WAYANG PURWA

Sejarah Wayang Dalam menentukan asal usul wayang sampai sekarang ini masih terjadi kekacauan. Sementara beberapa sarjana mengatakan bahwa wayang berasal dari India, ada juga yang mengatakan berasal dari Indonesia khususnya jawa. Dan ada pendapat lain yang mengatakan bahwa wayang merupakan produk hindu-jawa. Kerancuan dalam menentukan asal muasal wayang ini dikarenakan sedikitnya data kongkrit, perbedaan disiplin ilmu yang digunakan untuk mendekati masalah, serta perbedaan tentang maksud dari asal-muasal atau asal-usul. Penganut paham evolusi cultural berpendapat bahwa asal usul wayang dan semua teater boneka di dunia bisa timbul dimana saja karena hampir semua bangsa di dunia mempunyai gagasan. Sebaliknya kaum antropologi structural berpendapat bahwa asal-muasal wayang teaternya berasal dari jawa saja. Karena dimana bumi tempat berpijak akar-akar itu amat penting artinya bagi kehidupan sesuatu untuk deskripsi budaya. Sesuatu ekpresi kemanusiaan tak dapat dipisahkan dari kultur yang menghidupinya, karena ia mempunyai arti apabila ia berfungsi dalam struktur sosial dari kultur itu (hamzah amir, 1991). Menurut pendapat hezau, pada jaman erlangga permulaan abad ke-11 wayang telah dipertunjukan di kerajaan Kediri yang saat itu mengalami kejayaan. Tentang wayang dapat kita ketahui dari kitab Arjunawiwaha bahwa pertunjukan tersebut sudah digemari rakyat pada zaman pemerintahan Erlangga. Beberapa prasasti juga menyebutkan adanya wayang atau aringgit yang juga berarti dalang. Menurut cerita jawa, awal adanya wayang ialah pada saat prabu jayabaya bertahta di mamonang tahun 930 M. sang prabu ingin menebar wajah para leluhurnya dan yang keudian dinamakan wayang purwa. Kemudian sang prabu menggambarnya meniru wajah para dewa manusia jaman purwa atau jaman dahulu kala. Digambar dalam bentuk rontal, dibangun seperti patung. Di jawa telah lama diketemukan oorkonde, yaitu tulisan dalam bentuk tertentu agar dapat dipakai sebagai bukti. Didalamnya terdapat kata jurubrata yang berarti dalang. Tetapi tulisan selanjutnya tidak dapat dimengerti (kabur). Yang lebih jelas ialah satu bagian dari kekawin Arjunawiwaha. Disusun pada bagian pertama dari abad ke sebelas pada jaman raja erlangga. Orang yang menonton wayang ada yang menangis, terharu, sedih dan sebagainya meskipun yang mereka tonton hanya berupa kulit yang ditatah dan digambar. Lakon cerita wayang merupakan penggambaran tentang sifat dan karakter manusia di dunia. Karena penggambaran dalam lakon/cerita yang mencerminkan sifat-sifat dan karakter manusia secara khas, sehingga banyak yang tersugesti. Pada hal sebenarnya semua itu hanya semu (bayangan), bukanlah kejadian saesungguhnya atau nyata. Selain itu, terdapat tulisan dalam bahasa jawa kuno dari Tantu Panggelaran yang menceritakan mengenai adanya bumi dan dewa dewa yaitu shiwa, brahma, wisnu dan lain-lain yang turun ke bumi untuk memainkan wayang. Dewa-dewa tersebut menggunakan layar (kelir) dan membuat boneka wayang yang ditatah dan digambar. Satu abad kemudian kita temukan lagi kata wayang yaitu pada pertengahan abad ke-12 karya wretta sancaya. Oleh prof kern diceritakan “Gunung-gunung mengesankan, seolah pohon dijadikan pakelir bagi boneka wayang”. Saat itu pertunjukan wayang sudah menggunakan alat tabuhan yang dinamakan thudung atau sejenis seruling, saron dan kemanak. Tahun 1157 Masehi Empu Sedah mengarang kekawin Bharatayuda, di dalamnya menceritakan tentang wayang, disebutkan dalam kitab tersebut “di sungai terdengar