Jati diri manusia yang ditulis oleh Begawan Abiyasa dalam Kitab Mahabarata ini bermula dari naik tahtanya Abiyasa hasil dari musyawarah para petinggi Hastinapura, untuk menjadi Maharaja Hastinapura yang kosong juga sekaligus untuk menyambung garis keturunan darah Bharata atau Wangsa Kuru yang nyaris terputus, dengan mengawini Dewi Ambika janda Prabu Citrangada dan Dewi Ambalika janda Prabu Citrasena, dan juga menikahi Dewi Datri seorang putri dari hamba sahaya. Abiyasa berasal dari kata Abi dan Yasa, Abi mempunyai arti Bapak (Abu, Ayah, Buya, Abah) dan Yasa dari kata Hosua/Yehosyua/Yesyu/Yesyua (bahasa Ibrani yang berarti Juru Selamat) orang-orang Nasrani menyebutnya sebagai Yesus dan orang-orang Islam menyebutnya sebagai Isa. Jadi Abiyasa berarti Bapak Isa (Isa Ibnu Maryam). Sesungguhnya Nabi Isa as. Tidak mempunyai Bapak, sebagaimana Nabi Adam AS, tidak mempunyai Bapak dan Ibu Siti Hawa diciptakan tanpa Ibu. Semua Nabi-nabi selain dipanggil Nabi oleh umatnya, juga dipanggil Bapak oleh kaumnya. Abiyasa yang berarti Bapak Isa, disini mempunyai arti Yang Menciptakan Nabi Isa AS yaitu Allah Swt. Tetapi apa yang digambarkan dalam wayang bahwa Abiyasa mempunyai anak bukan berarti bahwa Allah Swt juga beranak, hal ini hanya untuk lebih memahami dalam bahasa manusia akan cerita dari mahabharata. Anak pertama Abiyasa dengan Dewi Ambika bernama Dustarastra, nama ini berarti Kedustaan atau Keburukan yang Banyak, atau jika nama ini ditentukan dengan angka berarti kedustaan seratus atau seratus keburukan, tentu saja keburukan ini bukan mengarah pada jumlah cacat fisik, tapi lebih mengarah pada sifat/karakter/psikologis dari manusia. Dustrarastra terlahir Buta Matanya, maka pengertian ini akan mengarahkan pada sosok makhluk manusia yang diciptakan oleh Allah Swt Buta Mata nya sejak lahir, yang mempunyai banyak sifat jahat, karenanya Dustrarastra tak lain adalah gambaran dari Dajjal Sang Pendusta. Anak kedua Abiyasa dengan Dewi Ambalika diberi nama Pandudewanata, Pandu berarti panduan/tuntunan/pedoman/petunjuk yaitu Kitab Suci, Dewa adalah seseorang yang diselubungi dengan cahaya yaitu Nabi-nabi , Nata berarti Raja. Jadi Pandudewanata berarti Raja Para Dewa/Penguasa tertinggi para Dewa/Penguasa yang Agung/Nabi yang Agung yang diberi Kitab Suci yaitu Ulul Azmi (Nabi yang Agung dengan Kitab Sucinya). Dan Nabi Isa AS adalah salah satu Nabi yang agung yang diberi Kitab Suci. Anak ketiga Abiyasa dengan Dewi Datri adalah Widura, Widura berasal dari kata Baiduri yang berarti batu permata/batu mulia/mutu manikam, Maksudnya adalah Allah SWT menciptakan manusia dalam bentuk Sebaik-Baiknya makhluk. Bukan hanya fisiknya yang elok menawan tapi juga dikarunia akal pikiran yang cemerlang (hanya manusia yang dianugerahi akal). Karena Widura terlahir dari anak hamba sahaya, hal ini mempunyai pengertian, Allah SWT menciptakan manusia pada umumnya/manusia kebanyakan, yaitu umat para Nabi-nabi. Allah SWT pada mulanya menciptakan Ifrit/Iblis yang sebelumnya bernama Azazil malaikat yang paling mulia/pemimpin para malaikat. Dalam dunia yang nyata Ifrit mempunyai wakil/wali, yang kita kenal bernama Dajjal sang Pendusta. Dajjal adalah iblis yang nampak/nyata. Dalam kaitan dengan Mahabarata ini, akan mengisahkan tentang Para Nabi dengan Kitab Sucinya disatu pihak (yang disimbolkan dengan Pandudewanata anak Dewi Ambalika) dan Dajjal Sang Pendusta dengan 100 sifat jahatnya yang berada di pihak lain (yang disimbolkan dengan Dustrarastra anak Dewi Ambika), yang akan berlomba untuk menggiring/menggembala umat manusia (yang disimbolkan dengan Widura anak hamba sahaya). Dajjal menggiring manusia kejurang keburukan (neraka jahanam), Nabi-nabi menggembala umat manusia ke arah kebaikan (Surga, dan surga berada pada sisi Allah). Dalam pengertian yang khusus Kitab Mahabarata ini akan mengisahkan Nabi Isa disatu pihak dan Dajjal dipihak lain akan bertempur di akhir zaman dalam kisah pertempuran yang dinamakan Perang Bharatayuda. Dari cerita/pengertian diatas dapat dibuat diagram/sketsa : Catatan : Nabi-nabi dan Dajjal akan saling berebut pengaruh atas diri manusia untuk manjadi pengikutnya. Dustarastra memilih dan menikah dengan Dewi Gandari seorang putri Plosojenar. Gandari melahirkan 100 orang putra dan seorang putri yang ketika lahir adalah berupa segumpal daging. Gandari setelah tahu yang dikandungnya selama 13 bulan dan yang dilahirkannya bukan seorang bayi, maka ditendangnya gumpalan daging itu hingga pecah berkeping-keping.dimalam itu sejumlah roh jahat/jin memasuki pecahan daging hingga daging-daging kecil ini menggeliat dan menjelma menjadi bayi-bayi kecil. Hanya ada satu bayi