa hilang, satu-satunya yang dapat digerakkan adalah tangannya, dengan sisa-sisa tenaga yang masih bisa dimiliki, ditusuklah kepala naga dengan kuku pancanaka yang tajamnya bagaikan pedang, kuku tembus dari bagian bawah kepala hingga bagian atas kepala naga sehingga sang naga tewas. Kemudian sang naga menghilang, dan muncul seorang anak kecil yang menyerupai dirinya yaitu Dewa Ruci, lalu Bima dianugerahi air perwita sari. Bagian cerita ini menggambarkan setelah seseorang menyelesaikan dzikir di tujuh tempat tersebut, maka ia melanjutkan dengan mengucap tahlil “La ilaha illa Allah”, ketika dzikir ini berlangsung dengan tarikan dan hantaman nafas panjang maka lama-kelamaan badan merasa panas (berhadapan dengan Buto Rambut Geni) hingga bercucuran keringat (masuk ke samudra), ketika dzikir ini berlangsung terus, lama-kelamaan badan,perut dan kaki terasa kesemutan, lalu kaki mati rasa (dibelit oleh ular), dan setelah dzikir selesai badan terasa segar secara keseluruhan (lepas dari lilitan ular) kemudian Sang Guru (Dewa Ruci) memberikan karunia agar ruhani hidup dalam menjalani aktifitas setiap hari (air perwita sari yang berarti air penyejuk untuk kehidupan ruhani).