katak-katak bernyanyi, seolah mereka mengalunkan saron bagi pertunjukan wayang. Bambu-bambu yang tertiup angin memberikan suara sebagai serulingnya, dan suara belalang menggantikan suara kemanak”. Kemanak dibuat dari kuningan dalam bentuk seperti pisang dan berlubang, di bawah terdapat pegangan. Dahulu alat ini dipakai untuk mengiringi lagu-lagu saat ada bedanya ketapang di kraton Surakarta. Menurut Hageman dalam bukunya handelinglot degechiede denis van java, ia menyebutkan bahwa yang pertama kali membuat wayang kulit adalah R. Panji Inukertapati pada abad ke tiga belas. Saat itu tanah jawa sedang mengalami jaman kemakmuran dan terkenal sampai pelosok manca negara. Poensen mengatakan bahwa adanya wayang kulit di tanah jawa karena pengaruh dari bangsa hindu. Prof.Veth mengatakan adanya wayang kulit ditanah jawa karena pengaruh hindu. Menurut Dr.Brandes wayang kulit bukan karena pengaruh hindu sebab di hindu wayang kulit lain bentuk dan warnanya. Di Indonesia bahasa yang digunakan dalam wayang adalah bahasa jawa asli. Dari jaman purba hingga sekarang sebagian besar hasil kesusasateraan lebih dari seribu naskah, dapat memberi gambaran tentang betapa tingginya seni sastera saat itu. Sedangkan yang tidak termasuk kesusteraan adalah prasasti-prasasti baik yang berwujud batu ataupun logam. Meskipun di dalamnya ada yang digubah dalam bahasa yang indah dalam bentuk syair yang betul-betul berupa sastera. Hasil kesusasteraan jaman purba berasal dari jawa, tetapi peninggalan-peninggalan yang sampai pada kita didapatkan di Bali. Hal ini disebabkan karena naskah–naskah itu ditulis pada daun lontar yang tidak dapat bertahan sampai berabad-abad. Dan pada waktu masyarakat jawa sudah memeluk agama, naskah-naskah tersebut sudah tidak lagi mendapat perhatian. Sehingga akhirnya kitab dari lontar itu lenyap. Dilihat dari bentuk gubahannya, hasil-hasil kesussateraan zaman purba ditulis sebagai gancaran atau prosa dan tembang atau puisi. Sebagian besar berwujud tembang. Tembang jawa kuno umumnya dinamakan kekawin dan Tembang jawa tengahan umumnya dinamakan kidung. Irama kekawin dituturkan kepada irama india. Sedangkan irama kidung adalah irama yang berkembang dan terdiri dari tengahan dan macepat. Ditinjau dari sudut isi kesusasteraan purba terdiri dari tutur (kitab keagamaan seperti sang hyang kamahayanikan). Sastra (kitab hukum), wiracerita (cerita kepahlawanan seperti Mahabharata, Ramayana dan lain-lain). Waktu Pertunjukan Pertunjukan wayang biasanya dilakukan pada waktu malam hari karena orang beranggapan bahwa waktu tengah malam itulah saat roh-roh berkelana dan mengembara sedang tempat yang mereka pilih untuk mengadakan pertunjukan bayang-bayang adalah tempat yang khusus, angker, wingit atau sakral dimana telah disediakan tempat pemujaan seperti dolmen, menhir, tahta-tahta dari batu sebagai tempat duduk dan berkumpul roh-roh atau Hyang ketika datang. Kebudayaan baru itu ini disebut kebudayaan Megalith. Para ahli antara lain oleh Robert von Heine Geldern PhD. dalam bukunya yang berjudul Prehistoric Research in the Netherlands Indies (1945), dan oleh Prof.Hidding dalam bukunya “Ensiklopedi Indonesia”, dia menyatakan bahwa kebudayaan Megalith berkembang pada zaman perunggu, tetapi sudah mulai tumbuh sejak zaman Neolithikum Indonesia yang terjadi kurang lebih pada tahun 1500 sebelum Masehi. Sedangkan zaman Neolithikum Indonesia terjadi antara tahun 2000 sebelum masehi sampai dengan 500 sebelum Masehi. Dalam uraian dan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa :  pertunjukan wayang dalam bentuk sangat sederhana sudah ada di Indonesia jauh sebelum kedatangan orang-orang hindu.  