yang besar yang bertali pusat, tali pusat dipotong tetapi tersayat sedikit daging perut bayi ini,sayatan berubah menjadi bayi perempuan, satu-satunya bayi perempuan dari 100 bayi laki-laki. Seperti yang sudah diterangkan diatas bahwa Bapak Kurawa ini (Dustrarastra) adalah iblis laknatullah yang nampak yaitu Dajjal Sang Pendusta, dan Gandari berarti anak perempuan Gandara (Gandarwa/Genderuwo). Sehingga anak-anak Dustrarastro dan Gendari ini sesungguhnya adalah sifat-sifat buruk dari iblis yang berada dalam diri Dajjal Sang Pendusta, dan sifat Dajjal ini disimbolkan dengan anak-anak Kurawa yang berjumlah 101. Pandudewanata menikah dengan Dewi Kunthitalibranta (sebelum menikah bernama Dewi Prita) dan Dewi Madrim, dengan bantuan mantra pemanggil dewa pemberian Begawan Druwasa (Yang Berkehendak/Yang Maha Kuasa), lahirlah 5 ksatria perkasa yang disebut Pandawa Lima. Widura anak Hamba Sahaya, yang berarti anak manusia pada umumnya. Hamba Sahaya terlahir dari perkawinan Bapak dan Ibu, karena Ayah Ibu Hamba Sahaya menikah, kemudian ibu hamil, lalu Hamba Sahaya lahir, Hamba Sahaya lah Widura. Karena sebelum ibu Hamba Sahaya hamil, Laki-Laki Perempuan Hamba Sahaya menikah terlebih dahulu, itulah yang disebut Talibranta (Tali = ikatan, Branta = asmara jadi Talibranta = ikatan asmara = menikah/ijab) atau (Tali perkawinan yang sah). Hamba Sahaya/widura yang terlahir sebagai anak yang dihasilkan dari tali perkawinan yang sah. Ketika ibu hamil antara 3-4 bulan, Allah SWT meniupkan/menurunkan sebagian Ruh-Nya kedalam janin didalam kandungan Ibu dan Hamba Sahaya lahir ketika kandungan ibu + 9 bulan 10 hari. Jasad/Jasmani Hamba Sahaya adalah anak jasad/jasmani dari Laki-Laki Perempuan (23 pasang kromosom dari Bapak dan 23 pasang kromosom dari Ibu), jasmani/jasad itulah yang disebut Widura (Makhluk yang diciptakan dalam keadaan yang terbaik) Ruhani/Ruh adalah Zat yang secara Kodrat dan Iradat berasal dari Allah SWT, yang diletakkan/ditaruh kedalam janin yang disebabkan Laki-Laki Perempuan menikah secara sah, Ruh seorang hamba sahaya inilah yang disebut Arjuna. Diagram Arjuna anak Pandudewanata : Sebelum Ibu Dewi Kunthitalibranta menikah dengan Pandudewanata. Dewi Kunthitalibronto bernama Dewi Prita, Dewi Prita sesungguhnya sudah mempunyai seorang putra, hal ini terjadi setelah membaca mantra pemanggil Dewa pemberian Begawan Druwasa. Pada waktu menghafal mantra yang dipanggil adalah Batara Surya (Dewa Matahari), kemudian Dewi Prita hamil, lahirlah anak lelaki tampan yang diberi nama Karno, karena untuk mengingat proses kelahirannya yang melalui Telinga kanan dan bukan melalui rahim sebagimana mestinya, itulah sebabnya walaupun sudah punya putra Dewi Prita masih perawan. Jika perkara ini, hamil sebelum menikah atau hamil sewaktu gadis perawan terjadi sungguhan, maka tentulah Karno disebut anak haram dan ibu Dewi Prita sebagai putri sekar kedaton kerajaan Mathura, sebagai putri yang nakal/pezina, seperti yang banyak disalah tafsirkan dan diperdebatkan dalam kisah Mahabarata ini, apalagi bayi ini kemudian dibuang ke sungai, sehingga Dewi Prita sering ditafsirkan sebagai Ibu yang sangat kejam/tidak berperikemanusiaan, beruntung semuanya hanyalah simbolis/kiasan. Yang sesungguhnya terjadi adalah sesaat sewaktu anak seorang manusia lahir dari rahim ibunya (dari hasil tali perkawinan yang sah = tali bronto), Allah SWT menciptakan makhluk dari unsur api (Batara Surya = Dewa Matahari), yaitu berbentuk Jin, yang keberadaan Jin ini bukan berasal dan bukan diambil dari anak Jin yang baru dilahirkan dari pasangan Jin jantan dan Jin betina, tetapi Allah SWT langsung mencipta dengan “Kun” maka jadilah. Itu yang digambarkan/simbolis Dewi Prita hamil dan melahirkan (sebelum menikah tanpa unsur perkawinan/pernikahan) setelah membaca mantra pemanggil Dewa untuk mendatangkan Batara Surya. Seekor Jin ini dimasukkan oleh Allah SWT melalui telinga kanan setiap bayi yang baru saja/sesaat dilahirkan ibunya. Dimasukkan dari/melalui telinga kanan dan masuk ke dalam tubuh dan ditempatkan diluar dinding hati manusia, satu jari dibawah dan dua jari kekanan puting susu kiri. Itulah sebabnya mengapa bayi yang sesaat dilahirkan pasti menangis, karena dalam diri bayi yang masih suci itu ditempatkan musuhnya yang Paling Nyata, didekat hati sanubarinya yang bersemayan Ruh-Nya. Umat Islam menyebut Jin ini dengan nama Korin (yang menemani), Karno menemani Arjuna, itulah sebabnya Umat Islam menyambut kelahiran putranya, tentulah setelah tali pusatnya dipotong dan sudah dimandikan, dikumandangkan pada Telinga Kanannya Adzan. Adzan itu sendiri adalah berita kemenangan ketika menegakkan Shalat “jangan