EPOS MAHABHARATA

Cerita Singkat Mahabharata (Pandawa dan Kurawa) Hastinapura didirikan oleh Maharaja Hastimurti, setelah tua digantikan oleh putra mahkota Pratipa. Maharaja Pratipa digantikan oleh putra mahkota Sentanu. Prabu Sentanu menikah dengan Dewi Ganggawati dan dikaruniai seorang putra bernama Dewabrata atau Bisma. Prabu Sentanu juga menikah dengan dewi Setyawati dan dikarunia dua anak yang bernama Citrangada dan Citrawirya atau Citrasena. Prabu Citrangada menggantikan ayahnya Prabu Sentanu yang sudah tua, Ia tidak lama memerintah karena tewas dalam sebuah peperangan. Singgasana diteruskan adiknya Citrasena. Prabu Citrasena tidak lama memerintah karena terserang penyakit. Kedua raja muda meninggal sebelum mempunyai keturunan. Dewabrata sudah bersumpah menjadi Brahmacarin, yaitu tidak menikah, agar adiknya dari ibu Dewi Setyawati, istri kedua Prabu Sentanu, bisa menjadi Putra Mahkota dan naik tahta Hastinapura. Akhirnya sidang petinggi Hastanipura memutuskan agar Begawan Abiyasa dari bukit Sapta Arga naik tahta. Abiyasa adalah putra dari ibu Dewi Setyawati dengan Begawan Parasara, sebelum akhirnya menikah lagi dengan Prabu Sentanu. Dewi Setyawati putri raja Basukethi dari kerajaan Wiratha, meninggalkan kerajaan untuk mencari kesembuhan dari “keringat berbau busuk” yang dideritanya. Ia mendapat petunjuk bahwa penyakitnya akan sembuh oleh seorang Brahmana yang menyeberangi Sungai Yamuna. Ia pergi ke arah timur ke Sungai Yamuna. Disana ia menjadi anak angkat tukang sampan dan menggantikan pekerjaan ayah angkatnya. Karena penyakitnya ini, tidak ada orang yang mau naik perahu sehingga ia diasingkan oleh orang-orang sehingga menambah siksaan batinnya. Ayah angkatnya menghiburnya hingga ia tidak menyerah dan tetap tabah. Hingga pada suatu saat Begawan Parasara menumpang perahu itu dan ia satu-satunya penumpang perahu. Begawan Parasara terkesima, karena melihat dari dahi putri ini memancar sinar. Ia tahu putri ini bukanlah orang sembarangan, ia akan melahirkan seorang keturunan yang mulia seorang raja. Maka Parasara mulai mendekatinya dan bertanya, lalu Dewi Setyawati menceritakan tentang dirinya. Dengan kesaktian Begawan Parasara, penyakit Dewi Setyawati tersembuhkan, bahkan dalam sekejap berubah menjadi putri yang harum semerbak. Lalu Setyawati dijadikan istri oleh Begawan Parasara, dan dikarunia seorang anak laki-laki yang diberi nama Abiyasa. Anak ini menjadi dewasa seketika, bahkan sudah mandiri dan kuat untuk berpisah dengan ibunya. Maka Abiyasa diajak untuk mengikuti Ayahnya dan bertempat tinggal di Bukit Sapta Arga. Dewi Setyawati tetap menjadi tukang sampan, sampai akhirnya Prabu Sentanu menjadikannya sebagai istri, sebab Dewi Ganggawati telah lama meninggalkan Prabu Sentanu, pulang ke kahyangan. Setelah Abiyasa naik tahta Hastinapura, ia dianugerahi gelar Maharaja Krisna Dwipayana. Untuk mengisi tahta Hastinapura yang kosong, juga untuk menyambung garis keturunan Wangsa Bharata yang nyaris terputus, maka Abiyasa menikahi janda-janda dari Prabu Citranggada yaitu Dewi Ambika dan dari Prabu Citrasena yaitu Dewi Ambalika. Dewi Ambika dikaruniai seorang putra yang tampan tetapi buta kedua matanya sejak lahir yang bernama Dustarasta atau Destarata. Anak sulung ini mempunyai kekuatan dasyat pada kedua telapak tangannya. Dewi Ambalika melahirkan seorang putra yang tampan bermuka kepucatan dan kepala tengeng/miring ke kanan, diberi nama Pandudewanata. Dan ia menguasai segala jenis senjata perang. Maharaja Krisna Dwipayana juga mengambil seorang hamba sahaya sebagai istri ketiga, yaitu Dewi Datri, ia melahirkan seorang putra yang tampan dan diberinama Widura. Putra ketiga ini (dianggap sebagai titisan Batara Darma) sejak masih remaja sudah menguasai sastra dan Weda, sehingga ia menguasai tentang darma, sastra, falsafah dan ketatanegaraan. Di negara Mathura, Prabu Kunthiboja berduka karena, Putri Sekar Kedaton Mathura yang bernama Dewi Prita tiba-tiba hamil. Semula adalah prakarsa Resi Druwasa yang memberikan Ajian atau Mantra Pemanggil Dewa, ia akan melahirkan anak yang mempunyai keagungan seperti Dewa yang dipanggilnya. Dewi Prita tanpa sengaja merapal (membaca mantra) untuk mendatangkan “Batara Surya”. Atas bantuan Resi Druwasa maka lahirlah seorang putra yang tampan yang sudah menggunakan subang ditelinganya dan perisai didadanya. Anak ini diberi nama Karno, karena lahir melalui telinga kanan ibunya, tidak melalui rahim sebagaimana mestinya. Bayi ini kemudian dimasukkan kedalam peti perak dan di hanyutkan di sungai Gangga. Suatu ketika bayi ini diketemukan oleh seorang