Sudah dapat dipastikan bahwa wayang itu berasal dan diciptakan oleh bangsa Indonesia asli jawa dan digunakan dalam upacara relegius atau suatu upacara yang ada hubungannya dengan kepercayaan.  Pertunjukan wayang itu dilakukan pada waktu malam dengan tujuan mengadakan hubungan dengan roh para nenek moyang. Karena pada waktu malam itulah roh roh-roh mengembara. Kecuali itu waktu malam adalah saat yang paling tepat untuk berkhusyuk bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa.  Pertunjukan wayang timbul kurang lebih pada zaman neolithikum atau kurang lebih 1500 tahun sebelum masehi. Pandangan di atas menyimpulkan asal mula pertunjukan wayang. Pertunjukan itu dikembangkan terus menerus secara bertahap dalam kurun wakktu yang cukup lama. Dalam mengembangkan pertunjukan itu inti dan fungsinya selalu dipertahankan. Dengan kata lain, pertunjukan itu berpangkal pada pandangan upacara keagamaan untuk melakukan suatu kegiatan gaib yang ada kaitannya dengan masalah kepercayaan dan pendidikan. Dengan demikian sekarang mudahlah dipahami bahwa:  Yang semula berupa bayang-bayang, gambar atau perwujudan dari roh itu kemudian berubah menjadi wayang.  Layar menjadi kelir  Medium, penghubung atau syaman menjadi Dalang  Sajian-sajian menjadi Sajen  Nyanytian dan lagu-lagu pujian menjadi seni suara (sindenan)  Bunyi-bunyian menjadi gamelan  Tempat melakukan pemujaan menjadi panggung atau Debok yang dibuat dari batang pohon pisang Perlengkapan dalam Pertunjukan Wayang Di dalam pertunjukan bayang-bayang itu diperlukan berbagai perlengkapan yang memperlancar jalannya cerita yaitu antara lain:  Kelir. Berasal dari akar kata “Lir” = “Lar” yang mengandung arti terbentang. Jadi kelir berarti sesuatu yang membentang atau tergelar. Bayangan yang dipertunjukkan nampak pada kelir.  Blencong. Berasal dari akar kata “cang” = “cong” yang mengandung arti tidak lurus mendekati kata “mencong” dan “menceng”. Dan alat yang disebut blencong adalah lampu yang dipakai dalam pertunjukan wayang yang mempunyai sumbu tidak lurus (miring).  Kothak. Berasal dari akar kata “thak” = “thik” yang mengandung arti dua benda yang bertemu seperti dalam kata “gathuk”. Dan kothak adalah tempat untuk menyimpan wayang, kothak tersebut terbuat dari kayu, terdiri dari dua bagian yang dipertemukan tanpa engsel, yaitu bagian wadah dan bagian tutup yang terpisah  Kepyak. Berasal dari akar kata “pyak” = “pyek” yang mengandung arti bunyi dari dua atau beberapa kepingan yang bertemu. Kepyak adalah sesuatu alat yang terdiri dari 3 atau 4 kepingan tembaga atau kuningan yang dibunyikan dalam pertunjukan wayang dan mengeluarkan bunyi “pyak”  Dalang. Berasal dari akar kata “lang” yang mengandung arti selalu berpindah tempat seperti dalam kata “langlang”. Dalang adalah seorang yang memainkan pertunjukan wayang kulit. Dalam melaksanakan pekerjaannya, ia selalu berpindah tempat. Dalang selalu mendalang tempat yang satu kemudian berpindah mendalang di tempat lain. Brandes dan hazeu, mengatakan bahwa istilah-istilah dan arti kata-kata tersebut sangat diperhatikan. Setelah diselidiki dengan teliti, maka pada tahun 1897 mereka berkesimpulan bahwa istilah-istilah tersebut hanya diketemukan di pulau jawa. Oleh karenanya mereka menyatakan bahwa kata-kata istilah tersebut adalah kata bahasa jawa asli. Kita dapat mencari bukti asal-mula wayang dengan cara dan bertitik