JANGKA JAYABAYA

Ramalan Jayabaya atau sering disebut Jangka Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yang dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga. Asal Usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang dikumpulkannya pada tahun 1618 M. Sekalipun banyak keraguan keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yang menuliskan bahwasanya Jayabayalah yang membuat ramalan-ramalan tersebut. Sri Mapanji Jayabaya atau Jayabhaya, (Jawa: Ratu Joyoboyo) adalah Raja Jawa dari Kediri di Jawa Timur pada tahun 1135-1157 M. Ratu Jayabaya menyatukan kembali kerajaan Kediri setelah perpecahan karena kematian pendahulunya Airlangga. Ratu Jayabaya dikenal karena pemerintahannya adil dan makmur, dan terkenal telah menjadi titisan dari dewa Wisnu. Ratu Jayabaya melambangkan pola dasar Ratu Adil : raja hanya terlahir kembali di Zaman penderitaan "Zaman Edan" untuk mengembalikan Zaman Raharja : keadilan sosial, ketertiban, dan keharmonisan di dunia. Orang Jawa percaya pada riwayat siklus perputaran Zaman dari era pemerintahan Jayabaya (Zaman Raharja) diikuti era penderitaan (Zaman edan), untuk siklus kembali ke era kemakmuran (Zaman Raharja). Menurut bait syair singkat dalam ramalan Joyoboyo (semua adalah puisi epik yang sangat panjang): "Orang Jawa akan diperintah oleh orang kulit putih selama tiga abad dan oleh kerdil kuning untuk masa hidup tanaman jagung sebelum kembalinya Ratu Adil: Nama yang harus berisi setidaknya satu suku kata orang Jawa Noto Negoro." Banyak yang percaya bahwa waktu kedatangan baru Ratu Adil sudah dekat (seperti para pujangga mengatakan, "ketika kereta besi bisa mengemudi tanpa kuda dan kapal bisa berlayar di langit”) dan bahwa ia akan datang untuk menyelamatkan dan menyatukan kembali Indonesia setelah krisis yang akut, mengantarkan fajar sebuah zaman keemasan baru. Dari isi RAMALAN JAYABAYA ini, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1741-1743 M. Sang Pujangga ini seorang pangeran yang mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah "Perdikan" yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak. Beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila beliau dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong. Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan pendirian dan cara yang lain, yakni dengan jalan mengambil pokok/permulaan cerita Raja Jayabaya dari Kediri. Nama-nama diketahui dari Kitab Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedah pada tahun 1157 M atas titah Sri Jayabaya di Daha/Kediri. Setelah mendapat pathokandata baru, raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang pujangga (Pangeran Wijil) lalu menulis kembali, dengan gubahan "JANGKA JAYABAYA" dengan ini yang dipadukan antara sumber Kitab Bharatayudha dengan kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-negara dikarangnya sebelumnya dalam bentuk babad. Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti sarinya dan diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari. Jangka Jayabaya dari Kitab Asrar ini sungguh diperhatikan benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18 sampai 19 Masehi dan sudah terang Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaan Jawa baru. Hal ini ternyata dengan munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan Jayabaya yang hanya bersifat ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh bermacam-macam versi teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat hakikat bercampur jangka atau ramalan, akan tetapi dengan ujaran yang dihubungkan dengan lingkungan historisnya satu sama lain sehingga merupakan tambahan riwayat buat negeri ini. Semua itu telah berasal dari satu sumber benih, yakni Kitab Asrar karya Sunan Giri ke-3 dan kitab Bharatayudha karangan Mpu Sedah yang berhulu dari kitab Mahabharata karangan Abi Yasa/Nabi Isa As. Dengan demikian, Jangka Jayabaya ini ditulis kembali dengan gubahan oleh Pangeran Wijil I pada tahun 1749 M bersama dengan gubahannya yang berbentuk puisi, yakni Kitab Musarar. Dengan begitu menjadi jelaslah apa yang kita baca sekarang ini Ramalan Jayabaya atau sering disebut Jangka Jayabaya seperti sebuah penafsiran atau penjabaran yang digubah sesuai kondisi zaman dari sebagian kitab Mahabharata yaitu mengenai cerita perang Bharatayudha, perang akhir zaman, perang Armageddon, Perang Dunia III, Perang Nuklir. Isi Ramalan Jayabaya Tanda-Tanda Zaman  Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran (kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda/mobil,kereta api).  Tanah jawa kalungan wesi (Tanah Jawa berkalung besi/jembatan,jalan raya,rel kereta api).  Perahu mlaku ing dhuwur awang-awang (perahu berlayar diangkasa/pesawat, helikopter)  Kali ilang kedunge (sungai kehilangan lubuk/akibat bendungan buatan).  Pasar ilang kumandange (pasar hilang suaranya/akibat dari banyaknya mol dan pusat pembelanjaan).  Iku tandane ingtekane zaman Jayabaya wis cedhak (itulah pertanda zaman Jayabaya/keemasan sudah dekat). Zaman Bolak Balik  Bumi soyo suwe soyo mengkeret (Bumi semakin lama semakin mengkerut).  Sekilan bumi dipajeki (sejengkal tanah dikenai pajak).  Jaran doyan mangan sambel (kuda suka makan sambal).  Iku tandane yen wong bakal nemoni wolak waliking zaman (itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik). Tidak Peduli Hukum Allah  Akeh janji ora ditetepi (banyak janji tidak ditepati).  Manungsa pada seneng nyalah (orang-orang saling lempar kesalahan).  Akeh wong wani nglanggar sumpahe dewe (banyak orang berani melanggar sumpahnya sendiri).  Ora ngendahake hukum Allah (tidak peduli hukum Allah). Esensi Agama Terlupakan  Agama akeh sing nantang (agama banyak ditentang).  Prikamanungsan soyo ilang (perikemanusiaan semakin hilang).  Akeh wong mendem donga (banyak orang mabuk doa).  Kono kene rebutan unggul (dimana-mana berebut menang).  Omah suci dibenci, omah ala soyo dipuja (rumah suci dijauhi, rumah maksiat makin dipuja/ digemari).  Wong wadon lacur ing ngendi-ngendi (dimana-mana perempuan lancur). Laki Perempuan Berganti Peran  Wong wadon nganggo pakaian lanang (perempuan berpakaian lelaki).  Wong wadon nglamar wong lanang (perempuan melamar laki-laki).  Wong lanang ngasorake drajate dewe (laki-laki merendahkan derajatnya sendiri). Lupa Jati Diri  Wong wadon ilang kawirange (perempuan hilang malunya).  Wong lanang ilang prawirane (laki-laki hilang keperwiraannya).  Akeh wong lanang ora duwe bojo (banyak laki-laki tidak mau beristri).  Akeh wong wadon ora setya marang bojone (banyak perempuan tidak setia pada suami).  Akeh ibu pada ngedol anake (banyak ibu menjual anak).  Akeh wong wadon ngedol awake (banyak perempuan menjual diri).  Akeh wong ijol bebojo (banyak orang tukar pasangan).  Wong wadon nunggang jaran (perempuan menunggang kuda).  