kusir kereta atau sais istana Hastinapura yang bernama Adirata kemudian diangkatlah bayi itu sebagai anaknya, yang secara kebetulan Adirata belum mempunyai anak dan sedang memohon kepada Dewata dengan bertapa di tepi Sungai Gangga untuk mendapatkan seorang putra. Sesudah dewasa Karno mengabdi ke Hastinapura kepada Kurawa dan diberi kedudukan sebagai Adipati di kerajaan Awangga. Dewi Prita masih tetap gadis dan suci setelah melahirkan. Peristiwa ini tidak sempat tersiar keluar dari istana negara Mathura. Untuk menyatakan kesukacitaannya Prabu Kuntiboja mengadakan sayembara. Barangsiapa yang dipilih oleh Dewi Prita dialah yang akan menjadi suaminya. Sayembara ini akhirnya dimenangkan oleh Pandudewanata. Bahkan Pandu memperoleh dua putri lain. yaitu Dewi Madrim adik dari Narasoma dari negara Madras atau Mandaraka dan Dewi Gendari kakak Sakuni dari negara Plosojenar. Setiba dinegeri Hastinapura Pandudewanata menyerahkan ketiga putri ini kepada kakaknya Dustarastra yang buta untuk di “pilih” salah seorang untuk dijadikan istrinya. Dengan sentuhan jari jemarinya, ia tahu bahwa Dewi Prita akan melahirkan 3 putra, Dewi Madrim akan mempunyai 2 putra dan Dewi Gandari akan melahirkan 100 putra. Maka Dustrasastra memilih Gandari sebagai istrinya. Pernikahan Pandudewanata dengan Dewi Prita dan Dewi Madrim, serta Destarasta dengan Dewi Gandari dilaksanakan dengan naik tahtanya Raden Pandudewanata menjadi Maharaja Hastinapura. Maka Begawan Abiyasa atau Maharaja Krisna dwipayana kembali ke Sapta Arga. Dustarasta menikah dengan Dewi Gandari dan dikaruniai 100 orang putra dan satu orang putri, yang kemudian dikenal dengan sebutan Kurawa 100. Dewi Prita setelah menikah berganti nama menjadi Dewi kunthitalibranta. sebelum Pandudewanata mempunyai putra dari pernikahannya dengan Dewi kunthitalibranta dan Dewi Madrim, ia dikutuk oleh Resi Kimindana akan mati jika berhubungan cinta dengan istrinya karena suatu kesalahan telah membunuh kijang penjelmaan Resi tersebut tanpa sengaja. Maka Pandudewanata meninggalkan Hastinapura bersama kedua istrinya dan untuk sementara Hastinapura digantikan oleh kakaknya, Dustarasta. Setelah Pandudewanata merasa tidak bisa membebaskan dari kutukan tersebut, maka ia menyuruh istrinya untuk menggunakan mantra pemanggil Dewa. Dewi Kunthitalibranta memanggil Dewa Darma (dewa peradilan dan kematian) dan lahirlah Yudistira, seorang kesatria yang berwatak brahmana. Kemudian Dewi Kunthi memohon anugerah Batara Bayu (dewa Angin), maka lahirlah Bimasena, seorang ksatria gagah perkasa yang memiliki kekuatan fisik yang dasyat, jujur dan adil dalam bertindak. Dan untuk ketiga kalinya Dewi Kunthi memanggil Batara Indra (dewa Langit dan dewa Perang), maka lahirlah Arjuna, seorang ksatria yang tampan tiada bandingan yang ahli menggunakan berbagai macam senjata perang, ia juga mempunyai sifat Dewa Wisnu (pelindung dan pemelihara dunia), serta sifat Resi Nara sang Maha Senapati perang Dewata, sehingga Arjuna tidak pernah gentar dalam perang. Arjuna juga menjadi lambang kejantanan/lelaki di dunia, sehingga dikenal sebagai ksatria Lelananging Jagat. Dewi Madrim setelah diberi petunjuk oleh Dewi Kunthi segera memohon anugerah dewa kembar Aswin (dewa petanian, peternakan dan kemakmuran), maka lahirlah anak dengan nama Pinten atau Nakula dan Tangsen atau Sahadewa, ksatria yang tampan dan ahli menggunakan pedang. Maka kelima anak Pandudewanata ini dikenal dengan nama Pandawa Lima. Pandawa lahir dihutan atas pertolongan dan anugerah para Dewa, mereka hidup ditempa penderitaan dan keprihatinan. Ketika Yuddistira berusia 16 tahun, Pandudewata meninggal dan Dewi Madrim menyusul belapati, sehingga pandawa kecil sudah menjadi anak yatim. Sepeninggal Pandu, Pandawa lalu dibawa ke istana Hastinapura bergabung dengan Kurawa, saudara tua sepupu, dibawah perlindungan Dustarastra. Pandawa dan Kurawa dididik oleh Dewabrata dan Widura dalam hal darma, sastra, weda dan ketatanegaraan, digembleng dalam penggunaan senjata dan strategi perang oleh Resi Kripa dan Resi Durna. Kurawa yang khawatir terhadap masa depannya dengan melihat garis tahta dan kemajuan yang pesat dari ilmu saudara muda sepupunya yang unggul dalam segala bidang, maka Kurawa bermaksud untuk menyingkirkan Pandawa di Rumah Kardus atas prakarsa Patih Sakuni. Berkat nasihat Widura para Pandawa dan ibunya bisa meloloskan diri dari bencana kebakaran. Mereka hidup kembali dalam hutan dalam beberapa tahun dengan menyamar sebagai Brahmana, hingga Pandawa berhasil memenangkan sayembara untuk memperebutkan Dewi Drupadi, Putri Kedaton dari negara