tolak pada pokok pemikiran, mencari bahasa asal istilah alat-alat yang dipakai dalam pertunjukan itu sejak untuk yang pertama kalinya. Dengan itu masih dilakukan secara sederhana. Soal itu sangat relevan dan merupakan suatu kesimpulan yang tidak perlu diragukan lagi. Kita perhatikan saja pertunjukan wayang itu dalam bentuknya yang asli, dengan segala peralatannya yang sekarang kita lihat yaitu: kelir, blencong, kothak, kepyak dan cempala. Semua itu sudah dapat dipastikan berasal dan diciptakan oleh bangsa indonesia sendiri di jawa. Simbol dalam Pertunjukan Wayang Tujuh Gending Patalon Sebelum pertunjukan wayang dimulai, biasanya dilakukan lebih dahulu pementasan tujuh gending patalon. Dalam Wirid Hidayat Jati karya R.Ng. Ranggawarsita dijelaskan mengenai Zat sebagai berikut : “ Sebenarnya Akulah Zat Yang Maha Kuasa, yang kuasa menciptakan segala sesuatu dan terjadilah seketika itu juga dengan sempurna tanpa cela karena kuasa-Ku. Di situ sudah menjadi nyata tanda-tanda karya-Ku sebagai permulaan irodat-Ku:  Pertama Aku ciptakan pohon Sajarotul Yakin yang tumbuh dalam Alam Adam Makdum Asali Abadi.  Kemudian Cahaya/Nur, yang disebut Nur Muhammad  Kemudian Cermin, yang disebut Miratul Khayahi  Kemudian Nyawa, disebut Roh Ilafi  Kemudian Dian, disebut Landili  Kemudian Permata, disebut Darah dan  Kemudian Dinding Jalal (Tirai), yang disebut Selubung Kemuliaa-Ku Apakah yang dimaksud dengan Aku (Ingsun) tidak lain adalah diri Zat yang mutlak. Maha suci yang semula tersembunyi di Nukat Ga’ib bergelar qun atau Zat Sejati (Nukat berarti Wiji sedang Ga’ib berarti Samar). Kini Aku (Ingsun) menyatakan diri sebagai pencipta segala sesuatu. Dari uraian tersebut jelaslah mengapa sebelum pertunjukan (lakon) dimulai, terlebih dahulu diadakan gending patalon atau talu yang terdiri dari tujuh gending, yaitu Cucurbawuk, Srikaton, Pareanom, Suskma Ilang, Ayak-ayakan, Slepagan atau Srepegan, Sampak. Ternyata ke tujuh gending patalon tersebut tidak lain yang dimaksud sebagai simbul dari tujuh pangkat penjelmaan Zat atau ketujuh martabat yaitu Pohon Dunia, Cahaya (Nur), Cermin, Nyawa(roh ilafi), Dian (kandil) , Permata (darah), daging (alam insan kamil). Gending palaton juga merupakan pernyataan karya dari yang menganggap wayang, bahwa pertunjukan wayang akan segera dimulai. Namun dalang (roh) belum kelihatan (menjelma). Bila gending palaton sudah selesai, barulah dalang naik panggung kemudian ia memukul kotak sebanyak lima kali sebagai tanda bahwa jejer (adegan) pertama dimulai. Lima Kali Pukulan Kothak Dalam Wirid Hidayat Jati, masalah pembentangan zat dijelaskan sebagai berikut : Sebenarnya manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasia manusia. Sebab aku menciptakan Adam, berasal dari empat anasir (unsur-unsur) : bumi(tanah), api, angin dan air. Keempat anasir inilah yang menjadi wujud sifat-Ku, yang didalamnya ku taruhkan lima wadah yaitu Nur, Rahsa, Ruh, Nafsu dan Budi, yang berfungsi sebagai tutup wajah-Ku yang Maha Suci. Dari keterangan itu nampaklah dengan jelas, mengapa dalang itu sebelum memulai pertunjukan senantiasa memukul kothak lima kali. Pukulan kotak lima kali ini adalah sebagai tanda dimulainya pertunjukan atau melambangkan lima pembentangan zat tersebut. Gunungan Berhenti Tiga Kali Penciptaan manusia yang sebenarnya diterangkan dalam pembukaan tata mahligai di dalam bait Al-Ma’mur diikuti pembukaan tata mahligai di dalam bait Al-Muharram dan pembukaan mahligai di alam Al-Muqodas. Hal ini Harun Hadiwijono menjelaskan