KESAMAAN KISAH DALAM AL QURAN, AL KITAB DAN MAHABHARATA

Silsilah Utusan Tuhan Untuk Umat Manusia Silsilah Nabi – Nabi dalam Al-Quran dan Al Kitab Silsilah Tokoh dalam Mahabharata   DALAM AL QUR’AN DALAM MAHABHARATA 1. Banyak membicakan keturunan Ibrahim Banyak membicakan Maharaja Yayati 2. Ibrahim beristri dua (budak dan putri bangsawan) Yayati beristri dua (budak dan putri raja) 3. Dari istri budak melahirkan bangsa Arab. Dari istri putri bangsawan melahirkan bangsa Israil/ Yahudi Dari istri budak: bangsa Yadawa Dari istri putri raja: bangsa Bharata 4. Dari istri budak di akhir zaman akan menurunkan Al Mahdi Dari istri putri bangsawan menurunkan Nabi Isa As. Dari istri budak menurunkan Menurunkan Krisna Dari istri putri raja menurunkan Arjuna 5. Dari kedua istri di akhir zaman akan melahirkan 2 pemimpin: Al Mahdi dan Nabi Isa As. Dari kedua istri turun-temurun melahirkan 2 tokoh lakon : Krisna dan Arjuna. 6. Al Qur’an dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, Nabi terakhir dari bangsa Arab. Mahabharata dibawa oleh Nabi Isa As (Abiyasa), Nabi terakhir dari bangsa Yahudi 7. Dari istri putri bangsawan melahirkan banyak nabi-nabi dan nabi-nabi besar. Dari istri putri raja melahirkan banyak raja-raja dan raja-raja besar. 8. Nabi Muhammad SAW mengatakan, siapa yang mendengarkan Al Qur’an akan mendapatkan pahala. Nabi Isa AS (abiyasa) mengatakan, siapa yang mendengarkan Mahabharata mendapatkan berkah. 9. Apa yang tidak ada dalam Al Qur’an dan (Al Hadis) tak ada di bumi. Apa yang tidak ada dalam Mahabharata tidak ada di bumi. 10. Memuat kisah manusia (Nabi, penguasa, umat) secara nyata/ realistis. Memuat kisah nyata tapi dibuat dengan alur cerita yang hampir sama dengan Al-Qur’an. 11. Kumpulan dari kitab-kitab terdahulu yang di sempurnakan, disampaikan tahun 610-632 M, dikumpulkan tahun 653 M. Kumpulan kisah-kisah dalam Kitab masa lalu dan dikumpulkan menjadi kitab pada tahun ± 400 M. Keterangan :  Dalam kitab Al Qur’an banyak membicarakan/menceritakan keturunan Nabi Ibrahim dan dalam kitab Mahabharata banyak membicarakan/menceritakan keturunan Maharaja Yayati dari Indrapura (Hastinapura lama).  Nabi Ibrahim dan Maharaja Yayati, masing-masing mempunyai dua orang istri, yaitu seorang istri dari budak dan seorang lagi dari putri raja atau putri bangsawan.  Nabi Ibrahim dari istri budak (Siti Hajar adalah budaknya Siti Sarah) melahirkan bangsa Arab, dari istri putri bangsawan (Siti Sarah) melahirkan bangsa Yahudi/ Israil.  Prabu Yayati dari istri budak (Dewayani adalah budaknya Dewi Sharsmistha) melahirkan bangsa Yadawa, dan dari istri putri raja (Dewi Sarmistha) melahirkan bangsa Bharata.  Keturunan Ibrahim dari istri budak di zaman akhir akan melahirkan Imam Al Mahdi, keturunan Yayati dari istri budak dalam silsilah keturunan akan melahirkan Krisna.  Keturunan Ibrahim dari istri putri bangsawan melahirkan Nabi Isa As. Dan di akhir zaman akan turun kembali ke bumi setelah sebelumnya di angkat ke langit tujuh oleh Allah SWT dan keturunan Yayati dari istri putri raja pada silsilah terakhir melahirkan Arjuna.  Dalam Al Qur’an, di zaman akhir Al Mahdi akan berpasangan dengan Nabi Isa As.  Dalam Mahabharata, di akhir episode Krisna berpasangan dengan Arjuna.  Nabi Isa Ibnu Maryam, ditulis dalam Al-Qur’an akan turun ke bumi di zaman akhir sebagai “Sang Juru Selamat Dunia”. Arjuna dalam pengertian umum (arti bahasa) adalah ruh/ruhani yaitu dalam diri manusia untuk menyatakan manusia. Dan dalam bahasa Al Qur’an untuk menyatakan ruhani manusia yang secara khusus dikuatkan dengan RUHUL KUDUS adalah menunjuk pada diri Isa Ibnu Maryam.  "….ingatlah akan rahmat-Ku ke atas kamu, dan ke atas ibu kamu, apabila Aku mengukuhkan kamu dengan Roh Qudus (Suci), …..'" (Al Maidah : 110)  Jadi yang secara khusus dalam Mahabharata disebut ARJUNA, lain kata dalam Al Qur’an adalah Nabi Isa As. Dan Al Mahdi dalam bahasa Mahabharata adalah Krisna.  Dalam Al Qur’an dan Hadis pada keturunan Ibrahim dari kedua istri akan muncul dua pemimpin, yaitu Al Mahdi dan Nabi Isa As adalah Juru Selamat di zaman akhir.  Dalam Mahabharata, pada keturunan Yayati dari kedua istrinya akan muncul dua tokoh lakon, yaitu Krisna dan Arjuna, keduanya adalah Juru Selamat di akhir edipsode.  Al Qur’an dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, Nabi terakhir dari keturunan Ismail As (bangsa Arab).  Mahabharata dibawa oleh Nabi Isa As. (Abiyasa), Nabi terakhir dari keturunan Israil/ Yakub As. (bangsa Yahudi/ Israil).  Dalam Al Qur’an, keturunan Ibrahim As dari istri putri bangsawan melahirkan Nabi-nabi Besar dari ribuan Nabi-nabi, dan disebut bangsa Yahudi/Israil, diambil dari nama-nama besar keturunan Ibrahim (dari istri putri bangsawan).  Dalam Mahabharata, keturunan Prabu Yayati dari istri putri raja melahirkan raja-raja dan raja-raja besar, di sebut wangsa Bharata/Kuru, diambil dari nama-nama besar raja-raja keturunan Yayati (dari istri putri raja).  Dalam salah satu Hadisnya Nabi Muhammad SAW berkata, “Siapa yang mendengarkan Al Qur’an, ia akan mendapatkan pahala”.  Dalam Kitab Mahabharata, Nabi Isa As. (Abiyasa), mengatakan “Siapa yang mendengarkan kisah Mahabharata ketika dibacakan (jawa;didereskan) ia akan mendapatkan berkah”.  Dalam Mahabharata tertulis “Apa yang tidak ada dalam Mahabharata, tidak ada di India (di bumi)”.  Dan apa yang tidak ada dalam Al Qur’an dan (Hadis), tidak ada di bumi ini (di dunia ini).  Al Qur’an menceritakan tentang Sang Pencipta dan ciptaannya (nabi, penguasa, umat), secara nyata/realistis, begitu pula dalam Mahabharata tetapi dengan alur cerita yang berbeda.  Al Qur’an adalah kumpulan kisah-kisah, ajaran-ajaran masa lalu (dalam Taurat,zabur dan injil) yang disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW, diturunkan selama 22 tahun masa kenabian Muhammad SAW (610-632 M) dan dikumpulkan pada tahun 653 M oleh Sayyidina Abu bakar ra dan Umar ra.  