bersedih, jangan menangis, jangan berduka cita, Ingatlah akan Allah, engkau pasti menang”. Dalam epos Mahabarata, Dewi Kunthi melahirkan Karno, Dari dalam kandungan keluar/lahir melalui telinga kanan. Sesungguhnya yang terjadi/yang dimaksud adalah kebalikannya. Keberadaan Jin Korin/Karno ini dari alam lain (atas Kehendak Allah SWT)masuk kedalam tubuh manusia/bayi melalui telinga kanannya. Dan sejak itu bersemayamlah Karno didalam badan dan akan berpisah dengan badan (yang diinduki) ketika anak jasad manusia meninggal dunia. Dalam Mahabarata, Dewi Prita merasa malu mempunyai anak sebelum menikah apalagi ia adalah seorang putri kedaton negeri Mathura, maka untuk menyembunyikan/mengatasi hal ini, bayi Karno dimasukkan kedalam Kotak Perak dan dihanyutkan di Sungai Gangga. Seperti sudah suratan nasib, tidak ada kejadian yang kebetulan, semua kejadian sudah terskenario dalam Kitab Yang Besar. Gayungpun bersambut, Sais/Kusir kereta istana Hastinapura :Adirata, sudah lama mendambakan putra dan memohon berkah Dewa agar dikaruniai anak dengan berbertapa ditepi Sungai Gangga, melihat kotak yang hanyut dan diambilnya, ternyata berisi seorang putra yang tampan. Karno diasuh dan dijadikan anak angkat. Setelah dewasa Karno mengabdi di Hastinapura, mengabdi kepada Kurawa dan mendapatkan kedudukan sebagai Adipati Awangga. Setelah Karno lahir dihanyutkan di/ke Sungai Gangga. Setelah Korin ditempatkan didalam tubuh seoarang bayi, maka mulailah sejak saat itu ALIRAN KEHIDUPAN Korin dimulai. Aliran Sungai Gangga adalah aliran kehidupan Korin selama hidup didunia bersama/menumpang didalam jasad manusia. Karno ditemukan Sais/kusir kereta. Kusir kereta adalah simbol dari NAFSU-NAFSU MANUSIA. Sang Kusir bernama Adirata, Adirata berarti TIADA KEAGUNGAN atau TIADA KATUHANAN, yaitu nafsu-nafsu yang buruk. Karno sedari kecil telah diasuh oleh/dengan nafsu-nafsu buruk, nafsu yang tiada keagungan, nafsu yang tidak Tuhan kehendaki. Ketika dewasa karno mengabdi kepada kurawa 100. Setelah mencapai kedewasaan, maka nafsu-nafsu yang buruk ini akan mengalir/membentuk/mengkristal menjadi berbagai sifat buruk manusia. Ibarat buah kelapa, ketika buah kelapa yang tua ini sudah sekian tahun ditanam, maka keluarlah akar, batang, daun, bunga, buah, tangkai dll. seperti itulah nafsu-nafsu, setelah sekian lama dipelihara/diasuh/dipupuk oleh sifat-sifat yang buruk, maka akan membentuk/menjahir menjadi sifat-sifat jahat yang lebih nyata/kongkrit dan terperinci/bermacam-macam karekter. Karno setelah dewasa mengabdi kepada Kurawa 100, maka Korin didalam tubuh kita pada akhirnya membentuk menjadi/mempunyai 100 sifat buruk. Sifat buruk ini adalah kebalikan dari sifat-sifat yang terpuji. Nama-nama yang Indah lagi Agung bagi Allah SWT “Asmaul Husna” yang berjumlah 99 ditambah ism dzat/kaliamah Allah itu sendiri menjadi 100 nama dan sifat. Sedangkan “Kurawa 100”, adalah nama-nama yang Mustahil bagi Allah SWT. Karno ditempatkan menjadi adipati awangga. Awangga berarti “didalam badan”. Korin ditempatkan di dalam badan manusia, berlawanan/berseberangan, tetapi berdampingan tempatnya dengan Arjuna (Arjuna terletak dihari hati sanubari manusia). Seperti yang tercantum didalam Al Qur’an, jika Allah telah berfirman tentang suatu sifat yang buruk yang melekat pada sesuatu, misal “Aku murka pada orang-orang yang dusta”, maka sudah termasuk juga walaupun tidak disebutkan/dituliskan Firman Allah SWT yang menyatakan kebalikannya yaitu “Aku menyukai orang-orang yang jujur”. Begitu pula di dalam Kitab Mahabarata ini, karena yang sudah ditulis/tertulis adalah “nama-nama yang mustahil Bagi Allah SWT, nama-nama yang Agung lagi Indah bagi Allah SWT” tidak perlu ditulis dalam kitab ini. Karena nama-nama yang buruk melekat pada diri Karno/Korin, maka nama-nama Yang Indah Bagi Allah SWT tentu saja melekat pada diri Arjuna. Jadi Arjuna membawa, menampung dan mengemban “Nama-nama Yang Agung dan Indah Bagi Allah SWT”. Asmaul Husna ternyata sudah tertulis didalam Mahabharata + 600 tahun sebelum Al Qur’an diturunkan dibangsa Arab, atau nabi Isa AS ternyata telah mengemukakan + 600 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, Nama nama yang Mustahil bagi Allah SWT. Sebagai misal Asma Allah yang pertama “Allah”, “Akulah Tuhan, tiada Tuhan selain Allah”. Sesungguhnya Nama “Allah” ini tidak mengandung sifat-sifat Allah, tapi Nama Allah inilah semula berawal, dan yang menjadi jujugan/tujuan semua makhluk. Maka Asma yang buruk “pertama” adalah Duryudana yang berarti keakuan/keangkuhan/kesombongan dari penguasa, sehingga Fir’aun berkata “Akulah Tuhan”, tiada tuhan selain Fir’aun”, begitu pula berujar Nam’rud dan