PERDEBATAN MANUSIA TENTANGNYA

Dari beberapa pembahasan sebelumnya, paska diangkatnya Isa ke langit muncul beberapa keadaan dan kondisi yang membingungkan, banyak timbul keragu-raguan dan perdebatan sehingga menimbulkan kekacauan yang menyebabkan pertumpahan darah yang terus-menerus dalam waktu berabad-abad lamanya dikalangan mereka. Sehingga manusia berada kembali dalam kegelapan, yaitu kegelapan kepercayaan. Barulah setelah 6 abad kemudian diutus seorang rasul untuk memberikan keterangan mengenai berbagai hal yang diperselisihkan manusia tentangnya, rasul itu adalah Muhammad yang kedatangannya telah dikabarkan isa sebelum ia diangkat ke langit, dengan membawa petnjuk bagi manusia yaitu Al Qur’an. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa para prajurit romawi tidak membunuh Isa dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka salib ialah orang yang diserupakan wajahnya dengan Isa bagi mereka, karena ia telah berkhianat dengan memberikan petunjuk kepada prajurit romawi untuk menangkap Isa. Tetapi yang terjadi sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya ke langit. Dan ditegaskan pula bahwa tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab (yahudi dan kristen) yang tidak beriaman atau percaya tentang peristiwa atau hal itu sebelum kematiannya (Isa), jadi Isa as belum meninggal dan masih hidup sampai sekarang, akan turun ke bumi sebelum hari kiamat untuk menjelaskan hal tersebut kepada mereka sehingga ketika di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. Dan manusia di bumi selama ini selama 20 abad ini banyak berselisih paham tentang pembunuhan Isa, dan hal ini benar-benar dalam keragu-raguan tentang siapa yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, dan mereka hanyalah mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Maka sampai pada saat sekarang ini banyak diperdebatkan berbagai teori dan bukti sejarah untuk mencari kebenaran akan misteri yang belum terjawabkan seperti dalam beberapa catatan-catatan dibawah ini : Kekristenan Pandangan Kristen tentang Yesus berpusat pada keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan, seorang Mesias yang kedatangan-Nya telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama, dan bahwa Ia bangkit pada hari ketiga setelah disalibkan. Umat Kristiani pada dasarnya percaya bahwa Yesus adalah "Anak Allah" (secara umum dapat diartikan bahwa Ia adalah Allah Anak, oknum kedua dalam Tritunggal), yang datang ke dunia untuk menebus dosa umat manusia dan memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan melalui pengorbanan-Nya. Umat Kristiani juga percaya bahwa Yesus dilahirkan oleh seorang perawan Maria bunda Maria, mujizat yang dilakukan Yesus, kenaikan ke Surga, dan kedatangan Yesus ke bumi untuk kedua kali. Pandangan ini sangat bertentangan dengan logika ketuhanan dimana Jika Tuhan ada lebih dari satu, maka akan terjadi perebutan pengaruh dan menimbulkan kekacauan, sedangkan yang terjadi di alam semesta adalah keteraturan, hal ini berkesimpulan bahwa tidak ada oknum lain selain Allah itu sendiri. Maka pandangan kekristenan tidak dapat di terima dengan akal sehat, jikalau tetap memaksakan pandangan demikian dapat dikatakan mempunyai akal yang tidak sehat. Demikian juga telah diterangkan dalam Al Qur’an bahwa Allah tidak berkeluarga sebagaimana ayat berikut : 1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (Al Ikhlas : 1- 4) Ajaran Paulus Tindakan dan perkataan Yesus yang dicatat dalam Injil merupakan ajaran dasar Kekristenan. Yesus mengajar di Galilea dan Yudea, dengan pesan penyangkalan diri dan pengampunan dosa. Hukum utama yang Yesus ajarkan adalah hukum Kasih, bahwa manusia harus mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Ajarannya pada awalnya disebarkan oleh keduabelas rasul Yesus, dan setelah Yudas digantikan oleh Matias. Paulus, seorang Farisi yang mula-mula menganiaya pengikut Yesus, namun akhirnya bertobat dan menjadi pengabar Injil yang masyhur. Mula-mula ajarannya disebarkan di daerah Israel kepada kaum Yahudi, namun akhirnya juga kepada bangsa-bangsa lain bukan Yahudi, dimulai dari panglima Romawi, Kornelius, hingga akhirnya merambah ke seluruh Asia Minor dan Afrika Utara, daratan Eropa Barat, Eropa Timur, Rusia, benua Amerika dan Australia, dan akhirnya ke Asia, sesuai dengan pesan terakhir Yesus untuk memberitakan Injil hingga ke ujung dunia. Orang Farisi yang dimaksud diatas ialah Saul seorang bani Israil kelahiran Yunani keturunan suku Bunyamin yang dikenal dengan nama Paulus, walaupun hidupnya sezaman dengan Isa, tetapi ia tidak pernah bertemu dengan Isa. Ia mengaku telah bertemu Isa secara rohani yang memberinya wahyu, sehingga ia memaklumatkan kepada umat Nasrani pada waktu itu sebagai Rasul ke 13, sedangkan ke 12 sahabat diakui Isa dianggap olehnya rasul yang hanya mendapat wahyu secara fisik yang dikhususkan bagi bani Israil, sehingga ia mengaku bahwa atas wahyu yang ia terima, ia ditugaskan menyebarluaskan ajaran yang ia buat (atas dasar wahyu tersebut) atas nama Isa (yang ia anggap Tuhan) kepada umat manusia selain bani Israil, sehingga apa yang ia ajarkan menyelewengkan atau memutar balikan apa yang telah diajarkan Isa kepada umatnya. Suku bunyamin adalah suku yang paling setia kepada suku Yahudi, sedangkan suku Yahudi terkenal dengan umat yang paling