Pancala. Pandawa dipanggil kembali ke Hastinapura, dan atas saran Bisma dan Widura, Pandawa mendapatkan hutan Wanamarta atau Wisamarta, hutan bekas pusat kerajaan Hastinapura zaman dahulu (zaman kerajaan Indrapura). Dalam waktu singkat berdirilah kerajaan Indraprastha atau Amarta yang megah dengan Yudistira sebagai Maharaja Indraprastha. Arjuna bertempat tinggal di kasatria Madukara, Bimasena di kasatria Jodipati, Nakula dan Sadewa di kasatrian Sawojajar. Dengan hal ini Kurawa iri melihat keberhasilan saudara muda sepupunya. Maka dengan siasat main dadu yang dipelopori oleh Patih Sakuni. Pandawa kalah dalam permainan dan sebagai taruhannya, Pandawa dan istrinya Dewi Drupadi meninggalkan Amarta dan masuk hutan Kamyaka. Pandawa harus hidup dalam hutan selama 12 tahun dan satu tahun hidup dalam suatu negara yang tidak boleh diketahui identitasnya. Jika dalam masa penyamaran dapat diketahui oleh pihak lain, maka Pandawa harus mengulangi lagi masuk hutan selama 12 tahun, seperti semula. Keprihatinan Pandawa dari kehidupannya semenjak ayahnya masih hidup hingga masuk hutan kembali untuk kedua kalinya bersama ibunya, menyebabkan ikatan persaudaraan mereka sebagai kakak beradik tak dapat dipisahkan oleh apapun, sehingga mereka merasa menjadi satu kesatuan yang utuh. Maka mereka berikrar sehidup semati, seiya sekata, jika satu menderita maka menderitalah semuanya, jika salah satu mati maka matilah semuanya. Jika mendapat kemuliaan maka mendapat kemuliaan semuanya. Sebelum meninggalkan Hastinapura, Ibu Dewi Kunthi dititipkan pada pamannya, Widura di Panggombakan, Arimbi dititipkan di Pringgodani, Sumbadra dan Abimanyu dititipkan pada Sri Krisna. Dan sebelum pergi ke hutan Sri Krisna bersumpah pada para Pandawa dengan mengatakan “Dengarkan sumpahku, sejak saat ini aku akan bersama Pandawa baik suka maupun duka. Aku tidak akan meninggalkannya”. Dan dengan demikian kekuatan Wisnu yang terbelah pada Krisna dan Arjuna telah menyatu kembali untuk menghancurkan keangkaramurkaan. Selain Wisnu keduanya juga penjelmaan Maha Senapati Dewata yang bernama Resi Nara dan Resi Narayana, jika saatnya yang dijanjikan tiba keduanya akan meratakan kejahatan. Ketika Pandawa meninggalkan gerbang istana Hastinapura menuju tempat pembuangan di hutan, Batara Narada datang ke istana Hastinapura dan berkata pada Kurawa dan sesepuh Hastinapura, “14 tahun terhitung mulai hari ini, bangsa Kurawa akan musnah,....”, lalu pulang kembali ke kahyangan. Resi Domya menyertai Pandawa di hutan Kamyaka selama 12 tahun, dan masa penyamaran selama satu tahun disebuah negeri yang tidak boleh diketahui pihak Kurawa akan keberadaannya. Maka Resi Domya berkata “Pergilah dan menyamarlah di negeri Wiratha,...”. Maka Pandawa pergi ke Wiratha. Yudistira menyamar sebagai guru Weda, juga sebagai ahli filsafat, sastra, dan ketatanegaraan, dengan nama samaran Kangka ia menemani sang Raja. Bimasena menyamar sebagai juru masak istana dengan nama Bilawa. Arjuna menyamar sebagai guru tari dan gamelan untuk putra-putri dan kerabat raja dengan nama Kandhiwrihatnala. Nakula menyamar sebagai tukang kuda istana dengan nama Damagranti. Sadewa menyamar sebagai gembala dengan nama Tantripala. Drupadi menyamar menjadi dayang-dayang permaisuri raja dengan nama Sairandri. Suatu hari setelah Pandawa menyelesaikan masa pembuangan selama 13 tahun, Duryudana bersekutu dengan Susarma raja Trigata mengerahkan Kurawa mengadakan penyerbuan ke negeri Wiratha, Sebab Panglima Matsya, Kicakarupa terbunuh secara misterius yang sesungguhnya Kicakarupa telah dibunuh oleh Bilawa, juru masak istana, karena mengganggu Sairandri, sang pembantu permaisuri raja. Dengan kematian panglima Kicakarupa, negeri Matsya kehilangan benteng yang melindungi negerinya. Itulah sebabnya Kurawa dan Susarma menyerang Matsya. Ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Selain negeri Matsya kehilangan pelindung/benteng negerinya sehingga mudah ditaklukkan, juga kematian Kicaka sendiri adalah sebuah misteri, sebab saat itu hanya ada tiga ksatria yang setara ketangguhannya, yaitu Balarama dari Mathura, Bima dari Pandawa dan Kicaka mahapatih negeri Matsya. Duryudana dan Susarma berfikir bahwa jika Kicaka sampai mati, maka tak lain tak bukan pembunuhnya pastilah Bima. Jika keberadaan Bima bisa terlacak/diketahui, maka Pandawa mesti masuk ke hutan kembali selama 13 tahun seperti perjanjiannya. Maka benar seperti dugaan Duryudana dan Susarma, bahwa pembunuh Kicakarupa adalah Bilawa (Bima) dan Sairandri adalah Drupadi istri Pandawa, tetapi menurut perhitungan almanak, masa pembuangan