sebagai berikut: Pertama : Pembukaan tata mahligai di dalam bait AlMa’mur : Aku sebenarnya yang mengatur mahligai di dalam bait Al-Makmur yaitu tempat keramaian-Ku yang berada di dalam kepala Adam. Yang ada di dalam kepala adalah dimak, yaitu otak. Yang ada di dalam otak itu adalah manic, di dalam manic itu ada budi, di dalam budi ada nafsu, dan di dalam nafsu ada suksma, di dalam sukma ada rahsa, di dalam rahsa ada Aku (Ingsun), Tiada tuhan kecuali Aku, zat yang meliputi keadaan jati”. Kedua : Pembukaan tata mahligai di dalam bait Al-Muharram : “Sebenarnya Aku mengatur mahligai di dalam bait Al-Muharram, yaitu tempat larangan-Ku, berada di dalam dada Adam, yang ada di dalam dada Adam adalah hati, yang ada di dalam hati adalah jantung, di dalam jantung ada budi, di didalam budi ada jinem yaitu angan-angan, di dalam angan-angan ada suksma, di dalam suksma ada rahsa, di dalam rahsa ada Aku (Ingsun), tiada tuhan kecuali Aku, zat yang meliputi keadaan jati. Ketiga : Pembukaan tata mahligai di dalam bait Al-Muqodas : “Sebenarnya Aku mengatur mahligai di dalam bait Al-Muqodas, yaitu tempat kesucian-Ku yang berada di dalam bola-maniknya Adam, di dalam bola ada cupu, di dalam cupu ada manik, di dalam manik ada madi, di dalam madi ada wadi, di dalam wadi ada manikem, di dalam manikem ada rahsa, di dalam rahsa ada Aku(Ingsun), zat yang meliputi keadaan sejati berdiri sebagai nukat gha’ib (nuqt al gha’ib), turun menjadi johar awal (jauhar awwal), di situlah berada alam ahadiya, alam wahda, alam wahiyya, alam arwah, alam, mithal, alam ajsam, alam insane kamil, terjadinya manusia sempurna, yaitu sifat-Ku yang sebenarnya.” Dari uraian tersebut mudahlah diketahui bahwa gunungan ditarik ke bawah dan berhenti tiga kali merupakan lambang penjelmaan Zat yang pertama. Keterangan diatas tidak dapat dipisahkan dari keterangan-keterangan sebelumnya. Telah dijelaskan bahwa penjelmaan pertama dari zat mutlak itu adalah kayu (dunia) sejati yang artinya hidup. Sedangkan kayu dari kata arab khayyu artinya penghidupan, kemudian kayat artinya menghidupi dan kayu da’im artinya hidup yang tetap abadi. Sekarang semakin menjadi jelas mengapa gunungan ditancapkan di tengah-tengah kelir sebelum pertunjukan wayang dimulai. Gunungan atau kayon tersebut diartikan sebagai lambang bahwa pada awal mulanya belum ada kelahiran manusia, sedang yang ada pertama hanya kayu (kehidupan) dalam bentuk gunungan terdapat gambar didalamnya pohon yang dililit ular dibawahnya terdapat banteng dan macan yang berhadapan seakan siap untuk bertarung memperebutkan rumah yang berada di bawah pohon, hal ini berarti kehidupan sebelum Adam dan Hawa turun ke bumi hanyalah makhluk yang diciptakan sebelum Adam yang suka berbuat kerusakan dan saling bunuh membunuh untuk memperebutkan kekuasaan dalam memperoleh kehidupan. Gunungan kemudian ditarik ke bawah yang mengandung arti adanya penjelmaan zat yang pertama dalam bahasa jawa terkenal dengan sebutan Gesang Tumitis. Gerekan gunungan yang ditarik ke bawah itu berhenti tiga kali sebagai lambang dari adanya tiga tataran pembukaan tata mahligai yaitu di kepala menandakan cipta, di dada menadakan rasa dan di bagian bawah perut menandakan karsa. Setelah gunungan itu tidak berada di tengah-tengah kelir, maka barulah ada gerak yang berarti bahwa ada kehidupan, yaitu bayi akan lahir. Kendang Pecah Gunungan yang ditarik ke bawah kemudian oleh dalang ujungnya ditaruh di atas kepala sang dalang sambil mengucap mantra. Adegan ini melambangkan peneguhan iman : “Aku bersaksi, tiada Tuhan kecuali Aku dan bersaksilah Aku, sebenarnya Muhammad adalah utusan-Ku.” Kemudian baru masing-masing gunungan dipegang dengan tangan kanan dan kiri untuk dipisahkan. Yang satu ditancapkan di belakang simpingan kanan dan yang satu ditancapkan di simpingan kiri. Pemisahan dua buah gunungan tersebut melambangkan pecahnya atau terbelahnya “kendhaga” atau selaput pembungkus bayi dalam bahasa biologi lapisan plasenta. Air Kawah Sebelum bayi lahir selalu didahului dengan air kawah dan diikuti oleh ari-ari, sehingga dalam filsafat jawa disebut “kakang kawah adhi ari-ari”. Keluarnya air kawah itu digambarkan dengan keluarnya dua orang perekan atau emban wanita yang sama rupa, sama warna bahkan sama segala-galanya. Hal ini dilambangkan dengan emban atau wanita karena wanita merupakan lambang kehalusan, lumat laksana air atau cairan. Jabang Bayi Lahir Kemudian bayi lahir yaitu manusia itu sendiri.kelahiran bayi ini digambarkan atau dilambangkan dengan keluarnya raja (Yudhistira) dalam kelir (dunia) akan “siniwaka” (masuk ke istana akan mengadakan sidang). Mengapa digambarkan Raja? Karena kedatangan bayi di alam fana itu disambut gembira dengan penuh rasa hormat dan do’a seperti halnya penghormatan kepada seorang raja yang sedang keluar dari keratin untuk “siniwaka” di Sitihinggil Balai Agung. Ari-ari keluar Kelahiran bayi diikuti oleh ari-ari dan ari-ari ini digambarkan atau dilambangkan dengan keluarnya adik raja (ari berarti adik) misalnya keluar Bima, Arjuna, Nakula-Sadewa. Selanjutnya perjalanan hidup manusia dilambangkan dengan pertunjukan wayang semalam suntuk. Dengan keterangan-keterangan di atas yang diharapkan pembaca mendapat gambaran bahwa pagelaran wayang yang dimulai dari : pendopo kosong, tujuh gending patalon, lima kali pukulan kotak, tarikan gunungan ke bawah berhenti tiga kali, keluarnya dua parekan, raja dan ari-ari, secara esoteric dapat dipandang sebagai salah satu lambang penjelasan dalam wirid hidayat jati yang disebut “Ajaran tentang ke-Tuhan-an dan Penciptanya.” Simbol Pertunjukan Wayang Semalam Suntuk Pertunjukan wayang semalam suntuk apabila dicermati penuh tontonan hiburan, tuntunan, ajaran dan tataning aurip penuh aturan hidup dan kehidupan manusia. Dalam pertunjukan wayang juga menggambarkan proses kelahiran, masa anak-anak, remaja, dewasa dan kematian. Hal ini tersebut dalam setiap adegan pertunjukan wayang, yaitu : Pathet Nem Periode ini berlangsung dari jam 21.00 sampai dengan jam 00.00 (jam 9 malam sampai 12 malam). Periode ini melambangkan periode anak-anak. Sesuai dengan suasana tersebut, maka gamelandan lagu dalam Pathet Nem ini ditandai dengan kayon (gunungan) ditancapkan condong ke kiri. Periode pathet Nem ini dibagi menjadi enam adegan atau jejeran yaitu:  Jejeran raja yang dilanjutkan dengan adegan Kedhaton. Setelah selesai bersidang raja diterima oleh permaisuri untuk bersantap bersama. Jejeran ini melambangkan “Bayi yang mulai diterima dan diasuh kembali oleh ibunya”.  Setelah jejer Kedhaton menyusul jejer Paseban Jawi. Adegan ini melambangkan seorang anak yang sudah mulai mengenal dunia luar.  Kemudian dilanjutkan dengan jejer Jaranan yaitu pasukan binatang, gajah, babi hutan.Adegan ini melambangkan watak anak dimana seorang anak yang belum dewasa biasanya memiliki watak/sifat seperti binatang. Anak tersebut tidak memperhatikan aturan yang ada tetapi hanya memikirkan diri sendiri.  