suka merubah kitab suci menurut keinginan mereka, sebagai orang dari suku bunyamin tentulah dibalik Paulus ada sekelompok orang Yahudi yang mengubah kitab Injil yang dibawa Isa tersebut, beberapa kisah umat Yahudi ini dijelaskan dalam ayat berikut : Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (Al Baqoroh 2 : 79) Anggapan Paulus tentang Yesus adalah Tuhan, sangat tidak masuk akal karena secara logika Tuhan pastilah Zat yang maha besar, lebih besar dari apapun yang ada di alam semesta, jika Tuhan menginjak dunia (seperti yang telah dilakukan Isa) maka sudah pasti dunia hancur dan tidak ada lagi kehidupan. Jika matahari saja menginjak bumi sudah pasti bumi akan hancur, apalagi Tuhan yang lebih besar daripada Matahari. Yesus Wafat Di Kayu Salib Sesudah Isa as. diangkat Allah ke langit, maka hanya tinggal para pengikut yang setia, dengan sekadar ilmu yang ada pada masing-masing, mereka ajarkan lagi apa yang telah Isa Al Masih ajaran. Hal ini juga dilakukan dalam keadaan bersembunyi dan tidak aman. Diantara mereka, ada yang menuliskan apa yang mereka ketahui itu. Dan dari tulisan-tulisan mereka inilah yang dijadikan Kitab Suci yang mereka sebut Injil. Masing-masing Injil itu mereka namai dengan nama penulisnya. Di antaranya ada Injil Mathius, Injil Yohanes, Injil Lukas, Injil Barnabas, Injil Thomas dan banyak lagi Injil-injil yang lainnya. Tentu saja Injil-injil itu tidak sama antara satu dengan yang lain, sebab hanya merupakan catatan dari masing-masing penulis selama mereka bergaul dengan Isa atau semata-mata hanya kabar dan cerita yang sampai kepada mereka tentang Isa as. Karena tidak semua penulis Injil itu adalah Sahabat (Hawari) Isa as, Justru banyak diantara penulis-penulis Injil yang tidak pernah bertemu sama sekali dengan Isa, bahkan tidak pula dengan para Sahabat (Hawari) Isa as. Menurut Paulus setelah Yesus disalib, ia meyakini bahwa Yesus telah wafat, kemudian Jenazah Yesus dikuburkan dalam sebuah gua pemakaman milik salah satu pengikutnya, yaitu Yusuf dari Arimatea. Dia dimakamkan terburu-buru, karena sebentar lagi memasuki hari Sabat yang dimulai ketika matahari terbenam, dan menurut aturan hukum agama yahudi pada waktu itu tidak ada yang boleh bekerja (melakukan aktifitas) pada hari Sabat. Hal lain yang harus diingat bahwa Injil memberitahukan bahwa ketika Yusuf Arimathea, mengajukan permohonan kepada Pilatus untuk meminta jasad Yesus. Pilatus adalah orang yang sangat berpengalaman mengetahui bahwa kematian akibat penyaliban pasti memakan waktu yang cukup lama. "ia merasa heran kalau Yesus ketika itu sudah wafat" (Markus 15:44). Injil juga memberitahukan ketika seorang prajurit Romawi menombak lambung Yesus dengan lembing, untuk mengetahui apakah beliau sudah wafat atau belum, "tiba-tiba mengalirlah darah dan air dari luka itu" (Yohanes 19:34). Jika Yesus telah wafat, pastilah keluar dari luka di tubuh Yesus “darah kental”, bukan darah segar yang mengalir. Sehingga dapat diprediksi bahwa masih ada kehidupan dalam diri Yesus, kondisi tersebut di zaman sekarang disebut “koma”. Hal ini erat sekali hubungannya dengan suatu hal yang sangat menarik, yaitu penemuan-penemuan mutakhir tentang kain kafan di Turin, dimana tubuh Yesus dibungkus atau dikafani dengan kain itu ketika beliau dibawa ke gua pemakaman. Pada tahun 1873 ditemukan satu naskah kuno yaitu surat yang ditulis oleh seorang anggota Essena kepada sahabatnya di Alexandria, Mesir. Naskah kuno ini diterbitkan dalam bahasa Inggris tahun 1907. Di dalam surat itu dinyatakan bahwa setelah disalib, Yesus tetap hidup. Tahun 1957 Kurt Berna, Sekretaris German Institute, menerbitkan buku “Yesus Nicht am Kreuz gestorben (Yesus tidak wafat di kayu salib)” berdasarkan hasil-hasil pemeriksaan seksama para pakar yang meneliti kain Kafan Turin yang dahulu dipakai membungkus tubuh Yesus setelah disalib. Mereka adalah panitia peneliti Kafan Turin yang dibentuk oleh Vatikan pada tahun 1969 mengumumkan hasil sama yaitu Yesus tidak mati disalib. Analisa kain kafan tersebut meunjukkan bahwa kepala dan tangan Yesus diletakkan lebih tinggi dari pada letak badannya. Andaikata Yesus telah wafat ketika dibungkus kain kafan tersebut, maka ini berarti tidak mungkin ada darah segar yang mengalir pada bagian-bagian tersebut yang meninggalkan bekas pada kain kafan itu. kain itu meninggalkan bekas-bekas darah yang mengalir dari luka-luka yang disebabkan mahkota duri yang dipasang oleh orang-orang Romawi di seputar kepala Yesus, yang mencemoohkan sebagai "Raja Yahudi", kemudian suatu ketika tubuh itu diturunkan dari kayu salib dan "mahkota" itu pun dicopot, maka luka-luka yang disebabkan oleh duri-duri tersebut mulai berdarah. Apabila Yesus telah wafat saat itu, maka semua darah pasti membeku di bagian bawah badannya. Sudah merupakan hukum alam, asalkan jantung terus-menerus memompa, maka darah pun akan terus beredar bahkan sekalipun dalam keadaan hampa udara. Apabila saat itu jantung berhenti berdenyut, maka darah pun akan berhenti beredar dan akan mulai kembali ke urat-urat, pembuluh-pembuluh darah di permukaan kulit akan segera mengering, dan rupa pucat kematian pun akan tampak di tubuh. Jadi, darah segar pasti tak akan mengalir dari luka-luka di kepala Yesus jika jantungnya berhenti berdenyut, ini adalah bukti medis, bahwa Yesus tidak wafat ketika beliau dibungkus