Kitab Mahabharata adalah kumpulan kisah-kisah dan petuah-petuah masa lalu yang didereskan oleh Begawan Abiyasa (Nabi Isa As) dan dikumpulkan ± 400 M. (Pengumpulan kitab Ramayana, Mahabharata dan Bhagawat gita oleh umat hindu dan Budha). Penjelasan Silsilah Mahabharata dan Al Qur’an. Dalam Mahabharata dari Maharaja Yayati hingga Maharaja Bharata sesungguhnya nama kerajaannya adalah INDRAPURA persis di INDRAPRASTA, sebelum dipindah oleh Prabu Hastimurti, sehingga kerajaannya berganti nama menjadi HASTINAPURA. Dari istri kedua Prabu Yayati, yaitu Dewi Sarshmistha menurunkan raja-raja besar di Hastinapura hingga Prabu Citrangada dan Prabu Citrasena, kedua raja ini kakak beradik bergantian naik tahta, tetapi keduanya mati muda dan keduanya tidak mempunyai keturunan. Dalam pengertian yang murni dinasti Yayati di Hastinapura dari istri kedua yaitu wangsa Bharata berakhir. Sedangkan Maharaja Krisnadwipayana (Abiyasa) sebagai penerus tahta Hastinapura setelah Prabu Citrasena, sesungguhnya adalah keturunan Batara Guru dari garis Ibu dan Bapak. Garis Ibu : Abiyasa – Dewi Setyawati – Prabu Basukiswara (dari kerajaan Wiratha) – Prabu Basukesthi – Prabu Basupati – Prabu Basurata – Barata Wisnu – Batara Guru. Garis Bapak : Abiyasa – Begawan Parasara – Sakri – Sakutrem – Manumayasa – Parikenan – Batara Bremana – Batara Brama – Batara Guru. Krisnadwipayana digantikan putranya Maharaja Pandudewanata, Pandudewanata berputra lima : Pandawa Lima (Yudistira, Bimasena, Arjuna, Nakula dan Sadewa). Kalau diperhatikan dengan seksama, sesungguhnya tahta Hastinapura pada awal mulanya dipegang-diturunkan-dilanjutkan oleh Prabu Yayati ke putranya Pururawa, dari istri keduanya yaitu Dewi Sarsmistha putri Raja Raksasa Prabu Wrishaparwa, hingga Prabu Citrasena (tujuh keturunan). Setelah Prabu Krisnadwipayana, tahta Hastinapura berpindah keketurunan Prabu Yayati dari istri pertama, yaitu Dewi Dewayani putri Resi Sukrasrya, (penasihat prabu Wrishaparwa, gurunya para raksasa). Dalam dunia yang nyata ini adalah gambaran berakhirnya masa Kenabian yang telah lama dipegang oleh bangsa Israil dan perpindah ke bangsa Arab (dari keturunan Ibrahim, dari keturunan Siti Sarah ke keturunan Siti Hajar). Prabu Pandudewanata beristri dua yaitu Dewi Kunthitalibranta dan Dewi Madrim. Dari Dewi Kunthi dan Dewi Madrim inilah tahta Hastinapura bersambung lagi ke dinasti Yayati, sebab Dewi Kunthi dan Dewi Madrim adalah keturunan Maharaja Yayati istri pertamanya, yaitu Dewi Dewayani. Garis darah dewi Kunthi : Dewi Kunthi – Sura – Andaka – Dewarata – Wrishni – Yadu (dari kerajaan Mathura) – Dewi Dewayanti. Garis darah Dewi Madrim : Dewi Madrim – Basurata/Mandrapati – Andaka – Dewarata – Wrishni – Yadu – Dewi Dewayani. Setelah Pandudewanata wafat, tahta Hastinapura secara sah jatuh ke Yudistira, putra Pandu yang Sulung (sebelumnya telah menjadi raja di Indaprastha/Amarta, yang akhirnya ditinggalkan setelah kalah main dadu). Yudistira naik tahta Hastinapura setelah para Pandawa dan Sekutunya mengalahkan Kurawa dan Sekutunya dalam perang besar Bharatayudha di Padang Kurusetra. Yudistira bertahta selama 37 tahun, kemudian tahta diturunkan kebuyut Pandu, cucu Arjuna, putri Abimanyu, yaitu Maharaja Parikesit, yang lahir ketika perang Bharatayuda berakhir, dan Parikesit adalah satu-satunya keturunan Pandawa yang selamat/masih hidup ketika perang Bharatayuda berakhir. Sesungguhnya ada kesalahan besar dari jawaban Pandawa ketika Krisna bertanya kepada para Pandawa menjelang perang Bharatayuda, “Apa yang di inginkan dari perang Bharatayuda?”. Yudistira menjawab “Menang perang”. Krisna bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Bimasena menjawab “Menang perang”. Begitu juga ketika ketiga kali Krisna bertanya, Arjuna menjawab “Menang perang”. Bagi Krisna Menang Perang adalah mutlak, tapi apalagi yang diharapkan Pandawa selain menang perang. Sayang Pandawa hanya menjawab “Menang perang”. dan itulah takdir, Pandawa pada akhirnya menang perang seperti yang diucapkan dihadapan Krisna, tapi putri dan istrinya mati semua kecuali Drupadi dan Parikesit. Parikesit naik tahta selama beberapa tahun, kemudian tahta Hastinapura diteruskan putranya Prabu Janamejaya. Ketika zaman/masa Prabu Janamejaya inilah kisah Mahabharata didaraskan-diceritakan-diriwayatkan oleh murid Begawan Abiyasa yaitu Waisampayana. Dari Maharaja Krisnadwipayana hingga masa hidupnya para Pandawa (Arjuna) dan Kurawa (Karno) dan Krisna (Sri Batara Krisna) dari bangsa Yadawa, inilah sesungguhnya adalah inti cerita Mahabharata yang alur ceritanya mirip dengan yang diberitakan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist. Apakah yang dimaksud perang Bharatayudha adalah perang Armageddon menurut kitab suci Al-Qur’an, Al-Hadis, Taurat dan Injil. Lalu siapakah pandawa dan siapakah kurawa. Dalam dunia yang nyata ini adalah masa dimana Dua Nabi Besar terlahir dari dua bangsa yang unggul hidup, yaitu Nabi Isa As. dari bangsa Israil dan Nabi Muhammad SAW dari bangsa Arab, yang keduanya adalah keturunan dari Nabi Ibrahim As., yang kedua Nabi Besar ini akan disatukan/bersatu melalui Al Mahdi dan Nabi Isa sendiri yang turun lagi ke dunia (yang sebelumnya Nabi Isa As diangkat ke langit oleh Allah SWT dan ditempatkan di langit kedua), untuk menyatukan umat di dunia/bumi dibawah satu panji-panji “Kalimah Allah”, inilah maksud yang diberitakan dalam Hadis Nabi : "Saya yang lebih dekat dengan Isa anak Maryam di dunia dan di akhirat. Semua nabi-nabi itu bersaudara karena seketurunan. Ibunya berlainan sedangkan agamanya satu" (HR. Bukhari No. 1501). Kita tahu baik Al Qur’an menceritakan bani Adam, dari Adam dan Hawa hingga hari akhir/hari kiamat, dan Mahabharata yang mengisahkan kepahlawanan manusia dari sebelum Prabu Nahusha, atau dari Batara Guru di Jonggringsalaka (puncak gunung Kailasa di India), hingga raja Hastinapura terakhir, Prabu Janamejaya. Usia bumi/dunia dan penghuninya sudah dibukukan/dipakemkan dan diceritakan dari awal hingga akhir, oleh dua kitab besar, Al Qur’an-Hadis dan Kitab Mahabharata, oleh Allah SWT sendiri melalui dua utusanNya, dua Nabi yang terdekat, Muhammad SAW dan Isa putra Maryam ketika berada di india. Karena itu kedua Kitab tersebut bisa saling menjelaskan. Ibarat wajah manusia untuk mengetahui bagian wajah yang kanan bisa menafsirkan dengan melihat bagian wajah yang kiri atau sebaliknya. Atau ibarat suami istri, (untuk mengisi data sensus penduduk) untuk mengetahui data identitas suaminya bisa bertanya pada istrinya atau sebaliknya, atau jika ada kedua-duanya bisa langsung bertanya kepada keduanya dalam waktu yang bersamaan, untuk menguatkannya bisa bertanya kepada tetangganya, sahabatnya atau saudaranya. Pada akhirnya kita tahu bahwa sekarang ini kita hidup dibumi/dunia, ketika manusia sudah atau baru menghuni bumi ± 7500 tahun, dan ketika utusan Allah SWT yang terakhir telah lewat 14 abad yang lalu, bumi masih stabil