dan penyamaran telah berakhir satu hari sebelum penyerangan ke Matsya. Dan penyerbuan ke Matsya pun gagal, karena Wiratha dibantu oleh para Pandawa yang sedang menyamar. Masa Pembuangan Pandawa selama 13 tahun telah berakhir, karena itu Pandawa meminta kembali negeri Indraprastha pada Kurawa. Kurawa menolak, maka pecah perang Bharatayuda, yaitu peperangan yang terjadi antara sesama keturunan darah Bharata. Pandawa dan sekutunya di satu pihak melawan Kurawa dan sekutunya di pihak lain berperang di padang Kurusetra. Pasukan Pandawa dan sekutunya terdiri dari 7 kelompok, yaitu bala tentara Indraprastha dipimpin Abimanyu, Pringgodani dipimpin Gatotkaca, Wiratha dipimpin Prabu Durgandana, Magada dipimpin Prabu Jayatsena, Cedhi dipimpin Prabu Dresthakethu, Satwanti dipimpin Prabu Suyudana dan Pancala dipimpin oleh Prabu Drupada. Seluruh prajurit di pihak Pandawa berjumlah 7 haksasini, yaitu terdiri dari : 765.450 prajurit pejalan kaki, 459.270 prajurit berkuda, 153.090 prajurit kereta dan 153.090 prajurit berkendaraan gajah. Seluruh prajurit dipihak Kurawa berjumlah 11 haksasini. Pada hari pertama, dipihak Kurawa dipimpin oleh Maha Senapati Bisma, dan dipihak Pandawa oleh Maha Senapati Sweta. Arjuna menjadi bimbang untuk melawan saudaranya, para guru dan orang tua mereka, sehingga kresna memberikan wejangan kepadanya tentang hakikat dan kewajiban manusia. Wejangan ini pada dikenal dengan nama Bhagawat Gita atau Nyanyian Tuhan. putra-putra Wiratha tewas diantaranya Pangeran Utara, Wratsangka dan Panglima Sweta. Sementara di pihak Kurawa Rukmarata tewas. Pada hari kedua Pandawa dipimpin oleh Maha Senapati Dresthayumna. Dan di pihak Kurawa Jayawikatha, Dirgabahu, Ugrasewa, Citrakunda, Wiwingsati dan Wikala tewas. Hari ketiga dan hari keempat, banyak putra Kurawa tewas. Hari ke lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, Pada hari ke-10 Bhisma gugur dengan tertancap anak panah yang banyak dan menembus sampai punggung, sehingga ia tergeletak diatas anak panah badannya tidak menyentuh tanah. Namun Bisma tidak gugur seketika karena ia sendiri yang menentukan waktu kematiannya. Bisma menghembuskan napasnya setelah ia menyaksikan kehancuran pasukan Korawa dan setelah ia memberikan wejangan suci kepada Yudistira setelah perang Bharatayuddha selesai. Drona menggantikan Bisma menjadi panglima Kurawa, Kemudian Karna maju ke medan perang. Pada hari ke 14, dipihak Pandawa Abimanyu dan Gatotkaca tewas, dan dipihak Kurawa Lesmana, Susarma, Jayajatra, Resi Sapwani dan sampai hari itu setengah Kurawa tewas. Gatotkaca dan Abimanyu gugur. pada hari ke-15 Dartadjumena membunuh Drona. dipihak Kurawa Burisrawa dan Resi Durna tewas. Hari ke 16 Karno menjadi panglima Kurawa menggantikan Drona, dihari itu pasukan Kurawa tinggal seperempat dari semula, tersisa Karno, Duryudana, Dursasana dan Kartawarma. Bhima dan Arjuna mengamuk atas kematian anak mereka. Bhima membunuh Dursasana, Arjuna membunuh Karna dengan panah yang diperoleh dari bertapa hari ke-17. Hari ke 17 Salya menjadi Mahasenopati perang Kurawa. Hari itu Dursasana, Sakuni, Salya dan Duryudana tewas Dimalam hari Aswatama membunuh Drustajumna, Pancawala dan para wanita. Hari ke 18 perang sudah berakhir. Pandawa keluar sebagai pemenang. Pandawa menerima kembali bumi warisan Hastina keseluruhan termasuk Indraprastha. Yudistira naik tahta Hastinapura. Suatu hari Batara Narada datang dihadapan Yudistira katanya : “Anakku, karena restu Krisna, keberanian Arjuna dan kekuatan Dharmamu, kalian menang dan kini engkau menjadi penguasa bumi, berbahagaialah engkau”. Setelah perang besar dipadang Kurusetra, Krisna masih memerintah Dwaraka selama 36 tahun (bangsa Yadawa, Wrisni, Bhoja musnah, Balarama dan Krisna meninggal). Setelah mendengarkan kehancuran bangsa Yadawa, Yudistira yang telah memerintah Hastinapura selama 37 tahun, menobatkan Parikesit menjadi Raja Hastinapura. Pandawa dan Drupadi meninggalkan Hastina, berziarah ketempat-tempat suci dan akhirnya sampai ke pegunungan Himalaya. Dalam pendakian, satu persatu jatuh kelelahan dan mati, yang pertama adalah Drupadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, Bima, Yudistira dijemput Dewa Indra ke surga (tanpa kematian). Begawan Abiyasa anak Resi parasara adalah orang yang merumuskan dan memberikan epos Mahabharata ke dunia. Ganapati adalah orang yang menulis kisah Mahabarata yang dibacakan oleh Abiyasa. Tradisi mengatakan, Narada mengisahkan kisah ini kepada para Dewa. Resi Suka (Putra Abiyasa) mengajarkan kepada para Gandarwa, raksasa dan yaksa, Waisampayana yang saleh dan