kain kafan itu. Mungkin beliau tidak bernafas dan nampaknya seperti mati, tetapi bilamana jantung tetap berdenyut, dalam keadaan demikian ini, seseorang bisa hidup kembali dengan perawatan medis yang intensif. Namun Paulus mencatat dan menjadikan doktrin, bahwa Yesus mati disalib dan kemudian bangkit kembali, dan doktrin inilah yang diperkuat oleh Gereja Kristen. Oleh sebab inilah, hasil-hasil penelitian Kain Kafan Turin membuat Gereja dalam keadaan serba sulit, dan akibatnya pada tanggal 30 Juni 1960, Paus John XXII mengeluarkan maklumat yang dicetak koran Vatikan: "L'Osservatore Romano" pada tanggal 2 Juli, dengan judul: "Keselamatan Sempurna Tubuh Yesus Kristus". Dalam hal ini Paus menyatakan kepada para Uskup Katolik yang mengakui dan menyebarkan berita-berita ini, bahwa keselamatan sempurna umat manusia adalah akibat langsung dari darah Yesus Kristus, dan kematiannya akhirnya tidaklah dianggap penting. Kontradiksi Kematian Yudas Iskariot Ada dua bagian dalam Perjanjian Baru yang mengisahkan kematian Yudas Iskariot, yaitu Injil Matius dan Kisah Para Rasul (Acts). Kedua-duanya adalah tidak dapat dipercaya oleh sebab banyak alasan, Injil Matius ditulis beberapa dekade setelah kepergian Yesus. Tidak ada referensi untuk Injil Matius melalui namanya hingga sekitar tahun 200. Bapak Gereja Irenaeus adalah orang pertama yang menyebut Injil tersebut dengan nama Matius, dan mengonfirmasikan eksistensi Kisah Para Rasul (Acts). Kisah Para Rasul (Acts) ini disusun di abad 2, karena apologist Kristen Justin Martyr (150 M) gagal untuk menyebut Kisah Para Rasul (Acts). Jadi sangatlah beralasan untuk menolak Injil Matius dan Kisah Para Rasul, kedua kitab tersebut ditulis telat yang berdasarkan pada sumber-sumber Paulinistik. Pada faktanya, semua kitab-kitab Perjanjian Baru ditulis dibawah pengaruh Paulus. Kanon yang dimiliki oleh Orang-orang Kristen berkebangsaan Yahudi telah dihancurkan dan dibakar. Kemudian Matius mencontek Markus; Lukas mencontek dari Markus & Matius. Kisah Para Rasul (Acts) meminjam tulisan sejarawan Yahudi bernama Josephus, dan Perjanjian Lama (Contohnya Kisah Para Rasul 11:18 yang menjiplak Yehezkiel 4:14). Jika Lukas adalah pengarang Kisah Para Rasul, ia akan mengakui mencontek bahan-bahan tersebut sebelumnya (Lukas 1:3), seolah-olah menjadi seorang sejarawan. Kisah Para Rasul diseleksi dari sebuah tabel pemalsuan, Acts of Peter, Acts of Paul, dan dokumen-dokumen apocryphal. Bagaimana kita tahu bahwa empat Injil aman dari pemalsuan? Harus dicatat bahwa banyak kitab-kitab atau surat-surat yang diterima oleh Gereja awal, contohnya Shepherd of Hermas, Epistel Barnabas, Injil Petrus, dan lain-lain. Empat injil tersebut boleh jadi palsu, karena Gereja telah memilih dari bahan-bahan palsu tersebut. Gereja awal secara sistematis telah menghancurkan "Injil Ibrani" yang adalah sumber dari Injil Matius. Banyak kalangan Kristen yang kritis menyatakan terdapat kontradiksi besar antara Injil Matius dan Kisah Para Rasul, kematian Yudas Iskariot dan menurut konteks backgound. Sejarah adalah benar-benar bungkam mengenai masalah ini, bapak-bapak Gereja Apostolic (Ignatius, Clement, Papias, Polycarpus) tidak menyebut-nyebut tentang kematian Yudas Iskariot, jadi Perjanjian Baru adalah hanya satu-satunya yang meliput peristiwa kematian Yudas Iskariot. Ini sungguh sangat aneh, Palestina adalah termasuk kawasan Mediterania sebagai wilayah peradaban, jadi sebenarnya tidak ada alasan bahwa jika memang Yudas ini orang terkenal, maka sejarah Yudas tidaklah mungkin gelap seperti ini, apalagi ditambah statement Perjanjian Baru yang mengatakan bahwa “Semua Penduduk Yerusalem” mengetahui masalah ini (Lihat. Kisah Para Rasul 1:19). Dan ia melempar uang perak tadi di bait, dan berangkat, dan pergi, dan menggantung dirinya sendiri. Dan kepala pendeta memungut uang perak tersebut, dan berkata, tidak sah menurut hukum untuk memasukkan uang perak tersebut kedalam peti persembahan, oleh karena itu adalah harga darah. (Matius 27 : 5-6 - terjemahan KJV) Teks diatas tersebut sangatlah jelas bahwa si pengkhianat Yudas merasa bersalah karena telah mengkhianati sang guru (Yesus), ia akhirnya memutuskan bunuh diri dengan cara gantung diri. Logikanya, menggantung kepala itu dapat menyebabkan kematian. Orang-orang Kristen menyatakan bahwa Yudas tidak mati digantung, ia bertahan hidup dari jeratan yang mengikat kepalanya dan jatuh kebawah, dengan perut terbelah sehingga jeroan (isi perut) pun keluar semua (lihat Kisah Para Rasul 1:18). Penjelasan tersebut adalah kontradiksi dan tidak terlegitimasi dengan baik, tidak logis, dan tidak berdasar dari pihak Kristen ini tidak mendapat dukungan kronologis dari teks suci, baik Matius dan Kisah Para Rasul. Gereja awal percaya bahwa Matius adalah Injil pertama, tetapi sarjana Kristen sekarang sepakat bahwa ternyata Markus adalah Injil yang pertama. Kisah Para Rasul disusun kemudian, orang-orang Kristen telah putus asa untuk memecahkan kontradiksi ini dengan cara mengharmonisasikan dua cerita kontradiksi kematian Yudas, tetapi Injil Matius adalah dikarang oleh orang Yahudi dan Kisah Para Rasul dikarang oleh orang non-Yahudi (Gentile), dan kedua teks tersebut bukan dikarang oleh orang yang sama, para pengarangnya tidak mengenal satu sama lain. Hal ini sama dengan pengarang empat Injil kanonik yang menyusun