berputar pada porosnya (walaupun sudah bergeser beberapa derajat). Akhirnya bumi sudah memasuki episode zaman akhir yaitu kiamat sudah dekat meski masih lama dan akan melalui beberapa peristiwa-peristiwa besar sebelumnya yang telah digambarkan oleh Rasulallah SAW. Menurut hadis Rasulullah SAW yang dikabarkan sejak 14 abad silam, sekarang telah banyak tanda-tanda akan kemunculan Dua Pemimpin Umat Islam di Akhir Zaman yaitu keturunan dari dua bangsa besar Yahudi dan Arab, keturunan Ibrahim As, yang tanda-tanda kemunculannya di zaman akhir ini kini sudah banyak terjadi atau sudah terpenuhi. Mereka berpasangan untuk membasmi/membunuh Sang Pendusta Terakhir Dajjal, memenuhi bumi dengan keadilan dan Menegakkan akhlak Muhammad SAW. Menurut Mahabharata, zaman ini/saat ini Pandawa telah sampai pada masa mengakhiri masa pembuangan di hutan selama 12 tahun dan memasuki masa penyamarannya selama satu tahun di sebuah kerajaan yang tak boleh diketahui identitasnya. Ini artinya sebentar lagi Krisna dan Arjuna akan bergabung sebagai pasangan yang sudah digariskan oleh Sang Hyang Widhi untuk memusnahkan sang durjana, membasmi kejahatan, menegakkan keadilan. Dua Pemimpin Umat ini atau Dua Wisnu ini diturunkan di dunia untuk membangun zaman keemasan islam kedua di muka bumi ini, sebuah negeri yang tertulis dengan Tinta Emas di lembaran kitab yang nyata “Lauhul Mahfus”, sebuah negeri Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur atau yang tertulis di Mahabharata, sebuah negeri Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Kerta Raharja. Kisah Kehidupan Abiyasa Dalam Kitab Suci Kelahiran Abiyasa Dalam Epos Mahabarata tertulis : Dewi Setyawati putri raja Basukethi dari kerajaan Wiratha, meninggalkan kerajaan untuk mencari kesembuhan dari menderita penyakit Keringat Berbau Busuk, Ia mendapat petunjuk, penyakitnya akan sembuh oleh seorang Brahmana yang menyeberangi Sungai Yamuna. Ia pergi ke arah timur ke arah Sungai Yamuna. Disana lalu ia menjadi anak angkat tukang sampan dan menggantikan pekerjaan Bapak Angkatnya. Karena penyakit ini tak ada orang yang naik perahu sehingga dia diasingkan orang-orang dan menambah siksaan batin. Tetapi ayah angkatnya selalu menghiburnya hingga ia tidak menyerah dan tabah untuk menghadapinya. Pada suatu saat Begawan Parasara menumpang perahu, dia satu-satunya penumpang. Dan Ia terkseima, dari wajah/dahi putri ini terlihat sinar yang memancar. Ia tahu putri ini bukanlah orang sembarangan dan pertanda bahwa putri ini akan melahirkan seorang keturunan yang mulia. Bertanyalah Parasara “Siapakan Dinda?” Dewi Setyawati lalu menceritakan tentang dirinya. Kemudian dengan kesaktian yang dimiliki Parasara, sembuhlah penyakit Dewi Setyawati, bahkan dalam sekejap berubah menjadi putri yang harum semerbak. Dewi Setyawati lalu diperistri Parasara, dan dikarunia seorang anak laki-laki dan diberi nama Abiyasa. Ketika lahir, anak ini menjadi dewasa seketika, bahkan kuat dan segera berpisah dengan ibunya. Abiyasa kemudian diajak untuk mengikuti bapaknya dan bertempat tinggal di Bukit Sapta Arga. Dewi Setyawati mempunyai arti Wanita Yang Setia. Seorang wanita yang setia ini adalah gambaran salah satu karakter atau kepribadian seorang wanita yang tertulis dalam Al Qur’an, yaitu Siti Maryam, putri dari Imran dan Hana. Maryam sendiri berarti “tidak ada aib padanya”, Ia juga seorang wanita yang “terpilih, suci, utama, taat, terberkati dan wanita yang memlihara kehormatannya dan bukan wanita pezina. 42. Dan Ingatlah ketika Malaikat berkata “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, mensucikanmu dan melebihkanmu diatas segala perempuan diseluruh alam (pada masa itu). 43. Wahai Maryam! Taatilah Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang Rukuk. (Ali Imran : 42 - 43) Dia (Maryam) berkata “bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorarng penzina.” (Maryam : 20) Dan (Ingatlah Kisah Maryam) yang Memelihara Kehormatannya, lalu kami tiupkan (roh) dari kami kedalam (tubuhnya). Kami jadikan dia dan anaknya sebagai tanda (kebesaran Allah) bagi seluruh alam. (Al Anbiya : 91) Dan Maryam Putri Imran uang Memelihara Kehormatannya, maka kami Tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) kami. Dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhan-Nya dan Kitab-kitabnya, dan dia termasuk orang-orang yang taat. (At Tahrim : 20) Al Masih Putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu beberapa rasul, dan ibunya seseorang yang sangat Benar,... (Al Maidah : 72) Dewi Setywati menjadi gunjingan orang-orang sehingga dia meninggalkan kerajaan pergi ke arah timur ketempat yang jauh, karena penyakit kulit yang berbau amis. Siti Maryam menjadi gunjingan orang-orang sehingga dia meninggalkan Baitullah ketempat yang jauh, karena mengandung tanpa suami (karena kehendak Allah). Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al Qur’an), (yaitu) ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. (Maryam : 16) Maka dia (Maryam) mengandung, lalu dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. (Maryam : 22) Dewi Setyawati karena penyakitnya (dijauhi orang-orang, tak ada yang menumpang perahunya) ia menderita siksaan batin yang berat, tetapi Ayah Angkatnya menghiburnya, sehingga ia tidak menyerah (tetap tabah). Siti Maryam ketika kandungannya semakin besar dan sakit karena akan melahirkan, ia menjadi putus asa, tetapi Malaikat Jibril datang menghiburnya. Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (maryam) berkata “wahai betapa baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” “maka dia (jibril) berseru dari tempat yang rendah “jangan engkau bersedih hati, sesungguhnya tuhanmu telah menjadikan anak sungai dibawahmu.” “dan goyahlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak padamu.” “maka, makan, minum dan bersenanghatilah engkau. (Maryam : 23 – 26) Dewi Setyawati menikah dengan Begawan Parasara dan lahirlah anak laki-laki yang diberi nama Abiyasa. Siti Maryam melahirkan anak laki-laki di Baitul Lahmi (Betlehem), diberi nama Isa (Al Masih Isa Putra Maryam). Kemudian Maryam dan putranya pindah dan menetap di Nashirah (Nasaret), tempat ini pada akhirnya dinisbatkan kepada pengikut Isa, yaitu orang-orang Nasrani. Karena Isa pada masa kecilnya dibesarkan ditempat ini dan menjadi kampung halamannya, maka disebut Isa anak Nasaret (Isa orang dari Nasaret). “Isa anak nasaret” Dalam bahasa Mahabharata “Abiyasa anak Parasara” Nama Parasara dalam mahabharata mengartikan tempat yang disamarkan dari nama kota atau tempat Nashara. (Ingatlah) ketika para Malaikat berkata “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (Firman) dari-Nya, (yaitu seorang putra) namanya Al Masih Isa Putra Maryam, seorang terkemuka didunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (Kepada Allah). (Ali Imran : 45) Dia (Jibril) berkata “sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci. (Maryam : 19) Isa Putra Maryam Ketika Bayi Dalam Ayunan Sudah Berbicara Untuk Menjelaskan Dirinya Dan dia berbicara dengan manusia (sewaktu) dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk diantara orang-orang yang saleh. (Ali Imran : 46) Dan ingatlah, ketika Allah berfirman.”