Jejer perang ampyak (menghadapi rintangan). Pada adegan ini melambangkan seorang anak yang sudah beranjak dewasa yang mulai menghadapi berbagai macam kesukaran, hambatan dan rintangan. Namun semua rintangan dan hambatan itu dapat dilalui dengan aman.  Jejer sabrangan yaitu bertemu raksasa. Adegan ini melambangkan seorang anak yang sudah dewasa tetapi watak-wataknya masih banyak didominir oleh keangkaraan, emosi dan nafsu.  Jejeran terakhir dar Pathet Nem adalah perang gagal yaitu suatu perang yang belum diakhiri dengan suatu kemenangan, kekalahan, hanya baru bertemu/berpapasan saja atau masing-masing mencari jalan lain. Adegan ini melambangkan suatu tataran hidup manusia masih dalam fase / tataran ragu-ragu, belum mantap karena belum ada suatu tujuan yang pasti. Pathet Songo Periode ini berlangsung dari jam 00.00 sampai dengan jam 03.00 (jam 12 malam sampai 3 pagi). Periode ini ditandai dengan gunungan yang berdiri tegak di tengah-tengah kelir seperti pada waktu mulai pagelaran. Adapun Pathet Songo ini dibagi menjadi 3 jejeran, yaitu:  Jejer Bambangan, yaitu adegan seorang kesatria berada di tengah hutan atau sedang menghadap seorang pendeta. Adegan ini melambangkan suatu masa dimana manusia sudah mulai mencari guru untuk belajar ilmu pengetahuan.  Jejer Perang Kembang, Yaitu adegan perang antara Seorang kesatria yang diikuti oleh punakawan melawan Raksasa Cakil berwarna kuning, Rambut Geni berwarna merah, Pragalba berwarna hitam dan Galiuk berwarna hijau. Adegan ini melambangkan suatu tingkatan dimana manusia sudah mulai mampu dan berani memenangkan atau mengalahkan nafsu-nafsu angkaranya yaitu sufiah, alwamah dan mulhimah.  Jejer Sintren, yaitu suatu adegan seorang kesatria yang sudah menetapkan pilihannya dalam menempuh jalan hidupnya. Pathet Manyura Periode ini berlangsung dari jam 03.00 sampai dengan jam 06.00 (jam 3 pagi sampai jam 6 pagi). Periode ini ditandai dengan gunungan (kayon) condong ke kanan. Adapun Pathet manyura ini ndibagi menjadi tiga jejeran, yaitu:  Jejer Manyura, dalam adegan ini tokoh utama di dalam lakon atau cerita sudah berhasil dan mengetahui dengan jelas akan tujuan hidupnya. Mereka sudah dekat dengan sesuatu yang dicita-citakan.  Jejer Perang Brabuh, Yaitu suatu adegan perang yang diakhiri dengan suatu kemenangan dan banyak jatuh korban. Adegan ini melambangkan suatu tataran dimana manusia sudah dapat menyingkirkan segala rintangan dan berhasil menumpas segala hambatan hingga berhasil mencapai tujuannya.  Jejer Tancep Kayon. Sebagai penutup dari pagelaran wayang tersebut, diadakan tarian Bima atau bayu yang berarti angin atau nafas. Kemudian gunungan ditancapkan di tengah-tengah kelir lagi. Adegan yang terakhir ini melambangkan proses mati, jiwa meninggalkan alam fana dan menuju kepada kehidupan alam baka, kekal dan abadi. Joged Golek Adegan ini merupakan adegan terakhir dari seluruh pagelaran wayang dimana dalang memainkan dan menari-kan boneka dari kayu yang disebut Golek. Adegan ini melambangkan bahwa para penonton diharapkan mencari sendiri (ng-Golek-i dewe) apa makna, inti sari lakon atau cerita pagelaran wayang semalam suntuk itu, yang sesuai dengan harkat dan pengalaman hidupnya masing-masing penonton. Dari uraian di atas, jelaslah bahwa pagelaran wayang semalam suntuk itu sebagai lambang keberadaan manusia secara ontologism-metafisis yaitu dari tiada menjadi ada dan kemudian melaksanakan lakon kemudian mati dan kembali menjadi tiada. Semuanya itu sudah diatur menurut jadwal yang sudah ditentukan pada waktu sebelum hidup (pagelaran) yaitu di “Laukh Makhfudza” atau “Suratan Ilahi”.