biografi Yesus secara terpisah, namun mereka menjiplak karya lainnya, dan para pengarang tidak mengenal satu sama lain. Tampaknya Markus dan Matius adalah orang Yahudi tulen, dan Lukas dan Yohanes ditujukan untuk orang non-Yahudi. Kisah Para Rasul diduga dikarang oleh Lukas (murid Paulus) yang sama sekali tidak pernah bertemu dengan Yesus ataupun dengan Matius. Jadi benarkah Injil Matius adalah dapat dipercaya. Sementara peristiwa kematian Yudas Iskariot hanya ditulis dalam Injil Matius; Kisah Para Rasul tidak dapat dipercaya karena memiliki kontradiksi mengenai kenaikan Yesus (Lukas 24:51 dan Kisah Para Rasul 1:9). Injil Matius merekam bahwa Yudas telah menggantung dirinya sendiri, dan ia nyata-nyata mati karena sesak napas. Di Injil Matius tidak ada ayat yang menyatakan bahwa "Yudas jatuh kebawah dengan jeroan (isi perut) tercecer. Cerita Injil Matius ini sangat nyata kontradiksi dengan apa yang dipaparkan oleh Kisah Para Rasul. Ada beberapa penjelasan orang Kristen menyangkut permasalah ini: "Disini tidak ada kontradiksi karena kedua-duanya adalah benar. Satu kontradiksi terjadi ketika satu pernyataan mengecualikan lainnya. Faktanya, apa yang terjadi disini adalah bahwa Yudas pergi dan menggantung dirinya sendiri lalu tubuhnya jatuh ke bawah dan terburai. Dengan kata lain, ikatan atau dahan dari pohon mungkin patah karena berat dan tubuhnya jatuh kebawah dan usus perut terburai." (sumber: http://www.carm.org/diff/Matt27_3.htm) "Dikuasai keputusasaan yang hebat, Yudas melepaskan ikat pinggangnya dan menggantung diri di sebuah pohon yang tumbuh di suatu ceruk karang. Setelah ia tewas, tubuhnya hancur berkeping-keping dan isi perutnya berceceran di atas tanah." (Sumber: http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/id86.htm) Kisah Para Rasul tidak menyebut-nyebut mengenai "batu karang", tetapi hanya menyebut sebuah tanah yang telah dibeli oleh Yudas. Mengapa Yudas menggantung dirinya sendiri di sebuah karang Dan juga, tubuh Yudas tidak jatuh tetapi "headlong", yang artinya "forward". Yudas masih hidup sebelum ususnya terburai, pasti ia telah dibunuh. "Now this man purchased a field with the reward of iniquity; and falling headlong, he burst asunder in the midst, and all his bowels gushed out." (Kisah Para Rasul 1:18 --KJV) Beberapa problem muncul seiring dengan penjelasan Kristen tersebut. Yudas tidak pernah jatuh dari suatu tempat yang tinggi, ayat tersebut tidak merekam apapun mengenai karang. Injil Matius mengatakan bahwa Yudas mengembalikan uang perak, dan menggantung dirinya sendiri. Kisah Para Rasul mengatakan ia membeli sebuah tanah dan "fell headlong" (kepalanya jatuh terlebih dahulu), menunjukkan bahwa ia tidak pernah jatuh dari karang. Kisah Para Rasul mempunyai implikasi bahwa kepala Yudas terlempar, dan implikasinya adalah sangat aneh jika mengatakan bahwa usus perutnya terburai keluar. Disini tidak ada bukti bahwa Yudas jatuh secara vertikal, namun horizontal (kedepan), jadi penjelasan Kristen ini sangat tidak logis. Ada masalah lainnya yaitu menyangkut harga pengkhianatan Yudas yaitu sebesar 30 keping perak, Kisah Para Rasul menyatakan bahwa ia menggunakan uang perak tersebut untuk membeli sebuah tanah (tempat ia mati), tetapi Injil Matius justru menyatakan bahwa ia mengembalikan uang perak tersebut ke kepala pendeta Yahudi, lalu pergi dan memutuskan untuk gantung diri. Jelas sudah kontradiksi. Ini tidak dapat dipungkiri oleh orang Kristen yang masih mempunyai otak sehat, jadi manakah yang benar ? Upah pengkhianatan (30 perak) dikembalikan kepada kepala pendeta ataukah upah pengkhianatan justru digunakan oleh Yudas untuk membeli sebidang tanah. Tidak ada referensi apapun mengenai sebuah karang, Yudas mungkin saja telah menggantung dirinya sendiri di pengasingan, dan tubuhnya kemudian ditemukan. Apa yang menjadi dasar bahwa tubuh Yudas jatuh dari tali tambang ke tanah yang telah ia beli berdasarkan Injil Matius, Yudas tidak pernah membeli tanah apapun. Justru upah pengkhianatan sebesar 30 keping perak telah ia kembalikan kepada kepala pendeta Yahudi di Baitullah. Injil Matius mengatakan bahwa kepala pendeta Yahudi membeli potter's field setelah Yudas mati (Matius 27:7-8), tetapi Kisah Para Rasul mengatakan bahwa Yudas sendirilah yang telah membeli tanah itu dan mati disana. (Kisah Para Rasul 1:8-9). Seandainya Yudas jatuh dari ikatan tali, ia tidak akan jatuh dengan posisi kepala terlebih dahulu. Ini sangat tidak masuk akal, karena seharusnya yang jatuh kebawah terlebih dahulu adalah kakinya bukan kepalanya. Cerita Kristen mengenai kematian Yudas Iskariot justru semakin diperparah dengan statment yang diutarakan oleh Bapak Gereja Papias yang mana Papias telah mengklaim bahwa kematian Yudas disebabkan karena dilindas oleh kuda. Yudas berjalan di dunia ini contoh satu kesedihan dari tindakan tidak hormat, karena tubuhnya bengkak (swollen) sehingga ia tidak dapat lewat dimana sebuah kereta kuda dapat lewat secara mudah, ia ditindas oleh kereta kuda tersebut, sehingga usus perutnya menyembur keluar. Stetment dari Fragmen Papias ini diturunkan dari tulisan Papias "Exegesis of the Sayings of the Lord". Catatan Papias ini sangatlah nyata tidak seirama dengan Injil Matius maupun Kisah Para Rasul. Dan untuk mengatasi kontradiksi tambahan ini, orang-orang Kristen Fundamentalis secara nekat