Nebukanezar. Walaupun Asmaul Husna dan ismu dzat itu berjumlah 100, akan tetapi didalam Mahabharata tertulis bahwa jumlah Kurawa ternyata 100 ditambah satu = 101, nama yang ke 101 adalah Dursilawati (Seorang wanita yang sombong dan angkuh). Sebuah pepatah berbunyi, “Jika Syaitan tak mampu menggoda / menjerumuskan manusia, maka diutuslah wanita” Ternyata Iblis telah memasukkan “Wanita” ke dalam / menjadi “Asma” nya yang terakhir, karena iblis teringat akan sejarah masa lalunya, ribuan tahun yang lalu, ketika Adam sulit ditundukkan, maka iblis mendekati-merayu-memperalat Hawa. Dan begitulah yang terjadi pada akhirnya, bangsa manusia-bani Adam menjadi penghuni bumi/dunia dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Ketika Rasulullah SAW mi’raj ke langit dibimbing Malaikat Jibril, disana Rasulullah SAW melihat “nenek buruk rupa/wanita tua berwajah buruk”. “Siapa wanita itu?”, tanya Rasulullah SAW. jawab Jibril “Itulah dunia”. Dunia bukan hanya sudah tua, tapi juga buruk rupa. Dunia seperti yang diberitakan Jibril dan disampaikan Rasulullah SAW kepada kita, adalah dilambangkan dengan “Wanita”, itulah sebabnya wanita identik dengan dunia, hingga ada pepatah “lelaki ditundukkan wanita, wanita ditundukkan dengan emas,..”. Dua alasan itulah (sarana membujuk Adam melalui hawa dan sebagi lambang dunia) yang kemudian ditambahkan oleh iblis untuk menjadi Nama-nya yang ke 101 yaitu “Dursilawati”. Arjuna didunia perwayangan digambarkan/diceritakan “sangat tampan tiada bandingan”, mungkin rupa Arjuna setara dengan Nabi Yusuf AS yang dianugerahi oleh Allah 9 dari 10 keelokan dunia, hingga Arjuna mendapat gelar “Lelananing Jagat, Laki-lakinya dunia”. Sesungguhnya kata ini “Lelananing Jagat”, tidak tepat benar, lebih parah lagi, sering kali disalah artikan bahwa Arjuna adalah pria “don juan, mata keranjang, tuk mis, dimana ada wanita disana ada istri Arjuna”. Arjuna memang beristri banyak. Jika Arjuna digambarkan “ganteng, tampan tiada bandingan”, itu artinya Ruh kita berasal dari Zat Kodrat dan Iradat Allah SWT, sesungguhnya adalah suatu Zat yang suci, Maha Murni dan Maha Sempurna, hanya Allah-lah yang tahu tentang Zat-Nya. Karena Arjuna berasal dari Zat Allah SWT yang berada di/dari sisi Allah, maka sisi Allah yaitu Surga, di alam Ketuhanan. Maka kebalikan dari Alam Dunia adalah alam Ketuhanan. Alam Ketuhanan inilah yang digambarkan dalam Kitab Mahabharata sebagai “Lelaki”, sehingga Utusan Allah SWT, yaitu Para Nabi yang berjumlah 124.000 ribu manusia semuanya adalah laki-laki, Ulama Pewaris Nabi adalah laki-laki, Wali-wali Allah adalah laki-laki, Imam adalah laki-laki, bahkan Kepala Keluarga di KTP pun laki-laki walaupun yang mencari nafkah adalah isterinya. Hingga Rasulullah SAW bersabda “Jika ada yang patut disembah selain Allah pastilah aku akan manyuruh seorang istri (wanita) menyembah suaminya (lelaki)”. Itu pula sebabnya Iblis disuruh sujud pada Adam. Allah SWT yang menggambarkan diri-Nya kedalam wujud “Laki-Laki”, itulah Arjuna “Lelananging Jagat”. Skema/Diagram Jati Diri Manusia Widura berarti Manusia Diantara sesama makhluk hidup (Tumbuhan, Hewan dan Manusia) dan semua ciptaan Allah, tidak diragukan lagi Manusia adalah ciptaan yang paling sempurna. Manusia mempunyai Aspek yang paling lengkap yaitu Jasad, Jiwa, Akal, Nafsu, Nyawa dan Ruh. Dibandingkan dengan tumbuhan manusia memiliki kelebihan berupa Jiwa, Akal, Nafsu, Nyawa dan Ruh. Jika dibandingkan dengan hewan manusia memiliki kelebihan berupa Akal dan Ruh. Jika dibandingkan dengan Iblis manusia memiliki kelebihan berupa Jasad dan Ruh. Dan jika dibandingkan dengan malaikat manusia memiliki kelebihan berupa Jasad dan Nafsu. Tidaklah heran jika manusia lebih bermartabat daripada hewan, tumbuhan dan makhluk ciptaan lainnya. Manusia mampu berbudaya, berilmu, berkreasi, berkomunikasi denan bahasa yang santun dan terstruktur dan seterusnya. Bahkan bagi yang beriman dan dekat dengan penciptanya mampu berkomunikasi dengan penciptanya secara teratur dengan bahasa dan sikap merendah. Karena itulah manusia adalah makhluk hidup yang paling diperhatkan oleh penciptanya. Kepada mereka diturunkan nabi dan rasul denga kitab-kitab suci pedoman hidupnya agar manusia tidak tersesat, diberi-Nya akal agar manusia memiliki ilmu dan pengetahuan, dapat memilih yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah dan seterusnya. Penampakan luar manusia mulai kepala ada di atas dan kedua kaki ada di bawah, kedua mata ada di atas hidung dan mulut, kedua telinga ada di samping kepala, masing-masing ada maksudnya. Kedudukan alat indra seperti yang ada sekarang memang sudah sewajarnya demikian, karena selaras