.., engkau dapat berbicara dengan manusia diwaktu dalam buaian dan setelah dewasa..…. (Al Maidah : 110) maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?" Dia (Isa) berkata “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” ” dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. (Dan Maryam : 29 – 31) Abiyasa dibawa Bapaknya dan ditempatkan di Bukit Sapta Arga (Tujuh Gunung) Tatkala agama yang dibawa oleh Nabi Isa AS menyebar ke berbagai pelosok dan orang-orang berbondong-bondong mengikutinya. Orang-orang Yahudi yaitu kaum Farisi dan Saduki mulai cemas, kaum ini bersekongkol dengan raja Herodes untuk menangkap dan membunuh Isa, yang dibantu seorang muridnya yang berkhianat yaitu Yudas anak Eskariot. Maka Allah menyerupakan muridnya itu serupa dengan Isa, dan Nabi Isa diselamatkan Allah diangkat ke langit (Langit Tujuh) dari Baitul Maqdis. Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” “(Ingatlah), ketika Allah berfirman “wahai Isa, aku mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku, serta mensucikanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu diatas orang-orang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada-Ku engkau kemabali, lalu Aku beri keputusan tentang apa yang kamu perselisihkan. (Ali Imran : 54 – 55) Dan karena ucapan mereka : sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuh) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu.Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu Isa.” “Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat isa kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An Nisa: 157 – 158) Dewi Setyawati Pendayung Sampan Dewi Setyawati menggantikan Bapak Angkatnya sebagai pendayung sampan menyeberangi Sungai Yamuna. Sungai Yamuna beraliran deras dan lebar, dengan alat penyeberangan yang kecil, diperlukan ketrampilan yang tinggi dan tenaga yang besar, mestinya dikerjakan oleh laki-laki perkasa. Dewi Setyawati anak raja pastinya berperasaan lembut, berkulit halus, cantik dan bertenaga kecil, tapi berpenyakit “keringat berbau amis.” Dengan menumpang sampan saja, diterik matahari dan derasnya Sungai Yamuna, sudah membuat perasaan cemas, gemetar dan mengeluarkan keringat, apalagi menjadi tukang sampan, membuat kecil hati yang mau menumpang dan membuat perjalanan tidak nyaman karena bau yang tidak sedap, sehingga dijauhi orang-orang dan tidak ada yang mau menumpang. Hal ini membuat putus asa, beruntung Bapak Angkatnya mengerti dan membesarkan hatinya. Penderitaan Dewi Setyawati sebagai pendayung sampan itulah gambaran penderitaan Siti Maryam yang “hamil” karena akan melahirkan seorang yang mulia atas kehendak Allah. Bapak Angkat Dewi Setyawati Selagi hidup di lingkungan tembok, di dalam bilik Baitul Maqdis, Malaikat Jibril sesekali datang memberi/meletakkan makanan (buah-buahan). Ketika Siti Maryam putus asa, karena kehamilan “Ruh-Nya”, tanpa disentuh lelaki, semakin besar, ia pergi ketempat yang jauh, kelelahan, bersandar pada batang pohon kurma dan putus asa. Karena Imran bapaknya adalah seorang yang saleh, penjaga Masjid Aqsa, tapi ia lahir perempuan. Walaupun ia lahir perempuan ia sendiri sedari kecil sudah menunjukkan kelasnya sebagai ciri wanita yang saleh, sehingga Allah memilihnya sebagai tumpuan Ibu dari seorang Nabi pilihan, tapi jalan yang dikehendaki Allah diluar pikiran dan perkiraan manusia, tak terbayangkan sebelumnya oleh Siti Maryam. Bahkan kelahiran Isa Ibnu Maryam akan melengkapi hukum ketiga yaitu seorang anak yang lahir tanpa Bapak, setelah hukum pertama Nabi Adam lahir tanpa Bapak dan ibu, hukum kedua Siti Hawa lahir tanpa seorang ibu. Ketika Siti Maryam putus asa, Malaikat Jibril mendatanginya lagi, menghiburnya dengan buah kurma dan anak sungai. Sungai Yamuna Sungai Yamuna adalah bagian hulu Sungai Gangga. Sungai ini membatasi negeri Wiratha dengan negara lain dan keberadaan sungai ini kebetulan ada di sebelah timur Wiratha (untuk menghubungkan dengan negara lain dibutuhkan sampan). Sungai ini juga berarti membatasi dua buah wilayah/tempat yang sukar dilalui. Karena masalah ini adalah masalah penciptaan Isa Ibu Maryam, maka sungai ini secara simbolis diartikan pembatas bumi dan langit, dan untuk itulah tugas Malaikat Jibril sebagai penghubung berita antara Allah SWT dilangit dengan makhluknya dibumi yang dikehendaki-Nya. Dan yang tak kalah penting bahwa Sungai Yamuna yang keberadaannya sebelah timur negara Wiratha, ini pada akhirnya/cerita selanjutnya akan menjadi simbol/tanda dimana turunnya Nabi Isa As sebagai “Juru Selamat Dunia” di zaman akhir. Kiah-Kisah Serupa Tapi Tak Sama Ketampanan : Arjuna Dan Nabi Yusuf As Wajah Arjuna tampan tiada bandingan sehingga mendapat gelar Ksatria Lelananging Jagat. Nabi Yusuf As dianugerahi wajah tampan 9 dari 10 keelokan dunia. “Maka tatkala wanita itu mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau, lalu dia berkata (kepada Yusuf): ”Keluarlah kepada mereka!” Tatkala para wanita itu melihatnya, mereka kagum akan (ketampanannya), dan mereka mengiris jari mereka dan berkata: “Maha Suci Allah. Ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain adalah malaikat yang mulia.” (Yusuf: 31) Berguru: Karno Kepada Parasurama Dan Abu Bakar Kepada Rasulallah Parasurama tidur di pangkuan Karno, seekor kalajengking menyengat pahanya hingga berdarah, Karno “diam” menahan sakit, agar Gurunya/ Parasurama yang tertidur di pangkuannya tidak terbangun. Rasulullah SAW dan Abu Bakar As Sidik berada di gua, Rasulullah tertidur di pangkuan Abu Bakar, seekor kalajengkin menyengat pahanya, Abu Bakar “diam” menahan rasa sakit, agar Rasulullah yang tertidur di pangkuannya tidak terbangun. Sebelum Nabi memasuki Gua Tsur, Abu Bakar masuk terlebih dahulu untuk memeriksa keadaan gua itu, apakah aman untuk bersembunyi atau tidak. Dalam gua itu, biasanya ditempati oleh binatang-binatang buas dan serangga berbisa. Setelah Abu Bakar memeriksanya dan dianggap aman, baru memberitahu Nabi agar beliau masuk ke dalamnya. Dalam gua itu, karena sangat lelah, Nabi tertidur, meletakkan kepalanya di paha Abu Bakar. Kaki Nabi terlihar melepuh bengkak, karena beliau berjalan tanpa alas kaki. Sewaktu memangku Nabi yang sedang tidur itu, tiba-tiba Abu Bakar melihat di dekat jempol kakinya ada lubang yang luput dari pengamatannya. Dari lubang itu akan keluar kalajengking besar yang siap menyengat. Abu Bakar segera menutup lubang itu dengan ibu jari kakinya. Segera setelah itu dirasakan olehnya sengatan kalajengking yang sangat menyakitkan, sehingga sengatan itu seolah-olah dirasakan sampai ke ulu hati. Menahan sakit yang luar biasa itu, mengakibatkan badan Abu Bakar menggigil dan seluruh tubuhnya gemetar, sehingga Nabi terjaga dari tidurnya. Baru Nabi mengetahuii apa yang terjadi. Dengan cepat beliau berusaha mengeluarkan bisa dari ibu jari Abu Bakar serta kemudian mengobatinya dan berdoa, sehingga Abu Bakar sembuh. (M. Muhyiddin, Sayyiduna Muhammad Nabi al-Rahman, hal. 60) Istana Termegah : Batara Kuwera Dan Nabi Sulaiman As Istana Indraprasta/Amarta dibangun oleh raksasa Anggaraparna, salah satu kepercayaannya Batara Kuwera, Dewa Kekayaan. Tidak ada Istana di muka bumi yang menyamai kemegahan istana yang dibangun dengan kekuatan surgawi Batara Kuwera, juga dilengkapi dengan kolam raksasa yang indah berbentuk bulat. Istana ini hanya dipakai sebentar, sampai sebelum Pandawa bermain dadu. Istana Sulaiman As dibangun oleh seluruh Pasukan termasuk jin dan manusia, sehingga menghasilkan Istana yang “termegah” dimuka bumi, di sana ada kolam raksasa yang bundar, Istana ini dipakai sebentar rusak/hancur setelah Nabi Sulaiman meninggal dunia. “Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana.” Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikirinya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya”. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca.” Berkatalah Bilqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (An-Naml : 44). Hamil Tanpa Suami : Dewi Prita Dan Siti Maryam Dewi Prita ketika masih “perawan” hamil tanpa suami, karena anugerah Dewa Matahari. Siti Maryam hamil ketika masih “perawan” (tidak disentuh laki-laki) karena kehendak Illahi, dengan perantaraan Malaikat Jibril yang dikuatkan dengan Ruhul Qudus. Menjadi Dewasa : Abiyasa Dan Nabi Isa As Abiyasa menjadi dewasa seketika setelah dilahirkan. Nabi Isa As berbicara dengan orang disekelilingnya ketika masih dalam ayunan. Dan bayi yang masih dalam ayunan dari keluarga Zulaikha tiba-tiba berbicara memberi kesaksian peristiwa Yusuf dengan Zulaikha. Isau/Ish saudara Yaqub sudah berbicara ketika dalam kandungan. Dihanyutkan Di Sungai : Basukarno Dan Nabi Musa As Basukarno sesaat dilahirkan oleh Dewi Prita, dimasukkan kedalam kotak dan dihanyutkan disungai Gangga, ia dipungut oleh kusir kereta Istana Hastinapura, ia diasuh oleh Radeya dan dijadikan anak angkat, setelah dewasa mengabdi pada Kurawa dan menjadi Adipati di Awangga. Musa sesaat dilahirkan dimasukkan kotak oleh Ibunya dan dihanyutkan di sungai Nil, diasuh oleh Aisiah dan dijadikan anak angkat oleh Fir’aun, setelah dewasa menjadi Nabi. Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa;"Susukanlah dia dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke dalam sungai (Nil). Dan jangnalah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikanya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentara-tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah istri Fir'aun;" (ia) biji mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedangkan mereka tiada menyadari. (Al Qhashas : 7-9). Cepat Tua : Prabu Yayati Dan Nabi Ibrahim Prabu Yayati dikutuk oleh Bapak Mertuanya, Resi Sukrasarya, sehingga Prabu Yayati menjadi “tua sebelum waktunya.” Nabi Ibrahim adalah orang yang pertama kali “ubanan”, uban adalah rambut yang memutih sebagai salah satu tanda “ketuaan.” Disebutkan dalam riwayat Imam Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Manusia yang pertama kali melihat uban adalah Ibrahim AS. Lalu ia berkata: “Ya Rabbi apa ini?” Allah SWT menjawab: “Ini adalah kemuliaan dan kelembutan wahai Ibrahim”. Lalu Nabi Ibrahim AS., berkata: “Ya Rabbi tambahkanlah kepadaku kemuliaan dan kelembutan”. Menghidupkan Orang Mati : Wijayakusuma, Resi Sukrasarya Krisna dan Nabi Isa Resi Sukrasarya dengan ilmu Sanjiwini dan Krisna dengan Cangkok Wijayakusuma, bisa menghidupkan orang mati. Nabi Isa As. bisa menghidupkan orang mati. Terbang : Raden Gatotkaca Dan Nabi Sulaiman As Raden Gatotkaca bisa “terbang” di angkasa, juga Krisna. Nabi Sulaiman As. melakukan perjalanan dengan “tikar terbang.” Dalam tradisi muslim dikatakan bahwa Sulaiman biasa melakukan perjalanan jauh menggunakan karpet yang dibawa oleh angin. Ibnu Katsir berkata tentang Surat Al-Anbiyya 21:81, "Sulaiman memiliki tikar yang terbuat dari kayu di mana ia selalu meletakkan semua peralatan kerajaannya, kuda, unta, tenda, pasukan dan lainnya, maka ia memerintahkan angin untuk membawanya dan Sulayman akan terbang di bawahnya kemudian tikar itu akan membawanya terbang tinggi, membayangi dan melindungi Sulaiman dari sengatan sinar matahari yang panas, sampai mencapai daratan. Lalu tikar itu akan mendarat dan menaruh rombongan dan peralatannya. (Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) (Surat Al-Isra', ayat 39 sampai akhir Surat Al-Mu'minun). Menahan Laju Matahari : Krisna, Nabi Yusha As Dan Ali Bin Abu Thalib Krisna membuat matahari seolah-olah “dipercepat malam.” Nabi Yusha As dan Ali bin Abu Talib adalah dua orang yang karenanya matahari “ditahan sesaat.” Setelah Nabi Musa as wafat, Nabi Yusya' bin Nun as membawa Bani Israil ke luar dari padang pasir. Mereka berjalan hingga menyeberangi sungai Yordania dan akhirnya sampai di kota Jerica. Kota Jerica adalah sebuah kota yang mempunyai pagar dan pintu gerbang yang kuat. Bangunan-bangunan di dalamnya tinggi-tinggi serta berpenduduk padat. Nabi Yusya' dan Bani Israil yang bersamanya, mengepung kota tersebut sampai enam bulan lamanya. Suatu hari mereka bersepakat untuk