dan putus asa dengan maksud untuk menipu dunia dengan menyatakan bahwa kuda menggencet tubuh Yudas ketika ia telah mati. Tapi anehnya Fragmen Papias ini mengajarkan bahwa Yudas itu masih hidup kala itu sebelum kereta kuda melindasnya. Maka jelaslah bahwa begitu banyak kontradiksi Alkitab, dan juga begitu banyak penipuan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen Fundamentalis dalam rangka menutup-nutupi kerusakan yang terdapat dalam Alkitab. Beberapa argument di atas memberikan pertayaan besar apa yang sesungguhnya terjadi kepada Yudas Iskariot yang telah berkhianat tersebut. Menurut Injil barnabas orang yang diserupakan Isa sesuai dengan yang diterangkan dalam Al Quran adalah Yudas Iskariot anak dari Simon Iskariot yang bertugas sebagai bendahara dari kedua belas sahabat Isa. Menurut keterangan Al Kitab, pada hari sesudah hari sabat, pagi-pagi subuh, para wanita datang untuk mencuci tubuh dan meminyaki Yesus dengan ramuan dan minyak wangi. Tetapi Injil mengatakan bahwa mayat Yesus sudah lenyap, dan malaikat duduk di dekat kubur itu dan berkata "Dia telah bangkit dari antara orang mati!". Beberapa orang seperti Tomas dan beberapa murid Yesus pada awalnya meragukan kebangkitan Yesus. Namun Al Kitab mengatakan bahwa lebih dari 500 orang, termasuk Tomas, melihat Yesus yang hidup kembali. Ada banyak kisah dalam Injil tentang apa yang Yesus lakukan setelah Ia dibangkitkan. Kemudian Injil Lukas mengatakan bahwa Yesus membawa murid-muridNya ke sebuah bukit, di mana Ia memberkati mereka dan menyuruh mereka untuk menyebarkan ajaran-Nya keseluruh dunia, dan kemudian awan turun, dan dia terangkat ke surga. Setelah Yudas Iskariot yang disangka adalah Isa diturunkan dari tiang salib kemudian pengikut isa yang bernama Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus anggota dari golongan esseen melekatkan campuran mur (myrrh) dan gaharu (aloes) kemudian dibungkus dengan kain kafan. Mereka menaruh tubuhnya di dalam sebuah gua pemakaman. Pada hari ahad pagi datang petrus untuk menengok ternyata gua itu sudah kosong dan hanya ada kain kafan yang tergulung. Maka petrus menyimpan kain kafan tersebut secara turun temurun, yang pada abad ini telah dipublikasikan potret bekas muka, badan dan tetesan darah yang membekas di kain kafan itu. Setelah Yudas Iskariot terbangun, kemudian ia menemui beberapa murid Isa dan mengatakan “Karena saya lah orang-orang jahat dan berdosa menderita, dan saya juga menderita ditangan mereka” inilah yang menjadi penyebab atas pemahaman umat kristen bahwa Yesus itu disalib untuk menebus dosa umat manusia, padahal yang sebenarnya terjadi Yudas Iskariot berkata kepada sesama pengikut Isa dia mengakui kesalahannya karena telah berkhianat kepada Isa. Pada beberapa abad kemudian, ajaran yang diajarkan kedua belas murid Isa menjadi bersimpang-siur, menjadikan mereka berpecah-belah tentang kepercayaan. Kemudian ada diantara mereka yang mengatakan bahawa Isa Al Masih As adalah sebagai Nabi dan Rasul sebagaimana juga Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang datang sebelumnya. Tetapi ada pula diantara mereka yang melebihkannya kerana Isa tidak punya bapak dan menganggap Isa sebagai anak Allah. Juga tentang ibunya yang bernama Maryam dan Malaikat Jibril (Ruhul Kudus) yang mendatangi Maryam. Bahkan timbul kepercayaan yang mengatakan bahawa Isa adalah Allah yang menjelma menjadi anak manusia melalui perut seorang wanita suci yaitu ibunya, Maryam. Bahkan timbul lagi kepercayaan bahawa Malaikat Ruhul Kudus yang menyampaikan berita kelahiran Isa kepada Maryam itupun adalah Allah yang sedang menjelma. Akhirnya timbullah kepercayaan Trinitas; yaitu Allah Bapak, Allah Putra dan Allah Ruhul Kudus. Oleh orang-orang yang datang kemudian ditafsirkan bahawa Allah Bapak itu Tuhan 100%, Allah Putra, yaitu Yesus (Isa) itu Tuhan 100% dan Allah Ruhul Kudus (Malaikat Jibril) adalah Tuhan 100% pula. Bahkan ada yang mempercayai bahawa Maryam ibunya juga adalah Tuhan, sebab ia melahirkan Tuhan yaitu Tuhan Yesus. Hal inilah yang disebut sebagai zaman kejahiliyahan, zaman kekacauan yang menyebabkan pertumpahan darah yang terus-menerus dalam waktu berabad-abad lamanya. Sehingga manusia kembali dalam kegelapan kepercayaan. Untuk melenyapkan kegelapan itu, akhirnya diutus Allah Nabi dan Rasul terakhir, yaitu Muhammad SAW dengan membawa kabar Allah melalui Kitab Suci Al Qur’an, untuk meluruskan semua kitab yang salah karena telah dirubah, yang dianggap manusia sebagai Kitab Suci, yang ada tersebar sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW. Menurut Injil yang telah rusak itu, setelah bangkit dari kematian Yesus mengumpulkan para muridnya di bukit dan menyampaikan ajarannya yang terakhir kemudian naik ke surga. Jika yang melakukan hal ini adalah Yudas Iskariot yang wajahnya telah diserupakan Isa, sehingga orang-orang yang imannya lemah terhadap Isa akan percaya dengan perkataannya (Yudas), maka setelah itu mungkinkah Yudas Iskariot naik ke langit, bukankah hal ini suatu yang mustahil. Yesus wafat di Kashmir Dalam buku berbahasa urdu “Masih Hindustan Men” dikarang oleh Hadrat Mirza Ghulam Ahmad pendiri Jema’at Islam Ahmadiyah di India. Menurutnya Kitab Al Qur’an menyatakan bahwa Yesus tidak mati dipalang salib. Ia menyatakan bahwa Isa mengungsi dari Palestina setelah penyaliban dan tidak pula naik