terpelajar (murid utama Abiyasa) mengisahkan epos ini untuk kebaikan umat manusia atas permintaan Maharaja Janamejaya raja Hastinapura, Putra Parikesit, saat melakukan upaca kurban Agung. Glosarium Mahabharata  Setya Wati (Setya = setia, prasetya, janji, tekad. Wati = dunia, jagat; putri). Putri Prabu Basukethi dari kerajaan Wiratha/Matsya, menderita penyakit “keringat berbau amis” semenjak ramaja. Seorang wanita yang setia, lain kata : wanita yang memelihara kehormatannya, bukan wanita pezina, wanita yang bermartabat, wanita yang utama, terpilih, suci, taat dan diberkati. (adalah Siti Mariam)  Abyasa (Abi = lebih, bagus, baik, Aby = bapak, guru. Yasa = membuat; Yasan = buatan, hasil karya; Yasadarma = ayah Wiyasa = membangun). Begawan dari Sapta Arga, putra Parasara dengan Dewi Setyawati, yang lahir di daratan/perahu ditengah Sungai Yamuna, ia langsung menjadi dewasa ketika lahir dan sudah kuat berpisah dengan ibunya. Abi berarti Bapak, Abah, Buya, Ayah, dan Yasa berasal dari bahasa Ibrani Yesyu/Yesyua/Hoshua/Yehoshua yang berarti “Juru Selamat”, orang-orang Nasrani mengatakan “Yesus” dan orang Islam mengatakan “Isa”, yaitu Isa Ibnu Maryam, Nabi Isa AS.  Sapto Argo (Sapto = tujuh, Argo = gunung, bukit). Tempat tinggal Begawan Abiyasa., Saptoargo = tujuh gunung, tujuh tempat yang teringgi, didalam Al Qur’an di sebut langit tujuh, tempatnya para Nabi-nabi sebelum hari kiamat tiba, Nabi Muhammad SAW ketika perjalanan Isra berjumpa dengan Nabi Isa AS di Langit yang ke 2 (Abiyasa = Nabi Isa AS).  Dusta Rastra (Dustha = bohong, jahat, buruk. Rastra = warastra, senjata, panah). Bapak Kurawa, putra Prabu Krisnadwipayana dengan Dewi Ambika dari Kerajaan Hastinapura, buta sejak dari kelahirannya dan mempunyai kesaktian ditelapak tangannya. Kedustaan yang banyak, 100 kedustaan, Sang pendusta, Dajjal sang Pendusta yang terakhir yang muncul di akhir zaman, buta mata kanannya dan mempunyai surga di telapak tangan kirinya dan neraka ditelapak tangan kanannya.  Pandu Dewanata (Pandu = panduan, pedoman; Pandhuk = bertemu, berjumpa, berdamai; Pandum : pembagian, anugrah, karunia. Déwa = dewa; Déwaji = raja yang arif bijaksana; Déwana = cahaya, termashur. Nata = raja, menata; Jagatnata : penata dunia; Naranata = raja). Bapak Pandawa, putra Prabu Krisnadwipayana dengan Dewi Ambalika, kepalanya agak tengeng kekanan sejak lahir, setelah menikah kena kutuk Begawan Kimindana yaitu akan menemui kematian jika bermain cinta dengan istrinya, mati muda. Pandu berarti tuntunan-acuan-pedoman yaitu Kitab Suci, Dewa berarti orang yang badannya diliputi cahaya atau sinar yaitu Nabi, Nata berarti raja atau penguasa tertinggi. Jadi Pandudewanata berarti Nabi Yang Agung yang diberi Kitab Suci atau Ulama Pewaris Nabi dengan Al Qur’an dan Hadisnya. Kepalanya tengeng kekanan, ini berarti orang yang mengutamakan kebenaran/hal-hal yang baik. Mati muda ketika bermain asmara dengan istrinya, artinya orang yang sejak muda mengekang/mematikan hawa nafsunya dari hal-hal yang bersifat keduniawian.  Widura (Widura = pandai, bijaksana; Widuri = baiduri, batu permata, nama tumbuhan sejenis kapas). Putra Prabu Krisnadwipayana dengan Dewi Datri, seorang perempuan dari kalangan rakyat jelata. Penasihat Hastinapura, ia ahli hukum, sastra, weda, falsafah, ketetnegaraan, ia mengusainya sejak remaja. Dari kata “Baiduri” yang berarti batu pertama, mutu manikam, raja/sebaik-baiknya batu atau batu berharga. Widura berarti MANUSIA, diciptakan Allah SWT dalam keadaan sebaik-baiknya makhluk. Manusia makhluk yang cerdas dan makhluk yang senantiasa belajar sedari kecil hingga masuk ke liang kubur. Ia juga makhluk yang bijaksana.  Kunthi Talibranta (Kunthi = halus ; Kunthara = budi daya, tingkah laku; Kunthing = kecil, kurus; Kunthiwiri = berulang-ulang datang. Tali = tali; Pratali = peningset, pengikat. Branta = asmara, cinta). Putri dari Sura dan ikut Prabu Kunthiboja sejak kecil, melayani keperluan Resi Druwasa seorang pensehat spiritual Prabu Kuntiboja sehingga diberi “ajian/mantra pemanggil dewa” dan ia akan mempunyai putra yang rupa dan sifat-sifatnya persis seperti dewa yang dipanggilnya, sebab Resi Druwasa melihat dengan mata batinnya bahwa putri ini akan mempunyai kemalangan/nasib yang buruk dikemudian hari yang berkaitan dengan suaminya. Selagi muda bernama Dewi Prita dan semenjak menikah dengan Pandu dewanata berganti nama menjadi Dewi Kunthi talibranta. Ibu para Pandawa dan Karno. Kunthi berarti kuat, Tali berarti ikatan/alat untuk mengikat, branta berarti asmara/percintaan, jadi Kunthitalibranta berarti ikatan tali perkawinan yang kuat dengan cara yang sah.  