Wong lanang linggih plangki (laki-laki naik tandu).  Randa seuwang loro (janda berharga dua mata uang)  Prawan sarega lima (prawan seharga lima mata uang).  Duda pincang laku sembilan uang (duda pincang laku sembilan mata uang). Orang Tua Lupa Ketuaan  Wong mangan wong (manusia makan manusia).  Anak lali Bapak (anak lupa Bapak).  Wong tuwa lali tuwane (orang tua lupa ketuaannya).  Akeh omah ing duwur jaran (banyak rumah di atas kendaraan). Kehancuran Keluarga  Lali sanak lali kadang (lupa famili lupa saudara).  Akeh bapa lali anak (banyak Bapak lupa anak).  Akeh anak wani nglawan ibu (banyak anak berani melawan ibu).  Nantang bapa (menantang Bapak).  Sadulur pada cidra (sesama saudara saling khianat).  Kulawarga pada curiga (keluarga saling mencurigai).  Anak mangan Bapak (anak makan Bapak).  Sedulur mangan sedulur (saudara makan saudara).  Kanca dadi mungsuh (kawan jadi lawan).  Tangga pada curiga (tetangga saling curiga).  Guru disatru (guru dimusuhi).  Akeh manungsa lali asale (banyak orang lupa asal-usul). Jahat Dijunjung – Suci Dibenci  Barang jahat diangkat-angkat (yang jahat dijunjung-junjung).  Barang suci dibenci (yang suci/benar dibenci).  Akeh manungsa mung ngutamakke duwit (banyak orang hanya mengutamakan uang).  Lali kamanungsan (lupa jati kemanusiaan).  Lali kabecikan (lupa hikmah kebaikan). Penjahat Meraja Lela  Sing edan bisa dandan (yang gila bisa bersolek).  Sing sing mbangkang padha bias nggalang omah gedong magrong-magrong (yang memberontak bisa membangun gedung tinggi)  Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kapencil (yang waras/ingat/sadar dan adil hidupnya merana dan tersisih).  Durjana soyo ngambra-ambra (kejahatan semakin merajalela).  Penjahat soyo tambah (penjahat semakin banyak). Kejahatan Dimanjakan  Wong bener soyo tenger-tenger (yang benar semakin pusing)  Wong salah soyo bungah-bungah (si salah semakin bersuka ria).  Wong ala dipuja (yang jahat di manjakan/dihormati)  Wong pinter diingar-inger (yang pandai dipersulit).  Wong ngerti mangan ati (orang yang mengerti makan hati).  Sing suwarane seru oleh pengaruh (yang bersuara tinggi dapat pengaruh). Sadar – Tak Sadar  Sing nekat mbrekat (yang nekat membawa hasil).  Sing jirih katindih (yang berhati kecil tertindih).  Sing ngawur makmur (yang ngawur makmur).  Sing ngati-ati ngrintih (yang hati-hati menderita)  Sing ngedan keduman (yang gila mendapat bagian).  Sing waras nggagas (yang sehat/banyak pikiran berpikir). Ketidak Adilan  Ukuman ratu ora adil (hukuman raja tidak adil).  Akeh pangkat sing jahat lan ganjil (banyak pembesar jahat dan aneh).  Akeh kelakuan sing ganjil (banyak tabiat yang aneh).  Wong apik-apik pada kapencil (banyak orang baik menjadi tersisih). Mau Senang Tanpa Kerja Keras  Akeh wong nyambut gawe apik-apik pada krasa isin (banyak orang malu justru pada kerja yang halal).  Luwih utama ngapusi (lebih mengutamakan menipu).  Wegah nyambut gawe (malas bekerja).  Kepengin urip mewah (inginnya hidup mewah).  Ngumbar nafsu angkara murka (melepas nafsu angkara murka).  Ngendelake duraka (mengedepankan durhaka). Baik Dianggap Buruk – Buruk Dianggap Baik  Wong bener tenger-tenger (yang benar pusing).  Wong salah bungah (yang salah bergembira).  Wong apik ditampik-tampik (yang baik ditolak).  Wong jahat munggah pangkat (yang jahat naik pangkat).  Wong agung kasinggung (yang mulia dilecehkan).  Wong ala dipuja (yang jahat dipuji).  Timah dianggep perak (timah dianggap perak).  