ke langit, tetapi pergi keluar negerinya sendiri karena diselamatkan Tuhan. Mirza Ghulam Ahmad mendasarkan teorinya menurut menurut hadits Nabi yang mengatakan Isa hidup selama 120 tahun dan ayat berikut: Kami telah mengungsikan Yesus dan ibunya ke satu tempat yang tinggi (Al Mukminun : 50) Di dalam Injil dikatakan bahwa Yesus datang ke bumi untuk mencari 12 domba (suku) Israel yang sesat dan telah diketahui sebagian besar mereka hidup di negeri bagian timur dunia. Kepada para muridnya, Yesus berkata, “Adalagi padaku domba lain yang bukan masuk kandang domba ini, maka sekalian itu juga wajib ku bawa dan domba-domba itu kelak mendengar suaraku, lalu menjadi sekawan dan gembalanya seorang saja (Yohanes 10 : 16) Menurut Mirza Ghulam Ahmad, hal ini berarti setelah selamat dari penyaliban, Yesus pergi ke negeri Timur untuk mencari suku-suku Israel yang hilang (tersesat) dan mengajarkan mereka amanat rohani yang dibawanya. Teorinya juga didasarkan pada surat berikut : Dan telah Kami jadikan (Isa) putera Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir. (Al Mu’minun : 50) Beliau menafsirkan bahwa Isa dan ibunya Maryam diungsikan oleh Allah ke tempat yang tinggi, berdasarkan bukti-bukti fisik yang ditemukan, yang dimaksud “tempat tinggi” adalah daerah Kashmir di India. Sebab dikatakan lebih lanjut bahwa “tempat tinggi” itu aman, indah dan memiliki banyak mata air. Ini cocok sekali dengan suasana alam Kashmir yang bergunung-gunung dengan pemandangan damai nan indah dan mata air melimpah. Keterangan mengenai Isa tinggal di Kashmir setelah selamat dari penyaliban, juga diungkapkan dalam Veda (Bhavisya-Purana) yaitu kisah pertemuannya dengan Raja Shalivahana (Shalevahin), cucu Raja Vikramaditya, di daerah Huna (dekat kota Srinagar di Kashmir sekarang) yang menjadi wilayah Kerajaannya. Percakapan mereka adalah sebagai berikut: Sang Raja bertanya, “Bolehkah saya tahu siapa anda?” Dengan riang yang ditanya menjawab, “Ketahui lah saya adalah putra Tuhan yang lahir dari rahim wanita perawan dan saya dikenal dengan nama Isa Al Masih (Bhavisya-purana, Skanda III Bab 2 sloka 26-27)”. Kemudian Isa menjelaskan tentang dirinya, “Wahai sang Raja, saya datang dari negeri jauh dimana kebenaran tidak bisa tinggal lama dan kejahatan sudah merajalela tanpa batas. Saya lahir di masyarakat Amalakit sebagai Al Masih. Karena saya lah orang-orang jahat dan ber dosa menderita, dan saya juga menderita ditangan mereka (Bhavisya-purana, Skanda III, Bab 2, sloka 29-30)”. Menurut Mirza Ghulam Ahmad ini bahwa ketika Isa kembali ke India (sekarang Kashmir), ia datang bersama ibunya Maryam dan sejumlah pengikutnya. Penduduk setempat menyebut Yesus dengan nama Yuz Asaf, sebab ia ahli menyembuhkan orang-orang sakit (Yuz = pemimpin,ahli, Azaf = tersembuhkan). Jadi Yuz Asaf berarti pemimpin orang-orang yang telah disembuhkan. Dalam buku “Acts Of Thomas” diceritakan tentang perjalanan Yesus beserta Thomas di Pakistan (yang pada waktu itu bernama Taxila) dan kunjungan mereka ke istana Raja Gandapura (Gundafor) tahun 47 Masehi. Kira-kira 40 km selatan Srinagar terdapat dataran rendah nan luas yang disebut Yuz-marg (padang rumput Yesus). Disinilah beberapa suku Israel bermukim sekitar tahun 722 sebelum masehi. Mereka hidup sebagai gembala (peternak) yang sampai saat ini menjadi mata pencaharian penduduk di daerah itu. Kira-kira 170 km barat kota Srinagar ada kota kecil bernama Mari. Di kota kecil ini terdapat makam ibunda Isa, makam tua yang disebut Mai Mari Da Asthan (peristirahatan terakhir bunda Maria). Dan di bagian wilayah tua pusat kota Srinagar yaitu distrik Khanyar terdapat makam Isa yang disebut “Rauza-bal” atau “Roza-bal” (makam sang Nabi). Di tempat ini ada prasasti yang menyatakan bahwa Yuz Asaf datang ke Kashmir puluhan abad silam dan mengabdikan diri pada pencarian kebenaran. Pada batu Nisannya tercetak tanda salib, rosary dan dua telapak kakinya yang jelas-jelas menunjukkan bekas-bekas luka disalib. Makam Isa (Roza-bal) ini di-bangun oleh muridnya yaitu Thomas sesuai perintah Isa sebelum wafat. Di makam ini jenasah Isa dibaringkan dengan kedua kaki mengarah ke ke barat dan kepala mengarah ke timur sesuai dengan adat orang Yahudi. Thomas sendiri diperintah Isa untuk menyebarkan ajarannya di India. Thomas membangun gereja di Malabar, India selatan dan terus ke Mylapur dekat Madras. Dan di tempat ini sampai sekarang ada bukit bernama bukit Thomas. Kitab Persia kuno “Negaris Tam-i Kashmir” menceritakan bahwa Raja Shalivahana (Shalevahin) berkata kepada Isa bahwa jika Isa perlu wanita pendamping (istri) untuk merawat dirinya, beliau siap mencarikan. Dan Isa setuju. Dikatakan bahwa Isa kemudian menikah dengan Maria (Maria Magdalena) dan darinya Yesus memiliki beberapa putra. Salah satu keturunan Isa adalah Sahibzada Basharat Salim. Dia menyatakan dengan sangat hati-hati berdasarkan silsilah tertulis leluhurnya yang panjang bahwa Yuz Asaf (Isa) adalah leluhurnya. Kisah diatas telah dipertahankan oleh orang-orang Ahmadiyah mulai berdirinya gerakan itu yang didirikan pada Desember 1888 oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian (India) yang mengaku telah memperoleh ilham dari Allah SWT untuk mengambil bai’at dari orang-orang tentang sumpah setia kepada Imam Mahdi yang menurutnya adalah ia sendiri. Pada tahun 1891 Mirza Ghulam