Gandari (gandarwa = gandarwa, makhluk halus; gandarwi = peri, kuntilanak; Gandarwara = agung; Ganda = bau, busuk. Ndari = gadis cantik; Sundari = perempuan yang cantik). Istri Dustarasta, Ibu Kurawa, Kakak Mahapatih Sakuni, anak Raden Gandaria, cucu dari Dewi Sentani (adik Prabu Sentanu raja Hastinapura). Anak perempuan Gandarwa, gandarwa = kuntilanak (Jawa;genderuwo perempuan).  Karna atau Basukarno (Basu = golongan dewa, kera. Karna = telinga, karena; Karni = telinga). Anak Dewi Prita, berkah setelah membaca mantra yang ditujukan kepada Batara Surya (Dewa Matahari), lahir melalui telingan kanan, ketika baru lahir dimasukkan ke dalam kotak dan di hanyutkan di Sungai Gangga. Diketemukan dan diasuh oleh Sais kereta Hastinapura yang bernama Adirata yang telah lama tidak dikarunia anak. Karno setelah dewasa mengabdi ke Kurawa dan menjadi Adipati di Awangga. Karno berarti telinga (karena lahir melalui telinga). Dalam Al Qur’an disebut Korin (pendamping/yang menemani), yaitu makhluk dari unsur api (Batara Surya/Dewa Matahari/RA) yang diciptakan tanpa unsur perkawinan (Dewi Prita mempunyai anak sebelum menikah) keberadaannya dalam tubuh manusia masuk melalui telinga (Karno) sesaat bayi yang dilahirkan, dan mengalirlah kehidupan Korin dalam tubuh manusia (aliran Sungai Gangga), diasuh oleh nafsu buruk (diasuh sais kereta yaitu Adirata), yang akhirnya menjadi sifat-sifat buruk manusia yang banyak (Kurawa 100), yang bersemayam di dalam tubuh manusia (di Awangga).  Awangga (awang : nahkoda. wangga : berani). Tempat tinggal Adipati Karno (Basukarno) Awangga berarti di dalam badan/tubuh manusia. Karno/Korin bersemayam di dalam tubuh manusia.  Yudistira. Anak pertama Dewi Kunthi talibranta atas berkah Dewa Yama/Darma, Ksatria berdarah putih, mempunyai Pusaka Jamus/Kitab Kalimasada (Kalimah Syahadat), menjadi Maharaja di Indraprastha/marta, juga menjadi Maharaja Hastinapura setelah pertempuran besar Bharatayuda, berusia tua bahkan masuk surga beserta dengan jasadnya. Yudistira berarti teguh dalam keimanan, oleh Sunan Kalijaga di lambangkan sebagai Syahadat.  Bratasena (brata : bertapa, bertapa, setia; séna : kuat, gagah). Putra Dewi Kunthitalibranta yang ke dua, atas perkenan/berkah Batara Bayu/Dewa Angin, seorang ksatria Pandawa yang secara fisik sangat perkasa. Brata berarti laku prihatin/tirakat, seno berarti kuat. Seorang ksatria yang mempunyai kekuatan fisik juga kekuatan menjalankan laku spiritual (kuat Shalat, kuat dzikir, kuat puasa, kaut mengekang hawa nafsu). Sunan Kalijaga menggambarkannya sebagai “Shalat” sebab ia sangat perkasa bagai tiang penyangga langit, penyangga agama.  Arjuna (arjuna : 1 air; 2 putih cemerlang; 3 penengah pandawa). Anak Dewi Kunthitalibranta atas berkah Dewa Indra/Dewa Langit, Putra ketiga Pandawa. Ia penjelmaan ruh “keberanian” dari Wisnu, Ia dikenal sebagai ksatria Lelananing Jagat, Ia sangat tampan, dalam perang Bharatayuda yang berpasangan dengan Batara Krisna ruh “Kebijaksanaan” dari Wisnu, Ia memperistri Sumbandra adik Krisna. Dalam Bharatayuda ia membunuh Karno.  Arjuna berarti ruh/ruhani manusia (pada umumnya) dan ruh/ruhani (secara khusus) setelah di “Kuatkan dengan RUHUL QUDUS” berarti/akan menunjuk pada Nabi Isa AS. Dalam Mahabarata Arjuna akan membunuh Karno, dalam Al Qur’an dan Hadisnya Nabi Isa AS akan membunuh Dajjal sang pendusta yang terakhir yang muncul di zaman akhir. Dajjal mengemban sifat-sifat yang “mustahil” bagi Allah, sifat-sifat ini dalam Mahabharata digambarkan sebagai “Kurawa 100”, Sifat Kurawa 100 dalam tubuh/diri manusia diemban oleh Korin, dan Korin tak lain adalah Karno, lawan Karno adalah Arjuna. Karena itu Arjuna mengemban “Asmaul Husna” Nama-nama yang Indah lagi Agung bagi Allah SWT. Sunan Kalijaga menggambarkan Arjuna sebagai “Ibadah Haji”, sebab Arjuna mempunyai sifat-sifat yang lengkap dari sifat kakak dan adik-adiknya, sehingga terpusat/bersatunya semua ibadah.  Madukara (madu : madu; kara : santan, inti,sari pati). Tempat tinggal/alamat Raden Arjuna. Madukara berarti kerak/santan madu, intimadu, nama tempat yang disimbolkan dengan madu adalah surga. Karena Raden Arjuna adalah manusia, maka Madukara adalah surga yang diturunkan ke dunia. Surga Dunia adalah ALKAH (taman-taman surga yaitu lingkaran orang/hamba yang sedang berdzikir).  Nakula dan Sadewa (nak : anak, putra; kula : saya, aku; sadé : jual; déwa : dewa;). Putra Dewi Madrim (Istri kedua Pandudewanata) yang diperoleh melalui berkah Dewa Kembar Aswin. Ia putra Pandawa yang ke 4 dan yang ke 5. Sunan Kalijaga menggambarkan sebagai zakat dan puasa, sebab zakat dan puasa selalu bergandengan/berpasangan dengan puasa.  