dengan fungsi masing-masing. Kemudian pada bagian dalam tubuh manusia ternyata susunan dan sistem kerja organ bagian dalam manusia lebih menakjubkan lagi. Masing-masing organ mempunyai bentuk, struktur, fungsi yang berlainan dan sangat canggih. Masing-masing saling bekerja sama secara sinergis, beraturan dan berkeseimbangan. Pola seperti ini juga dapat ditemui pada hewan, tumbuhan sampai mikro-organisme. Tubuh manusia tersusun oleh trilyunan sel. Sel darah merah saja kira-kira berjumlah 25 trilyun sel. Dan sel adalah struktur terkecil di dalam tubuh manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Di dalam sel terdapat zat protoplasma yang terdiri dari inti sel dan sitoplasma yang mengelilingi inti sel. Zat ini mungkin paling komplek di alam semesta ini, yang merupakan sumber semua kegiatan semua makhluk besar ataupun kecil. Zat ini tidak terlihat oleh mata telanjang. Di dalam sitoplasma terdapat sejumlah benda seperti mitokondria, retikulum endoplasma yang masing-masing mempunyai peran khusus, sedangkan di dalam inti sel terdapat nukleoli (anak-anak inti sel) da benang-bebang kromosom. Faktor pembawa keturunan disebut GEN atau senyawa kimia DNA yang terdapat di dalam kromosom. Yang agak lebih besar alat-alat tubuh di bagian dalam. Ketika jantung berdenyut dan memompa darah ke seluruh organ tubuh (otak, syaraf pusat dan serabut saraf, paru-paru, usus, hati, ginjal, otot, mata, hidung dan sebagainya) untuk mengedarkan oksigen yang telah masuk melalui paru-paru. Pembuluh darah kapiler yang tersebar di dalam paru-paru, ketika bersinggungan dengan udara yang masuk, oksigen dalam udara diikat oleh hemoglobin, kemudian ogsigen diedarkan ke seluruh organ tubuh untuk dilepas di masing-masing organ. Oksigen bermanfaat untuk menjaga kelangsungan hidup sel-sel penyusun organ tubuh tersebut. Sementara darah yang melewati usus akan mengangkut air dan zat-zat nutrisi seperti glukosa, asam amino, asam lemak, vitamin dan mineral yang berasal dari makanan, dengan pertolongan berbagai macam enzim, mineral dan oksigen, akan melangsungkan pertukaran zatyang disebut metabolisme didalam sel-sel hati. Hasil proses ini diedarkan oleh darah menuju ke setiap organ tubuh supaya tetap hidup dan zat-zat yang tak berguna lagi bagi tubuh dikeluarkan oleh organ-organ tadi masuk darah untuk dibuang melalui paru-paru berupa gas Carbon Diogsida, melalui kelenjar kulit berupa keringat atau melalui ginjal berupa air kemih. Pengeluaran enzim dari tempatnya dan proses pembentukan zat tersebut dikendalikan oleh hormon-hormon tertentu. Enzim-enzim tersebut dapat memilih zat nutrisi mana yang menjadi obyek. Kinerja organ-organ tubuh dikendalikan oleh syaraf otonom, yang tergantung dari suplai zat nutrisi dan oksigen. Zat nutrisi dan oksigen juga yang memberi makan otak sehingga ia mampu berfikir, menyimpan informasi dan bekerjasama dengan serabut syaraf dan otot mengendalikan gerak panca indra, kaki, tangan dan semua organ. Proses yang terjadi di dalam tubuh manusia sebenarnya sangat komplek dan rinci namun ulasan singkat ini cukup menggambarkan adanya sinergi, keteraturan, dan keseimbangan antara organ satu dengan yang lainnya sebab tubuh manusia merupakan satu sistem, sehingga masing-masing dapat berfungsi secara normal. Dan tentunya yang dimaksud manusia diatas adalah bani adam atau yang disebut para ilmuwan adalah manusia modern. Sedangkan penduduk bumi sebelum bani adam memiliki karakteristik yang lain yang bisa dibilang calon manusia atau percobaan manusia sempurna yang disebutkan para ilmuwan sebagai manusia purba seperti Homo erectus. Hal ini didasarkan pada kisah pertanyaan malaikat atas penciptaan manusia dalam surat Al-Baqoroh Ayat 30 yang berbunyi : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui Dalam ayat diatas malaikat telah mengetahui perilaku penduduk bumi sebelum Adam yang telah melakukan kerusakan dibumi dan ia bertanya atas ketidak tahuannya. Dan makhluk penduduk bumi yang telah berbuat kerusakan itu adalah manusia purba dan termasuk dinosaurus yang telah dibinasakan oleh Allah. Dari kerangka manusia purba setelah diukur kapasitas isi otaknya ternyata berukuran 1600 cc, dengan otak ini ditambah dengan nafsu yang juga berati psikologis dan indra secara naluri ternyata hanya mampu hidup berkembang biak, bermasyarakat, berkelompok secara primitif, membuat perlengkapan kebutuhan hidup sederhana, berburu dan makan minum sederhana, tinggal didalam gua-gua yang hanya bersifat konsumtif dalam menjalani hidupnya. Maka Allah menciptakan manusia moderen atau bani Adam dengan dibekali nafsu/psikologis, indra dan akal/otak berukuran 1900 cc dengan selisih 