Ahmad mengaku bahwa ia telah mendapat ilham dari Allah SWT bahwa Nabi Isa as telah wafat dan tidak akan datang lagi ke dunia. Menurutnya kedatangan Nabi Isa as kedua adalah orang lain yang datang dengan sifat dan cara seperti Nabi Isa as, yaitu Mirza Ghulam Ahmad sendiri, pendakwaan diri ini ia sebut sebagai Masih Mau’ud. Setelah Mirza Ghulam Ahmad wafat dan tidak terbukti tentang kejadian yang akan dilakukan Isa di akhir zaman seperti mematahkan salib dan membunuh seluruh babi di dunia sebagaimana dikabarkan dalam Al Qur’an, nama Ahmadiyah tidak lagi terangkat selama kurang-lebih satu dekade setelahnya. Barulah muncul kebijakan dalam golongan Ahmadiyah bahwa imam penerus dari golongan tersebutlah yang nantinya akan menjadi Imam mahdi sekaligus yang mensifati Nabi Isa as (Masih Mau’ud). Rasulallah SAW mengatakan bahwa Imam Mahdi tidak akan melakukan pendakwaan diri sebagaimana yang dilakukan Mirza Ghulam Ahmad, dan juga tidak akan ada orang yang mengatakan, “saya telah jelas memutuskan bahwa anda adalah imam mahdi as”. Umat islam akan merasakan kehadiran Imam Mahdi dalam hati nurani mereka dan juga bukan melalui pemilihan suara, tetapi percaya sebagai keyakinan mereka bersama. Imam mahdi as akan menjadi keyakinan umum setiap muslim. Dan akan ada satu kesepakatan bahwa setiap orang secara tulus meyakininya. Orang-orang akan mengatakan bahwa ia akan sangat pantas, bahwa ia akan membawa kebaikan untuk keselamatan masa depan, sehingga akan menjadi lebih baik untuk mengangkat dia sebagai pemimpin. Semua orang-orang muslim akan berkeyakinan seperti itu. Kemudian semua orang Islam akan berkumpul dan mengadakan bai’at dalam kesatuan di bawah kepemimpinannya. Bukan Imamnya yang mencari orang untuk dibaiat seperti yang dilakukan Mirza Ghulam Ahmad. Dari cerita yang dibuat Mirza Ghulam Ahmad diatas tidak sepenuhnya salah, tetapi karakter yang disebut olehnya sebagai Isa yang pergi ke Kashmir, tidak lain adalah Yudas Iskariot dengan wajah yang mirip Isa. Ia memutuskan untuk menelusuri perjalanan hidup Isa “di tahun-tahun yang hilang” mencari apa yang sebenarnya terjadi dan yang dialami oleh Isa pada waktu sebelum kembali ke Yerusalem. Bersama dengan beberapa murid Isa yang mempercayainya seperti thomas dan Maria Magdalena mereka meninggalkan Yerusalem pergi ke Kashmir Pakistan. Disinilah Yudas Iskariot tinggal, menyebarkan ajaran Isa menurut versinya dan menetap sampai akhir hayatnya, kemudian penduduk setempat menyebut dirinya dengan nama Yuz Asaf. Kata Yuz Asaf terdiri dari kata Yuz yang berasal dari Yud (Jude) dengan maksud Yudas yang tentu hal ini tidak lepas dari cara ejakan dan logat pengucapan nama seseorang di tempat budaya yang berbeda. Dan Asaf adalah nama sebuah marga (bani) dari suku Lewi yang juga disebutkan di dalam Al Kitab yaitu nama-nama beikut :  Asaf bin Berekhya bin Simea adalah seorang ahli musik keturunan suku Lewi dari bani Gerson pada jaman raja Daud (Tawarikh 6:39; 15:17-19; 16:4-7,37)  Asaf, ayah dari Yoah, bendahara raja Hizkia dari Kerajaan Yehuda (2 Raja-raja 18:18-37)  Asaf (atau Ebyasaf), seorang keturunan suku Lewi yang lain dari bani Korah (1 Tawarikh 26:1)  Asaf, pengawas taman raja Artahsasta I dari Persia (Nehemia 2:8). Buku sejarah "Farhang-i-Jahangiri" dan "Anjuman-i-Arae Nasiri" dari Raja Quli (xxiv, kolom 1) membicarakan Asaf sebagai seorang besar dari negeri-negeri Arab, sementara di dalam buku "Burhan-i-Qate" (XXXIV, kolom 2) Asaf adalah suatu nama yang diberikan kepada Asaf anak Barkhia, salah seorang yang terpelajar dari Bani Israel suku Lewi yang disebutkan pada nomor 1 diatas. Lewi, putra Yakub, mempunyai 3 putra : Gerson, Kehat dan Merari. Mereka ini yang pergi ke Mesir bersama-sama Yakub. Asaf anak Barkhia yang disebut dalam nomor 1 adalah anak keturunan dari Gerson, Yahat, Simei, Zima, Etan, Adaya, Zerah, Etai, Malkia, Baaseya, Mikhael, Simea, Berekhya, Asaf. Dan Kehat mempunyai 4 putra: Amram, Yizhar, Hebron dan Uziel. Ebyasaf yang disebutkan pada nomor 3 adalah anak keturunan dari Kehat, Yizhar, Korah, Ebyasaf. Ebyasaf menjadi kakek moyang nabi Samuel. Setelah Musa membawa bani Israil dari Mesir ke Kana’an masing-masing suku mendapatkan pembagian tanah di Kanaan dan masing-masing menamai tanahnya dengan nama mereka. Suku Lewi berbeda dengan suku-suku lainnya, suku Lewi tidak mendapatkan pembagian tanah di Kanaan. Hal ini disebabkan karena suku itu menempati posisi khusus dalam agama Israel kuno, yakni sebagai keluarga imam dan penjaga serta pemelihara Bait Suci di Yerusalem. Di Kiryat-Arba tempat dikuburnya Sarah istri Ibrahim dinamakan kota Hebron nama paman Musa. Berada 10 mil di sebelah selatan kota Hebron terdapat kota Keriot-Hezron mengambil nama dari Yeriot anak Kelab anak Hezron anak Peres anak Yehuda. Hebron dari suku Lewi dan Hezron dari suku Yehuda. 20. Berikut ini adalah tanah yang diberikan kepada keluarga-keluarga dalam suku Yehuda untuk menjadi milik mereka. 