Krisna Dwipayana (kresna : hitam; dwipa : pulau; yana : kereta, kendaraan). Nama lain dari Begawan Abiyasa ketika turun dari Sapta Arga dan menjadi raja di Hastanipura. Krisna berarti juga Sang Juru Selamat, Dwipa berarti pulau, dan yana selain berarti pulau, juga yana berasal dari kata yamuna (Sungai Yamuna), hulu Sungai Gangga di India.Krisna Dwipayana dalam pengertian yang asli adalah seorang anak (Abiyasa) yang lahir di daratan di tengah Sungai Yamuna. Atau dalam pengertian yang luas adalah : Sang Juru Selamat Dunia yang turun (dari langit ke tujuh =Sapta Arga) disebuah pulau/kepulauan antara dua laut/lautan yang letaknya ke arah timur dan jauh, yang turun di akhir zaman , yang akan berpasangan dengan Imam Mahdi, Sang Pemimpin dan Imam yang diberi Petunjuk.  Sri Batara Krisna (sri : cemerlang; bathara : dewa, dewata; kresna : hitam). Raja Dwaraka (Dwarawati) Putra Basudewa dengan Dewi Badraini, reinkarnasi dari sifat KEBIJAKSANAAN Batara Wisnu (Dewa Pelindung Dunia), kakak ipar Arjuna. Krisna berarti Sang Juru Selamat Dunia, Yaitu Al Mahdi yang hidup di zaman akhir, yang akan berpasangan dengan Isa putra Maryam. Dwaraka, Dwa berarti dua, dan raka berarti saudara, dua saudara yaitu Krisna bersaudara dengan Balarama (Kakak Krisna), juga bisa berarti Krisna bersaudara dengan Arjuna. Dwarawati yang berarti dua saudara dengan perempuan, yaitu Balarama, Krisna dan Sumbadra (putra-putra Basudewa), juga bisa berarti Krisna bersaudara dengan Arjuna, sebab Arjuna menikahi Sumbadra adik perempuan Krisna. Krisna Raja Dwaraka, juga berarti Krisna dan Arjuna bersaudara sebab sesungguhnya Krisna dan Arjuna adalah reinkarnasi dari Batara Wisnu, Jiwa “Kebijaksanaan”menjelma menjadi Krisna dan jiwa “keberanian” menjelma menjadi Arjuna, Arjuna dan Krisna adalah diri Wisnu sendiri yang turun sebagai manusia.  Duryudana (dur : buruk, jahat; yuda : perang ;dana : dana, uang;). Anak pertama (dari Kurawa), putra Dustarastra dengan Dewi Gandari, ketika lahir berupa gumpalan daging yang paling besar. Ia raja (tidak sah/langsung) di Hastinapura. Melambangkan ke-akuan, kesombongan/congkak, iri/dengki yang merupakan sifat-sifat yang utama atau hal –hal yang dipelihara oleh Dajjal sang Pendusta.  Dursilawati (dur : buruk, jahat; sila : 1 dasar; 2 duduk bersila; wati : 1 dunia, jagat; 2 putri). Anak yang terakhir yang ke 101 dari Kurawa, satu-satunya yang perempuan, istri Jayadrata. Dursilawati berarti wanita durhaka/sombong, sebagai lambang dari kecintaan dunia atau penyakit Wahn.  Begawan Druwasa (begawan : pendita dru : jahat, ingkar; wasa : wewenang, kuasa). Seorang begawan yang memberikan ajian/mantra “pemanggil dewa” kepada Dewi Prita, yang ia (Prita) bisa mempunyai anak yang sifat/karakternya seperti dewa yang dipanggilnya, karena ia (Druwasa) tahu bahwa Dewi Prita akan mengalami nasib yang buruk yang berkaitan dengan keturunannnya/suaminya kelak. Druwasa berarti Yang Kuasa/sanggup, Yang Maha Kuasa, salah satu sifat Allah SWT.  Resi Kimindana (resi : pendita, brahmana ; ki : sesepuh ; minda : kambing ; dana : dana, uang; kama : sperma, cinta; dahana : api). Seorang Resi yang mengutuk Pandudewanata, bahwa Pandu akan mati jika berhunungan asmara dengan istrinya, sebab Ia (Kimindana) terbunuh oleh Pandu tanpa sengaja ketika ia bermain asmara dengan istrinya dalam wujud sepasang kijang. Kimindana berasal dari kata kama dahana, kama berarti dewa Asmara dan dahana berarti api membara. Kimindana berarti orang yang sedang bermain api asmara, orang yang sedang mabuk bercinta.  Batara Surya (bathara : dewa, dewata; surya : surya, matahari;). Dewi Matahari, yang memberkahi Dewi Prita hingga melahirkan Karno. Surya berarti matahari, unsur api, Karno adalah makhluk yang dicipta dari unsur api.  Parasara (paras : 1 wajah; sara : 1 berkaitan dengan; 2 sengsara;). Bapak dari Abiyasa, dari Wukir Rahtawu. Abiyasa anak Parasara. Isa Ibnu Maryam anak dari kota Nashara/Nasaret.  Kurawa (kura : kura-kura ; kuru : kurus, tak subur, lemah ; rawa : rawa) Anak-anak Dustarastra dengan Dewi Gendari, yang berjumlah 101. Keturunan wangsa KURU. 101 sifat-sifat yang buruk/dusta dari Dajjal, Asma yang Mustahil bagi Allah SWT sifat-sifat ini diemban oleh Karno.  Pandawa (pandhawa : anak 5 lelaki semua; pandhé : 1 pandai; 2 pandé besi dawa : panjang;). Anak-anak/keturunan Pandudewanata dengan Dewi Kunthi talibranta dan Dewi Madrim, berjumlah 5 orang = Yudistira, Bratasena, Nakula, Sadewa dan Arjuna. Anak-anak manusia yang terlahir dari perkawinan yang sah dan kuat yang diberkahi/mendapat petunjuk. Sunan Kalijaga melambangkan sebagai Syariat islam yang lima : Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji.  