300 cc lebih banyak, bani Adam secara fitrah dapat mengembangkan diri menapak keperadaban yang lebih tinggi. Zaman kuno di buatnya keajaiban-keajaiban dunia (piramid, musoleum, borobudur, lembah petra, menara pisa, taman gantung babilon, patung zeus, dll) kini dibuat pesawat udara yang cepat (supersonik), pesawat darat (tank, kereta api super cepat, dll), laut (kapal induk, selam, pesiar, dll), dibuatnya gedung pencakar langit, dibuatnya pemerintahan yang beradab/modern (kerajaan, republik, uni), dibuatnya seni (theather, sastra, musik, lukis, mode, dll). Sangat berbeda dengan apa yang dibuat manusia purba sebelumnya seperti yang dikabarkan dalam Al Qur’an adalah satu-satunya dari karya mereka adalah suka membuat kerusakan dan bertumpahan darah. Bagi kendaraan bermotor selisih 300 cc akan terasa berbeda tipis tak akan berarti banyak, tapi bagi manusia, ternyata merubah segalanya menjadi makhluk terbaik dan sempurna dari bani Adam. Puncak dari kreatifitas otak manusia modern adalah ketika bertanya pada diri sendiri “siapakah aku?”, “siapa yang menciptakan aku?”, “siapa tuhanku?”. Suatu hal yang mustahil dipertanyakan oleh otak 1600 cc. Sehingga malaikatpun disuruh oleh Allah “bersujud” pada Adam. Azazil atau Iblis sebenarnya adalah makhluk yang sangat patuh dan taat kepada Allah tetapi ia tidak tahu “rahasia” penciptaan makhluk yang baru itu (Adam), ia menyangka serupa dengan mahkluk yang lalu dan ia merasa lebih baik dari Adam. Mungkin Azasil/Iblis lebih baik dari makhluk manusia purba tapi tidak lebih baik dari Adam, karena Azazil/Iblis tidak tahu rahasia yang ditambahkan oleh Allah SWT pada Adam, walaupun sebelumnya ia dan para malaikat lain “kalah” dari Adam ketika diuji tentang “nama-nama benda”, juga yang paling krusial adalah Azasil/Iblis tidak tahu bahwa pada diri Adam telah ditanamkan “sebagian Ruh-Ku”. Perubahan penampilan fisik dan penambahan 300 cc isi otak, inilah “revolusi” Allah atas makhluk manusia modern (bani Adam), sehingga manusia berfikir untuk mencari “Tuhan” yang menciptakan dirinya, itulah sebabnya Allah SWT kemudian menurunkan “Nur-Nya”, kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih yaitu Nabi-Nabi dan Ulama Pewaris Nabi hingga zaman akhir, yang tidak satupun diturunkan pada penduduk bumi sebelum Adam. Pandudewanata berarti Para Kekasih Tuhan Pada mulanya Allah menurunkan “Nur-Nya dan itu adalah Nur Muhammad” ke dalam diri/jasat Adam sehingga Adam menjadi nabi, kemudian Nur Muhammad turun kepada shets, berpindah ke anwas/anusi, ke qainan, ke mahlaila, ke yarid, ke uhnuk/idris, ke matusyilakh, turun ke lamik, berpindah ke anaknya abdul gofar/yaskur/nuh, dan turun temurun sampai ke diri isa bin maryam dan akhirnya turun ke Muhammad bin abdulah, nabi terakhir. Seluruhnya ada 124.000 ribu nabi. Karena tuntunan/panduan/kitab suci terakhir yang disempurnakan yaitu Al Qur’an dijamin oleh Allah ke murniannya hingga akhir zaman , maka secara fisik yang mengemban amanah ini, yaitu umat yang di pilih-Nya, yang mewarisi Nur-Nya, ulama pewaris nabi, yaitu seorang waliya mursida yang turun temurun hingga akhir zaman . Karena itu kemudian kita mengenal ulama pewaris nabi seperti Abu Bakar Assidik, Abu Yasid Al Bustami, Syaikh Abdul Kadir Jailani, Syaikh Sumatrani, di makasar Syaikh Yusuf, di jawa Wali Sangga. Nur-Nya ini pada akhirnya diteruskan oleh syeikh-syeikh pada masa sekarang, hingga akhir zaman nanti. Apa tugas para nabi-nabi, secara umum, secara (jasmani) adalah menjawab persoalan umat yang berkaitan dengan diri sendiri, dengan orang lain (hubungan antar manusia), hubungan manusia dengan alam, yaitu menjadi suri tauladan/ contoh umat/hamba dalam bertingkah laku (moral-etika-akhlak) sehingga membentuk masyarakat yang utama/beradab (khoiru umah). Secara (rohani) adalah memandu/membimbing bagaimana ruh yang sudah diturunkan ke dunia bersama jasad manusia, dapat menemukan tuhannya dan tetap menghamba pada tuhan-Nya, dan pada waktu yang sudah ditetapkan tiba, seorang hamba (ruhaninya) bisa kembali ke hadirat Allah SWT dengan selamat. Allah berfirman “sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang kalifah di muka bumi” (Al baqoroh : 30). Sesungguhnya Allah ingin menjadikan manusia (bani Adam) menjadi khalifah di muka bumi, tetapi apa yang diciptakan oleh Allah pada awalnya ternyata adalah berupa seorang anak/bayi yang keberadaannya sangatlah lemah, lebih lemah dari anak binatang piaraan manusia. Manusia ciptakan agar/untuk belajar. Kunthitalibronto berarti Pernikahan Suci Atas ketentuan yang sudah ditetapkan pada akhirnya seorang pria dan wanita menikah secara sah untuk mendapatkan keturunan. Allah