21. Kota-kota yang paling jauh di sebelah selatan, yang menjadi milik Yehuda, yaitu yang terletak di perbatasan Edom, semuanya ada dua puluh sembilan kota, termasuk desa-desa di sekitarnya. Kota-kota itu ialah: Kabzeel, Eder, Yagur, Kina, Dimona, Adada, Kedes, Hazor, Yitnan, Zif, Telem, Bealot, Hazor-Hadata, Keriot-Hezron (yaitu Hazor), Amam, Sema, Molada, Hazar-Gada, Hesmon, Bet-Pelet, Hazar-Sual, Bersyeba, Baala, Iyim, Ezem, Eltolad, Khesil, Horma, Ziklag, Madmana, Sansana, Lebaot, Silhim, Ain dan Rimon. (Yosua 15 : 20-32) Pada akhir hayatnya Musa dimakamkan di Kashmir. Cerita kuno bangsa Kashmir, baik berupa tulisan maupun lisan menguatkan, bahwa Musa datang ke Kashmir dan dimakamkan di sana. Di dalam "Hashmat-i-Kashmir", oleh Abdul-Qadir, halaman 7, disebutkan "Musa tiba di Kashmir dan orang-orang mendengarkan khotbahnya. Orang-orang Kashmir menamakan makam itu sebagai "Tempat Suci Nabi Ahli Kitab". Makam yang ditunjukkan di sini adalah satu makam yang terletak di puncak bukit Niltoop, yang dikatakan telah dihormati sejak 3.500 tahun yang silam. Dan di dekat tempat itu ada beberapa tempat yang dikenal sebagai "Muqam-i-Musa" "Tempat Musa" "Dan dikuburkannyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburannya sampai hari ini" (Ulangan 34 : 6). Musa dikenal penduduk kasmir berasal dari Kanaan kota Hebron yang berdekatan dengan kota Hezron. Disebutkan dalam Al Kitab pada zaman Musa negeri Moab membentang dari kota Keriot-Hezron di Kana’an sampai kota Bozra atau Birsha yaitu Birsu (Awantipur & Srinagar) di Khasmir. Keriot, Bozra dan atas segala kota negeri Moab yang jauh dan yang dekat. (Jeremiah 48:24) Maka ketika Yudas pergi ke Khasmir, mereka menganggap Yudas adalah sebagai seorang besar dari negeri-negeri Arab (Kana’an) dari suku Lewi yang bermarga Asaf. Pada perjalanan Isa ke india sebelum kembali ke Yerusalem, Isa as dikenal dengan nama Isa bukan Yus Asaf, tentu hal ini sangat tidak masuk akal jika dalam selisih waktu tiga atau empat tahun dari kembalinya Isa dari Tibet pada umur 29 atau 30 tahun, orang-orang di Kashmir menyebutnya dengan nama lain (Yus Asaf) sedangkan pada waktu perjalanannya pulang Isa pun juga melewati dan menurut teks manuskrip atau legenda sempat bersinggah cukup lama di kota Leh berjarak 250 km dari Srinagar tempat Yus Asaf dimakamkan. Maka setelah Yudas Iskariot bangun ia menemui Maria Magdalena dan beberapa murid Isa, sebagimana yang diceritaan dalam Injil Yohanes 20:13-16, kemudian ia meninggalkan Yerusalem pergi ke Galilea, karena letak wilayah ini adalah rutenya para kafilah untuk pergi ke Syria, kemudian berjalan ke arah timur melewati Damaskus (Damsyik). bagaimana Paulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahawa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus. (Kisah Para Rasul 9:27) Di kota ini ada satu tempat yang dinamakan "Maqam-i-'Isa (tempat di mana Yesus pernah tinggal). Berbagai keterangan mendukung pandangan tersebut bahwa Yudas yang wajahnya diserupakan Isa pernah tinggal beberapa lama di Damaskus dan dalam perjalanannya menuju Damaskus itulah Yudas pernah bertemu dengan Saul dari Tarsus, yaitu orang yang pernah menganiaya orang-orang Kristen dan menjadi rasul Paulus. Apabila hipotesa kami benar, maka mungkin sekali Yudas benar-benar pernah tinggal di Damaskus pada waktu itu, dan dengan sengaja keluar untuk menemui Saul dalam perjalanannya ke kota dan berusaha memberikan kesaksian dan pengarahan kepadanya, sehingga Paulus tidak ragu-ragu menyebutkan bahwa ia pernah bertemu Isa yang bangkit setelah disalib, padahal yang sebenarnya adalah Yudas Iskariot. Sebelum Yudas Iskariot berangkat ke Kashmir dan bertemu dengan Raja Shalivahana (Shalevahin) yang menawarkan istri kepadanya, ia telah menikah dengan Maria Magdalena dan setelah menetap di Kashmir ia memiliki beberapa putra. Dan yang terkenal disebut Sahibzada Basharat Salim sebenarnya adalah keturunan Yudas Iskariot. Sedangkan makam yang dipercaya sebagai makam Ibunda Isa, sehingga disebut Mai Mari Da Asthan (peristirahatan terakhir bunda Maria) tersebut adalah makam Maria Magdalena, oleh karena itu sampai sekarang pun makam Maria Magdalena juga masih misterius. Dan makam yang disebut “Rauza-bal” atau “Roza-bal” (makam sang Nabi) tersebut adalah makam Yudas Iskariot. Thomas mempercayai apa yang dikatakan Yudas sehingga ia mengikutinya ke Kashmir, sehingga ia menulis buku “Acts Of Thomas” , ia juga menulis Injil Tomas, yang terlestarikan lengkap dalam sebuah manuskrip papirus berbahasa Koptik, dan ditemukan pada 1945 di Nag Hammadi, Mesir. Pada tahun 1975, UNESCO mempublikasikan beberapa naskah tersebut, beberapa bagian naskah yang berisi tulisan tersebut berbunyi : Penyelamat itu mengatakan, “Sesungguhnya yang aku lihat begitu gembira dan tertawa adalah Yasu’ (Isa) yang masih hidup. Sementara yang ditancapi paku pada kedua tangan dan kakinya oleh orang-orang itu adalah penggantinya. Mereka telah member aib dan cela terhadap orang yang diserupakan dengan isa. Lihatlah dia dan lihatlah diriku, Sedang orang lain yang meminum air pahit dan cuka itu bukanlah diriku, melainkan orang lain yaitu Simon Peter. Dialah orang yang membawa salib di atas pundaknya. Dan ada orang lain lagi yang meletakkan mahkota duri di atas kepalanya. Di atas ketinggian, aku menertawakan kebodohan mereka.” Dari pernyataan Thomas tersebut sangatlah jelas ia memberikan keterangan bahwa orang yang disalib adalah Simon Peter, karena sangat tidak mungkin ia menerangkan bahwa orang yang disalib adalah Yudas Iskariot yang ia ikuti ke Kashmir. Sehingga bisa dikatakan bahwa Thomas memihak Yudas Iskariot, dan ketika ia menguburkan Yudas pun pastilah ia mengetahui bahwa yang ia ikuti ke kasmir bukanlah Isa yang sesungguhnya.