Adirata (adi : cantik, indah; rata : 1 rata; 2 kereta). Seorang pemelihara kuda kereta Hastinapura , ayah angkat Karno. Ketiadaan keagungan, tak ada kebaikan, adanya hanya keburukan. Kuda adalah lambang nafsu-nasfu manusia, bentuk sifat-sifat buruk. Jadi artinya nafsu-nafsu yang buruk, nafsu tiada keagungan.  Pancanaka (panca : panca, lima; naka : kuku). Kuku dari ibu jari Bratasena, Bratasena saudara (batin) Hanuman yang juga mempunyai kuku Pancanaka. Panca = lima, naka = kuku, pancanaka = lima kuku. Lima kuku Bratsena dan lima kuku Hanuman, Sunan Kalijaga menggambarkan sebagai Kuku Bratasena (kuku lima yang lahir/amalan lahir) : Syahadat, Shalat, zakat, pusasa dan haji. Kuku Hanuman (kuku lima yang batin/amalan batin) : dzikir, iktikaf, ubudiah, sedekah dan ziarah. Kuku Pancanaka ini adalah simbol/gambaran dari induk dari butiran tasbih/kepala tasbih.  Dewa. Keturunan Dewata. Yang diliputi sinar, orang yang bersinar/bercahaya, seorang hamba Allah yang mendapatkan nur Illahi : Nabi-nabi, Ulama pewaris Nabi, Wali-wali Allah, Waliya Mursida, Khalifah Allah SWT.  Brahmastra (brahma : dewa brahma; astra : senjata, panah;). Senjata dewa Brahma (Dewa Pencipta Dunia). Senjata yang dapat dilepaskan dengan alam pikiran kita atau senjata yang dapat dilepaskan dengan mengheningkan cipta/bertapa/yoga/berdzikir. Senjata milik Allah SWT, yang dikaruniakan/diberikan kepada Nabi-nabi, Wali-wali, Khalifah Allah, (atas kehendak Allah), untuk melawan/menghadang/menghancurkan senajata buatan manusia. Senjata dengan peluru “Dzikir ismu dzat/Asma Allah”.  Wisamarta/Wanamarta (wisa : bisa, racun ; wana : hutan, alas; marta : kehidupan, rendah hati). Hutan yang dikasihkan kepada para Pandawa sebagai waris ayah mereka atas bumi Hatinapura, hutan gung liwang-liwung ini adalah daerah persengketaan turun temurun antara Hastinapura dengan Pringgondani, hutan ini dipenuhi binatang buas dan kerajaan makhluk halus. Disini dahulu kala kerajaan Indrapura (Hastinapura lama) didirikan. Wisamarta = bisa kematian, Wanamarta hutan kematian. Untuk menuju kejayaan/kehidupan, seseorang harus melalui dan menahan penderitaan, bahkan kematian (matilah sebelum mati agar rahmat Allah SWT turun kepada kita).  Togog . Kakak Semar, juga kakak Barata Guru, Penasehat Raja yang Zalim. Sejahat-jahatnya manusia, tetap saja sebagai penasehat yang baik lagi bijak, Ia yang mengatakan tapi tidak menjalankan yang ia ucapkan. Jarkoni = yang mengajar tapi tak menjalani. Togog adalah rekaan/ciptaan Sunan Kalijaga untuk menggambarkan perilaku manusia yang buruk, orang yang mengaku islam dan mengetahui banyak tentang islam tapi tidak bersyariat dan berakhlak yang dibenci Allah SWT.  Semar. Adik Togog, Kakak Batara Guru, Ismaya, Penasehat para Raja/Ksatria yang saleh/alim, Dewa yang turun ke bumi. Penjelamaan dari putih telur, Togog adalah cangkangnya, dan Batara Guru adalah kuning telurnya. Semar dari kata samrotun berarti buah atau hasil dari iman digambarkan seperti manusia yang berakhlak Muhammad Rasulullah SAW, ikhlas dan mencapai makam ikhsan, akhlakul karimah, yaitu akhlaknya seorang kalifah Allah yang berpegang teguh pada Tuhan-Nya, mengerjakan yang diperintah dan menjauhi yang dilarang, seorang hamba yang selalu ingat Tuhan-Nya.  Prabu Yayati. Prabu Yayati dari kerajaan Hastinapura lama (Indrapura) beristri dua yaitu: Dewi Dewayani (budak) dan Dewi Sharsmista (putri raja), Dewayani melahirkan bangsa Yadawa/Wrishni dan Sharsmista melahirkan bangsa Bharata/Kuru. Nabi Ibrahim AS beristri dua yaitu : Siti Hajar(budak) yang melahirkan bangsa Arab dan Siti Sarah (Bangsawan) yang melahirkan bangsa Israil/Yahudi.  Yamadipati (yama : Batara Yama, sang pencabut nyawa dalam pewayangan; dipati : adipati, bupati, raja kecil). Batara Yamadipati adalah dewa kematian (pencabut nyawa) didalam Islam malaikat pencabut nyawa disebut Malaikat Maut  Prabu Sentanu (sentani : saudara, famili). Prabu Sentanu dari kerajaan Hastinapura, setelah ditinggal Dewi Ganggawati Prabu Sentanu menikah lagi dengan Dewi Setiowati lahirlah Citrangada dan Citrasena, yang masing masing meninggal karena peperangan dan karena penyakit. Siti Maryam setelah melahirkan Nabi Isa, kemudian menikah dengan Yusuf lahirlah Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas. Yakobus, Simon dan Yudas meninggal karena peperangan melawan bangsa Romawi dan Yusuf meninggal karena penyakit.