menurunkan kromosom 23 pasang dari laki-laki dan 23 pasang dari perempuan, sebagai sarana fisik akan diletakkan Ruh-Nya (3 bulan), juga meletakkan makhluk dari unsur api “korin” ketika anak baru lahir. Sempurnalah anak manusia, calon khalifah dimuka bumi, dibekali dengan 5 indra, akal 1900 cc, ruhani dan korin. Bagaimana seorang anak manusia akan bisa mencapai derajat khalifah?, dimana Allah SWT ingin memperlihatkan diri-Nya. Kenapa korin sebagai pembawa sifat buruk mesti harus ditempatkan disamping yang mengemban sifat baik. Karno sebagai Korin Karno/Korin adalah gambaran khalifah syaitan/iblis yang ada di dalam tubuh kita. Seperti diceritakan bahwa syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia, kenyataannya syaitan ini tidak tampak/tidak kelihatan oleh mata (indra) manusia, bahkan diharamkan oleh Allah jika menampakkan diri di hadapan manusia. Jadi yang nyata dalam pernyataan ini adalah bahwa syaitan harus dianggap musuh (bukan sekedar menemani, korin berarti yang menemani) yang amat diperhitungkan, harus ditempatkan sebagai musuh no.1 pada diri manusia. Ruhani manusia (sebagian Ruh-Ku) disimbolkan dengan arjuna dan korin di simbolkan dengan karno adalah khalifah/perwakilan dari iblis didalam badan kita. Di alam ruhani arjuna dan karno (ruh dan korin) adalah nyata, dan karno adalah lawan/musuh yang nyata bagi arjuna. Jika kita misalnya mempunyai musuh nomor satu dari kalangan manusia yang musrik/kafir yang mengganggu/menyerang kita yang harus dibunuh. Kita tentu mempunyai banyak waktu istirahat sebelum bertarung dan kita punya waktu istirahat lagi setelah kita duel. Musuh kita yang satu ini wajib ditempatkan sebagai musuh yang pertama dari yang pertama, hingga disebut musuh yang sangat nyata, sebab musuh ini ditempatkan dalam tubuh kita sendiri, hingga kita tak punya waktu istirahat untuk memerangi “melawan hawa nafsu” sabda Rasulullah SAW. Kita wajib berperang dan kita wajib menang. Musuh kita yang tidak pernah mati hanya dapat “dikendalikan” dan baru bisa “pergi” dari tubuh kita bersamaan dengan ruh kita pergi dari tubuh kita yaitu pada waktu kematian. Arjuna sebagai Ruh Tidak ada sebutan pahlawan bagi orang yang pulang sebelum bertanding dan tidak menang. Jangan bayangkan kita menjadi juara tinju dunia jika melawan rengking ke 10 di negeri sendiri kita di ko, tidak disebut juara sejati jika kita tidak mampu menggabungkan sabuk juara dari berbagai versi. Juara sejati hanya akan diraih bagi orang yang Sportif pada diri sendiri, Konsentrasi penuh/focus, sungguh-sungguh bersabar dan meningkatkan kesabaran, Latihan yang istikomah/kontinyu/terus menerus, berdoa agar berjumpa dengan nasib baik atau mendapatkan doa dari nenek-nenek moyang yang saleh. Menemukan pelatih yang benar-benar ahli dalam bidangnya/mumpuni/pakar/master, (tidak cukup jika hanya berguru kepada yang menunjuki adanya tuhan/Allah, tapi bergurulah pada yang bisa menuntun kita kehadiratnya). Itulah sebabnya Allah menempatkan korin (karno) musuh no.1/musuh yang nyata ke dalam tubuh manusia, agar arjuna dapat mengalahkannya, tapi bagaimana arjuna dapat mengalahkannya/agar bisa menang, padahal syaitan/iblis telah berkata “aku dapat membinasakan setiap anak Adam dan menyeretnya ke jurang maksiat/keburukan, bagaimanapun manusia alimnya dengan penuh segala ilmu”. Beruntunglah Allah SWT telah berfirman “sesungguhnya aku hendak menjadikan khalifah dimuka bumi”, artinya tetap ada jalan kemenangan untuk arjuna, walaupun akan banyak sekali arjuna-arjuna lain, anak-anak Adam yang lain berguguran.Dan yang dikatakan syaitan selanjutnya “ …, tapi aku dihancurkan oleh kalimah Allah”. Kalimah Allah yang berada dalam Nur-Nya, yang diturunkan kepada Nabi-Nabinya/Ulama Pewaris Nabi-Nya, diteruskan kedalam hati sanubari hamba-hambanya yang di kehendaki-Nya, itulah arjuna lelananging jagat yang wujud dalam jasad manusia (widura), sang Khalifah Allah di atas bumi. Seperti sebuah sekolah, dimulai dari tk-sd-smp-smu dan terakhir perguruan tinggi, tidak satupun manusia (secara umum) yang kenal sekolah tiba-tiba menjadi sarjana, tanpa menempuh jenjang demi jenjang sebelumnya, disana ada Tempat, Guru/pembimbing dan Aturan-aturan/tuntunan/metode yang harus ditaati. Allah SWT maha kuasa dan maha pencipta, tetapi Allah tidak menciptakan khalifah dari “kun” maka jadilah, tetapi manusia mesti merangkak sendiri untuk menempuh jenjang demi jenjang yang lebih tinggi, tentunya terlebih dahulu sudah dilengkapi dengan perangkat/fasilitas yang memungkinkan untuk itu, dan perangkat ini akan mulai sempurna ketika manusia mencapai usia akil baliq/dewasa (wanita + 15 tahun dan laki-laki + 17 tahun), sebab