menyerbu ke dalam. Diiringi dengan suara terompet dan pekikan takbir, dan dengan suatu semangat yang kuat, mereka pun berhasil menghancurkan pagar pembatas kota, kemudian memasukinya. Di situ mereka mengambil harta rampasan dan membunuh dua belas ribu pria dan wanita. Mereka juga memerangi sejumlah raja yang berkuasa. Mereka berhasil mengalahkan sebelas raja dan raja-raja yang berkuasa di Syam. Hari itu hari Jumat, peperangan belum juga usai, sementara matahari sudah hampir terbenam. Berarti hari Jumat akan berlalu, dan hari Sabtu akan tiba. Padahal menurut syariat, pada hari itu (Sabtu) dilarang melakukan peperangan. Oleh karena itu Nabi Yusya' berkata, "Wahai matahari, sesungguhnya engkau hanya mengikuti perintah Allah, begitu pula aku. Aku bersujud mengikuti perintahNya. Ya Allah, tahanlah matahari itu untukku agar tidak terbenam dulu." Maka Allah menahan matahari agar tidak terbenam sampai dia berhasil menaklukan negeri ini. dan memerintahkan bulan agar tidak menampakkan dirinya. Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya matahari itu tidak pernah bertahan tidak terbenam hanya karena seorang manusia kecuali untuk Yusya'. Yakni pada malam-malam dia berjalan ke Baitul Maqdis (untuk jihad)." (HR. Ahmad dan sanad-nya sesuai dengan syarat Al-Bukhori) Istri : Wisnu Dan Nabi Sulaiman As Wisnu beristri 1000. Nabi Sulaiman As. beristri 700 wanita, Daud beristri 100 wanita. Mustafa dalam bukunya al Mar’ah baina al Fiqh wa al Qur’an menjelaskan bahwa di dalam kitab Taurat (kitab yang kemudian menjadi rujukan orang Kristen) menceritakan mengenai Nabi Daud a.s. yang memiliki 99 istri dan ditambah 1 lagi menjadi 100 istri. Dan Nabi Sulaiman a.s. memiliki 700 istri permaisuri dan ditambah 300 istri selir sehingga semuanya 1000 istri. Dalam Raja-raja 11:3 sebagai berikut : 1. Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het, 2. padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: "Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka." Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta. 3. Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN. Nama-Nama : Yang Mustahil Dan Yang Wajib Mahabharata tertulis nama-nama yang “mustahil” bagi Allah yang berjumlah 100, yang disimboliskan dengan Kurawa 100. Dalam Al-Qur’an tertulis Asmaul Husna 99 nama ditambah Asma Allah itu sendiri (Allahu ladhi la Ilaha illa Huwa) maka berjumlah 100 (kurang satu). Kebutaan : Dustarastra Dan Dajjal Dustarastra terlahir dengan kedua matanya “buta”, dan mempunyai kesaktian dikedua telapak tangannya. Dajjal sang pendusta yang terakhir adalah mahkluk/manusia yang terlahir dengan buta mata sebelah kanan (mata satu). Hadis riwayat Anas bin Malik ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidak seorang nabi kecuali ia telah memperingatkan kaumnya terhadap sang pendusta yang buta sebelah mata. Ketahuilah bahwa Dajjal itu buta sebelah matanya sedangkan Tuhanmu tidak buta sebelah mata dan di antara kedua matanya tertulis “kaaf”, “faa”, “raa” Beristri Kakak Beradik : Abiyasa/Krisnadwipayana Dan Nabi Yaqub As Abiyasa/Krisnadwipayana mempunyai istri “kakak beradik” yaitu Dewi Ambika dan Dewi Ambalika putri negara Kasi. Nabi Yaqub As beristri “kakak beradik” putri Laban pamannya sendiri, yaitu Layya dan Rahiel, juga menikahi budak Layya: Zulfa dan budak Rahiel yaitu Balhah. Di rumah Laban kini giliran Yakub yang ditipu (Kejadian 29:1-30). Yakub jatuh cinta kepada anak perempuan Laban, Rahel. Untuk mendapatkan Rahel, Laban menyuruh Yakub bekerja selama tujuh tahun. Namun setelah masa tujuh tahun itu lewat, Laban, dengan tipu muslihatnya, justru memberikan Lea, kakak Rahel, untuk dinikahi Yakub. Karena lebih cinta kepada Rahel, Yakub setuju untuk bekerja tujuh tahun lagi. Setelah mendapatkan keturunan dari Lea dan Rahel, Yakub berniat kembali ke kampung halamannya. Sebelum itu, Laban berjanji membayar Yakub untuk pekerjaannya. Yakub "hanya" meminta kambing-domba yang hitam, berbintik-bintik, dan belang-belang sebagai upahnya (Kejadian 30:25-43). Sementara Laban bebas mengambil semua kambing-domba yang putih. Pengalamannya sebagai penggembala telah mengajar Yakub tentang hukum keturunan (yang kelak dikenal sebagai hukum Mendel). Dengan demikian Yakub mendapatkan ternak yang bagus-bagus, sementara Laban mendapatkan yang kurang bagus. Tidak Mati : Yudistira Dan Nabi Idris As, Nabi Al Kidir As, Nabi Ilyas As, Nabi Isa As Yudistira tidak mengalami kematian, ia masuk surga bersama jasadnya. Nabi Idris As, Nabi Al Kidir As, Nabi Ilyas As, tidak mengalami kematian dan langsung naik ke langit dan Nabi Isa As juga belum mati. Titisan, ahli silsilah : Sri Barata Krisna, Arjuna dan Ulama Pewaris Nabi. Sri Barata Krisna dan Arjuna adalah “titisan” dari Batara Wisnu, Sang pelindung dunia. Di dalam Islam ada Ulama Pewaris Nabi, yaitu Waliya Mursyida yang turun-temurun menurut “ahli silsilah”, hingga akhir zaman. “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.” (Fathir : 32) Ibnu Katsir menyatakan: Allah berfirman: “Kemudian Kami menjadikan orang-orang yang menegakkan (mengamalkan) Al-Kitab (Al-Quran) yang agung sebagai pembenar terhadap kitab-kitab yang terdahulu yaitu orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, mereka adalah dari umat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/577) Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Ayat ini sebagai syahid (penguat) terhadap hadits yang berbunyi Al-’Ulama waratsatil anbiya (ulama adalah pewaris para nabi).” (Fathul Bari, 1/83) diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, katanya: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673) “Akan senantiasa ada (tidak akan hilang) di antara ummatku sekelompok orang yang eksis di atas kebenaran (al-jama’ah/thoifah al-manshuroh), tidak membahayakan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka sehingga datang ketetapan Allah, sedangkan mereka tetap dalam keadaan demikian.“ (HR. Muslim) Kunci Kekayaan : Batara Kuwera Dan Nabi Sulaiman As Batara Kuwera, Dewa Kekayaan, pemegang “kunci kekayaan” dunia. Nabi Sulaiman As memegang “kunci perbendaharaan/kekayaan” dunia, kemudian dilanjutkan oleh Nabi Kidir As. Utusan : Batara Narada Dan Malaikat Jibril Batara Narada adalah “utusan” para Dewa, yaitu penghubung antara manusia dan dewata. Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan manusia. Kecemburuan : Dewi Dewayani Dan Siti Sarah, Aisyah ra Dewi Dewayani “marah/cemburu” ketika suaminya dengan diam-diam kawin lagi. Siti Sarah “cemburu” ketika Siti Hajar melahirkan putra lebih dahulu. Sarah adalah seorang wanita cantik. Pada waktu itu raja-raja Hyksos biasa mengambil wanita-wanita bersuami yang cantik-cantik. Nabi Ibrahim memperlihatkan seolah-olah Sarah adalah saudaranya. Ia takut dibunuh dan Sarah akan diperistrikan raja. Raja memang bermaksud akan memperisterikannya. Tetapi ia tidak bisa mewujudkan keinginannya karena Sarah dijaga oleh Allah swt. Sarahpun akhirnya diberi beberapa hadiah di antaranya seorang gadis belian bernama Hajar. Karena sudah bertahun-tahun Sarah dengan Ibrahim belum juga memperoleh keturunan, maka Sarah menyuruh nabi Ibrahim untuk bergaul dengan Hajar, yang tidak lama kemudian mempunyai keturunan yaitu Ismail. Dari lahirnya keturunan bagi nabi Ibrahim inilah maka timbul rasa cemburu pada siti Sarah yang merupakan istri pertama namun belum mampu memberikan buah hati bagi suami tercintanya. Akhirnya siti Sarah meminta nabi Ibrahim untuk memindahkan siti Hajar dari tanah palestina yang merupakan tempat tinggal nabi Ibrahim bersama kedua istrinya tersebut. Akhirnya siti Hajar dipindahkan ke tanah Hijaz dan ditinggalkan di sana bersama anak yang baru lahir tersebut. Siti Sarah yang tidak ingin mengecewakan nabi Ibrahim selalu berdo'a siang dan malam agar diberi keturunan oleh Allah swt. Selang beberapa tahun akhirnya do'a siti Sarah dikabulkan oleh Allah swt. Siti Sarah melahirkan seorang putra yang diberi nama Ishaq. Ishaq adalah seorang putra yang lahir dari rahim orang yang sudah tua, namun karena ijin Allah maka hal ini bisa terjadi. Aisyah cemburu ketika Rasulullah SAW memuji-muji Khatijah istri pertamanya. Aisyah berkata, “Aku merasa cemburu terhadap istri-istri Nabi melebihi kecemburuanku terhadap Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya. Akan tetapi, Nabi banyak menyebut-nyebut dan memuji-muji dirinya. Terkadang, beliau menyembelih seekor kambing, kemudian mencincangnya, lalu mengirimkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Aku katakan kepada Nabi bahwa seakan-akan tidak ada perempuan lain di dunia. Maka, Nabi pun menjawab, ‘Khadijah adalah perempuan mulia dan bertakwa. Hanya dengan Khadijahlah aku mendapatkan keturunan. Nabi menikahiku setelah tiga tahun Khadijah meninggal.’” (HR. Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi) Khadijah adalah sebaik-baik perempuan di dunia ini. Ia adalah orang pertama yang menjadi pengikut Rasulullah. Sikapnya tidak seperti istri-istri nabi Luth san Nabi Nuh yang membangkang dan mendurhakai suaminya. Ialah yang menyebabkan langkah dakwah Rasulullah semakin ringan. Ali meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Sebaik-baik perempuan di dunia (pada zamannya) adalah Maryam putri Imran, dan sebaik-baik perempuan pada umat ini adalah Khadijah.”(HR. bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi). Iktikaf, Mengasingkan Diri, Berkhalwat, Bertapa : Arjuna, Bratasena Dan Nabi Musa As, Muhammad Bin Abdullah, Seluruh Nabi-Nabi. Arjuna “berbertapa” di gunung Indrakila dan mendapatkan “pasopati” senjata yang akan digunakan dalam perang besar Bharatayuda. Bratasena mendapatkan “7 sarang angin” digunung dan mendapatkan “air perwitasari” di tengah lautan. Nabi Musa As naik ke gunung Thursina selama 40 hari untuk “berkhalwat” dan mendapatkan 10 perintah Tuhan. Muhammad bin Abdullah “berkhalwat” di gua Hira dan mendapatkan “wahyu” Illahi. Seluruh Nabi-nabi juga berkhalwat/iktikaf. Kecurangan : Dewa Indra Dan Nabi Daud As Dewa Indra karena kecurigaan, ia membunuh Wiswarupa yang saleh, karena dosa Indra ini bumi mengalami bencana, tetapi Indra masih membunuh Writra dengan tipu muslihat. karena malu ia pergi menyembunyikan diri, ia kehilangan tahta dan menjadi pelarian. Nabi Daud As memperistri Tasyayi binti Shuwari, yang adalah istri Uria bin Hana dengan cara yang licik/kotor. Allah menegur Daud As dengan mengutus dua malaikat dalam rupa dua orang yang sedang bersengketa kambing. Daud tersungkur dan sujud selama 40 malam sambil menangis dan tidak mengangkat kepalanya karena malu kepada Allah. Setelah diampuni oleh Allah, ia melepaskan jabatan kepada putranya Sulaiman dan meninggalkan Bani Israil dan menetap di sebuah gunung. Tempat Tinggi : Jonggringsalaka, Sapta Arga Dan Arsy Para dewa tinggal di “puncak gunung” di Jonggringsalaka (puncak gunung Kailasa). Abiyasa tinggal di “sapta arga/tujuh gunung.” Para Malaikat tinggal di “langit.” (alam malakut). Allah SWT bertahta di “arsy” Tidak Boleh Menetes Darah : Yudistira Dan Nabi Yahya As Yudistira jika terluka “darahnya tidak boleh menetes” ke tanah, sebab tanah bisa menjadi gersang. Darah Yahya As ketika terbunuh “tidak boleh menetes” di tanah, sebab tanah bisa menjadi gersang. Mati Karena Wanita : Bisma Dan Nabi Yahya As Bisma mati dipadang Kurusetra dalam perang besar Bharatayuda oleh seorang perempuan (waria) yaitu Srikandi. Srikandi adalah reinkarnasi dari Dewi Amba seorang perempuan yang tidak sengaja “terbunuh” oleh Bisma. Bisma mati tidak beristri/brahmacarin. Bisma termasuk saudara tua dari Abiyasa. Nabi Yahya As meninggal dunia di penggal kepalanya oleh Herodes, ia mengkritik dan melarang Herodes, karena selingkuh dan merebut istri dari adiknya sendiri, ia melarang/tidak mengijinkan Herodes karena akan memperistri keponakannya sendiri/anak dari istri yang direbutnya. Yahya As mati sebelum beristri. Yahya selain sebagai “Guru” bagi nabi Isa As, ia juga saudara “tua” Nabi Isa As (Hana ibunda Maryam, adalah adik dari Elisabet istri Zakaria, Mayram Ibunda Isa dan Elisabet Ibunda Yahya). Kematian Peperangan Dan Penyakit Putra Dari : Dewi Setyawati Dan Siti Maryam Dewi Setyawati setelah “ditinggal” begawan Parasara, (dan sesuai dengan pesan Parasara), menikah lagi dengan Prabu Sentanu Raja Hastinapura, ia berputra Prabu Citrangada dan Prabu Citrasena, kedua putra naik tahta bergantian dan keduanya mati muda, Citrangada meninggal karena “peperangan” dan Citrasena meninggal karena “penyakit.” Siti Maryam setelah melahirkan putranya Isa, kemudian dinikahi oleh Yusuf (masih keturunan Daud), dikaruniai beberapa putra, semuanya meninggal karena “peperangan” (melawan Romawi) dan meninggal karena “penyakit.” Belum Menikah : Abiyasa Dan Isa Ibnu Maryam Abiyasa belum menikah sampai “dibawa bapaknya” ke Sapta Arga/tujuh gunung, dan “menikah” setelah “turun” sebagai Maharaja Hastinapura dengan gelar Krisnadwipayana. Isa Ibnu Maryam belum menikah sampai “diangkat ke langit” oleh Allah SWT pada usia 33 tahun. Sabda Rasulullah SAW, Isa As akan menikah sebagaimana umumnya ketika “turun lagi” ke bumi di akhir zaman. Pergi Karena Aib : Dewi Setyawati Dan Siti Maryam Dewi Setyawati putra raja Basukethi dari kerajaan Wiratha, pergi dari kerajaan untuk mencari kesembuhan dari penyakit “keringat berbau busuk/amis” semenjak dewasa. Siti Maryam meninggalkan Masjid Aqsa (Maryam putri Imran pelayan Masjid Aqsa), karena “hamil tanpa suami” setelah remaja (karena kehendak Allah SWT). Tidak Lulus : Karno Dan Nabi Musa As Karno belajar panah pada Parasurama, karena menipu Karno “tidak lulus.” Nabi Musa As belajar/berguru kepada Nabi Khidir, “tidak lulus” karena tidak bersabar, melanggar untuk tidak bertanya sebelum dijelaskan. Diusir : Pandawa Dan Nabi-Nabi Pandawa diusir dari Hastinapura selama 13 tahun. Nabi-nabi sebagian besar diusir dari tanah kelahirannya. Salah Kasih/Memberi : Arjuna Ke Karno Dan Isau Ke Yaqub Ketika Para Dewa akan memberikan pusaka “Kuntawijayandanu” kepada Arjuna yang sedang bertapa/berbertapa, Dewa salah memberikannya kepada Karno sebab wajah Karno dan Arjuna sangat mirip bagai pinang dibelah dua, karena Karno dan Arjuna adalah kakak-beradik dari satu Ibu tetapi beda Bapak. Ishaq berputra Isau dan Yaqub, Isau disayangi Ishaq/bapaknya dan Yaqub disayangi Rifkah/Ibunya. Ketika Ishaq sudah tua dan buta kedua matanya, Ishaq berkeinginan untuk “mendoakan” Isau, istrinya mengetahui dan segera menghubungi Yaqub, Yaqub agar segera menghadap Bapaknya dan berpura-pura menjadi Isau dengan membawa persembahan kambing guling dan berbaju kulit kambing yang terbalik, sebab badan Isau berbulu lebat, akhirnya Yaqub “didoakan” Ishaq/ Bapaknya. Menikahi Janda Dari : Citrangada, Citrasena Dan Yusuf Atas musyawarah sesepuh Hastinapura, Abiyasa diminta untuk bertahta di Hastinapura, juga untuk menikahi janda-janda dari Prabu Citrangada dan Prabu Citrasena yang meninggal ketika masih muda dan belum mempunyai keturunan (Citrangada dan Citrasena adalah adik Abiyasa dari Bapak yang lain) agar darah/dinasti Bharata tidak terputus, anak yang diturunkan berdasarkan Musyawarah ini dianggap sebagai keturunan “pendahulunya” yang “sah”, pernikahan ini akhirnya melahirkan Dustarasta dan Pandu, Dustarastra melahirkan Kurawa dan Pandu melahirkan Pandawa. Pandawa dan Kurawa disebut “keturunan Bharata.” Setelah Isa Ibnu Maryam lahir, Yusuf (Tukang kayu) yang sudah tua menikahi Maryam, setelah Yakobus lahir Yusuf (Tukang kayu) meninggal, menurut tradisi Yahudi, adik laki-laki yang belum menikah, wajib menikahi janda kakaknya, untuk melanjutkan “keturunan” kakaknya, lalu Klofas adik Yusuf (Tukang kayu) menikahi Maryam, lahirlah Simon. (Yudaisme mengajarkan: adik laki-laki yang belum menikah wajib menikahi janda kakaknya yang meninggal, untuk melangsungkan/melanjutkan keturunan kakaknya), sehingga anak-anak Klofas dengan Maryam dianggap sebagai anak-anak Yusuf (Tukang kayu), anak-anak dari kakaknya. Diilhami, Terinspirasi Burung : Aswatama Dan Kabil Aswatama membunuh anak/istri/kerabat Pandawa ketika perang Bharatayuda sudah berakhir, pembunuhan ini “diilhami” oleh burung hantu yang menyerang/membunuh burung gagak di malam hari. Kabil membunuh Habil, Kabil mengubur Habil “terinspirasi” oleh burung gagak yang mengubur lawannya yang mati dalam pertarungan. Azab, Kutukan Kepada : Kurawa Dan Umat Nabi Yang Ingkar Ketika Pandawa meninggalkan Hastinapura dalam pembuangan selama 13 tahun, Batara Narada mendatangi Hatinapura, dihadapan Kurawa dan sesepuh Hastinapura, Narada berkata (mengutuk) “14 tahun setelah hari ini Kurawa akan musnah.” Tepat 14 tahun kemudian Kurawa musnah dalam perang besar Bharatayuda Jayabinangun di padang Kurusetra karena Kurawa pendengki/ culas dan ingkar janji. Umat Nabi Nuh As, Hud As, Lut As, Shalih As, Syuaib As, Yunus As, Musa As, Ilyas As, Ilyasa As, mendapatkan “azab” karena ingkar kepada Allah. Mempunyai Anak Ketika Berusia Tua : Maharaja Pratipa, Prabu Matsyapati Dan Ibrahim As, Zakaria As Maharaja Pratipa mempunyai Putra Mahkota Sentanu ketika sudah sangat tua. Dan Prabu Matsyapati mempunyai putra-putri seusia dengan Pandawa, sedangkan Matsyapati adalah Kakek Buyut Pandawa (Matsyapati adalah kakak Dewi Setyawati, Istri Parasara, Parasara berputra Abiyasa, Abiyasa berputra Pandu, Pandu berputra Pandawa) bahkan Dewi Utari putri Matsyapati diperistri Abimanyu/ putra Arjuna. Ibrahim As mempunyai putra Ishaq ketika berusia lanjut (100 tahun). Dan Zakaria As berputra Yahya ketika berusia + 120 tahun dan istrinya Elisabet adalah wanita yang mandul. Terjadinya Mata Air : Arjuna Dan Nabi Ayub, Bayi Ismail Arjuna melepaskan panah ke tanah (setelah dicabut) memancarlah mata air untuk diminum Maharsi Bisma. Nabi Ayub As menjejakkan kakinya ketanah, keluarlah mata air untuk menyembuhkan penyakitnya. Bayi Ismail menjejakkan kakinya ke tanah, keluarlah mata air Zamzam. Sapi, Unta Dan Anaknya Milik : Resi Wasista Dan Nabi Shalih As Resi Wasista mempunyai sapi “Nandini dan anaknya”, sapi itu untuk melengkapi upacara persembahan tiap hari, manusia akan abadi jika minum susu sapi itu. Ketika Resi Wasista tidak dirumah, sapi Nandini dan anaknya itu dilarikan oleh delapan wasu, karena keinginan salah seorang istrinya. Nabi Shalih As mempunyai “Unta dan Anaknya” yang keluar dari batu karena-Nya sebab permintaan umatnya, yang air susunya mencukupi kaum Tsamud, akan tetapi Unta itu dibunuh oleh sembilan laki-laki yang suka membuat kerusakan di bumi, karena seorang perempuan. Ketidak Sabaran : Prabu Sentanu Dan Nabi Musa As Prabu Sentanu melamar Dewi Gangga. Lalu Dewi Gangga berkata “Jangan kau tanyakan kepadaku apa yang aku kerjakan”, Prabu Sentanu setuju, lalu keduanya menikah, lahirlah anak pertama, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh semuanya ditenggelamkan di sungai, pada kelahiran yang kedelapan Sentanu menegur Dewi Gangga. Dewi gangga mendapati Prabu Sentanu tidak sabar kemudian mereka berpisah. Nabi Musa AS belajar kepada Nabi Qidir AS Lalu Nabi Qidir AS berkata “Jangan tanyakan kepadaku sampai aku menerangkannya, lalu Nabi Qidir melobangi kapal, membunuh anak di perjalanan dan menegakkan dinding rumah. Nabi qidir mendapati Nabi Musa AS sebagai orang yang tidak sabar, kemudian mereka berpisah.