dalam masa ini seorang anak manusia sudah mulai dapat berfikir kompleks, juga nafsu-nafsu sudah berkembang menjadi lebih kongkrit, itulah sebabnya usia anak-anak adalah masa persiapan-persiapan/latihan-latihan, setelah dewasa tingkah laku manusia sudah mulai dipertimbangkan dihitung/diminta pertanggungjawabkan apa yang diperbuatnya. Madukara mengisyaratkan Surga Di Bumi Allah menurunkan Ruh-Nya yang pertama pada diri Adam, hiduplah Adam. Allah menurunkan Nur-Nya/Nur-Muhammad pada diri Adam, jadilah Adam seorang Nabi. Karena Ruh-Nya diturunkan ke dunia, Maka Allah dengan maha murah dan kasih sayangnya menurunkan pula Surga-Nya ke dunia, untuk tempat Adam As berzikir-mengingat Allah, agar ruh Adam as tidak kehilangan surganya yang ditinggalkannya. Allah tidak memperberat-mempersulit-menyengsarakan hamba-hamba-Nya. Sebagian Ruh-Nya yang diturunkan kedalam jasmani manusia. Dalam mahabharata disebut/diberi nama arjuna. Dalam mahabharata arjuna bertempat tinggal di madukara. Madu adalah makanan/ minuman yang berasal dari sari-sari bunga yang di kumpulkan oleh lebah, kara berarti kerak/santan atau inti, jadi madukara berarti intimadu, ini mempunyai makna bahwa suatu tempat yang disarikan/digambarkan/diumpamakan dengan madu, madu terbaik, tidak lain adalah surga. Surga adalah tempat terbaik bagi dan untuk manusia yang keberadaannya ada di sisi Allah, di alam akhirat. Surga-Nya yang diturunkan ke dunia bersamaan dengan diturunkannya Ruh-Nya ke dunia, adalah : Rasulullah saw bersabda “apabila kamu melalui taman surga, maka ikutilah atau masuklah kamu padanya”. Para sahabat bertanya “apakah Taman Surga itu, Ya Rasulullah?”. Sabda Rosul “yiatu alkah-alkah berzikir” (HR.Thirmidzi). Alkah ialah bundaran-lingkaran orang banyak duduk berkeliling dan berzikir. Walaupun Allah senantiasa menurunkan sebagian Ruh-Nya ke dunia sebagai balasan karena manusia memenuhi hukum-hukumnya di bumi (sunatullah) yaitu karena adanya perkawinan, Ruh-Nya yang ada di sisi-Nya tidaklah berkurang dan ketika Allah SWT menurunkan Surga-Nya ke bumi, surga yang berada di sisi-Nya tidaklah berkurang keberadaannya sedikitpun. Ruh yang ada dalam diri jasad umat manusia (diri widura) bernama arjuna, maka surga yang ada di dunia bernama madukara/halkah/halaqoh. Halkah adalah tempat hamba-hamba melingkar berzikir, adalah tempat untuk pertama kali karunia/berkah/rahmat Allah turun sebelum disebarkan ke seluruh alam oleh kalifah-khalifah-Nya di bumi. Itulah sebabnya Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Untuk menebarkan rahmat-Nya. Jadi Allah menurunkan Ruh-Nya pada semua jasad umat manusia (ruhani/arjuna dan jasmani/widura), melalui perkawinan yang sah (nikah/kunthitalibranta). Allah menurunkan Nur-Nya (Nur Muhammad) pada umat pilihan (nabi-nabi/ pandudewanata). Allah menurunkan Surga-Nya suatu tempat yang diberkahi (alkah/ madukara). Abiyasa mengisyaratkan Bapak Para Nabi Allah juga menurunkan nama-Nya “Allah” ke dunia. Arjuna adalah anak dari pandudewanata, maka pandudewanata adalah bapak dari arjuna, karenanya arjuna memanggil orang tuanya dengan panggilan “bapak”. Kata lain bapak adalah ayah, buya, abah, abuya, rama, abu, abi, maka kita sering membaca/mendengar Abu Mustofa, Buya Hamka, Ayah Guru, Bapa Guru, Rama Parasu, Abah Anom/Abah Tua, Abi Thalib, Abiyasa, dll. Karenanya pandudewanata (nabi-nabi) adalah bapak dari arjuna (ruhani manusia), itulah sebabnya panggilan bapak bagi arjuna kepada pandudewanata adalah/merupakan panggilan yang bersifat ruhaniah, yaitu panggilan ruhani kita (ruhani manusia) kepada ruhani bapaknya (darimana ruh ini berasal, yaitu Allah SWT sendiri) dengan bahasa kita sendiri dan dengan panggilan yang terasa paling dekat dengan diri kita sendiri, yaitu bapak, yaitu ditujukan pada ciptaan Allah yaitu dari kalangan manusia sendiri. (Nur Muhammad) dalam jasad anak Adam yang terpilih yang dikehendaki-Nya, yaitu nabi-nabi, wali-wali-Nya. Itulah sebabnya “setiap anak manusia yang dewasa” mesti “wajib” mencari siapa “wali Allah” di dunia pada masa itu (dimasa/waktu anak manusia hidup), agar ia dapat mengenal tuhannya melalui ruhaninya itu, juga agar ruhaninya “mengenal dan masuk kembali” ke tempat tinggalnya yang azali/dahulu (surga) sewaktu masih hidup di dunia (ia tidak perlu terbang ke langit/akhirat), karena jasad yang mengandung/beserta ruhani ini tidak diciptakan untuk dapat terbang dan tidak punya kemampuan untuk itu). Itu sebabnya rasulullah bersabda, “barang siapa tahu/mengenal nama ini ia akan masuk surga" Itu artinya siapapun yang tidak kenal nama Allah SWT yang diturunkan di dunia, ia tidak akan masuk (surga di dunia, juga surga di akhirat).