Emas diarani tembaga (emas dibilang tembaga).  Dandang dikandakake kuntul (gagak dikatakan kuntul/ bangau). Perdagangan Ilmu  Akeh wong ngedol ngelmu (banyak orang menjual ilmu).  Akeh wong ngaku-ngaku (banyak orang mengaku diri).  Njabane putih ngerone dhadhu (diluar putih didalam jingga).  Ngakune suci (mengaku suci).  Nanging sucine palsu (tapi palsu belaka).  Akeh bujuk akeh lojo (banyak tipu banyak muslihat). Ketidakselarasan  Akeh udan salah mangsa (banyak hujan salah musim).  Akeh prawan tuwa (banyak perawan tua).  Akeh randha nglairake anak (banyak janda melahirkan anak).  Akeh jabang bayi lair nggoleki Bapake (banyak anak lahir mencari bapaknya). Mengandung Kutukan  Akeh laknat (banyak kutukan).  Akeh pengkhianat (banyak pengkhianat). Angkara Murka  Kana kene soyo angkara murka (angkara murka semakin menjadi-jadi/dimana-mana).  Sing weruh kebubuhan (yang mengetahui terkena beban/ menjadi saksi).  Sing ora weruh ketutuh (sedang yang tidak tahu disalahkan).  Angkara murka ngombro-ombro (angkara murka menjadi-jadi).  Akeh wong angkara murka (banyak orang angkara murka).  Nggedekake durhaka (membesar-besarkan durhaka).  Kasusilan ditinggal (tata susila diabaikan).  Akeh wong edan jahat lan kelangan akal budi (banyak orang gila jahat dan hilang akal budi).  Angkara murka soyo ndadi (angkara murka semakin menjadi).  Kana kene soyo bingung (di sana sini semakin bingung). Perang Saudara  Besuk yen ana peperangan (kelak jika terjadi perang).  Teka saka wetan kulon kidul lan lor (yang datang dari timur barat selatan dan utara).  Akeh wong becik soyo sengsara (banyak orang baik semakin sengsara).  Wong jahat soyo seneng (yang jahat semakin bahagia).  Ana peperangan ing njero (terjadi perang didalam).  Timbul amarga para pangkat akeh sing pada salah paham (terjadi karena para petinggi banyak yang salah paham).  Akeh wong mati jalaran saka peperangan (banyak orang mati karena perang).  Kebingungan lan kobongan (karena bingung dan kebakaran). Salah Kaprah  Wektu iku akeh dandang diunekake kuntul (ketika itu banyak gagak dibilang bangau).  Wong salah dianggep bener (orang salah dianggap benar).  Pengkhianat nikmat (pengkhianat nikmat).  Durjana soyo sempurna (Durjana semakin sempurna/ mapan).  Wong jahat munggah pangkat (orang yang jahat naik pangkat).  Wong mulya dikunjara (orang mulia/ terhormat masuk penjara).  Sing curang garang (yang curang berkuasa).  Sing jujur kojur (yang jujur sengsara). Matinya Dunia Usaha  Pedagang akeh sing keplarang (pedagang banyak yang tenggelam).  Wong main akeh sing ndadi (penjudi banyak merajalela).  Pedagang adol barang soyo laris (pedagang menjual barang semakin banyak laku).  Bandhane soyo ludes (namun harta mereka semakin habis).  Akeh wong nyekel banda nanging uripe sengsara (banyak orang berharta tetapi hidupnya sengsara).  Akeh banda musna ora karuan lungane (banyak harta hilang entah kemana).  Pedagang akeh alangane (pedagang banyak rintangan).  Akeh buruh nantang juragan (banyak buruh menantang majikan/ demo).  Juragan dadi umpan (majikan menjadi mangsa/ umpan).  Akeh pangkat lan drajat pada minggat (banyak pejabat dan martabat lenyap jabatan dan martabatnya). Penderitaan Rakyat  Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan (banyak orang mati kelaparan disamping makanan).  Akeh barang-barang mlebu luang (banyak barang terbuang).  Akeh wong keliren lan wuda (banyak orang lapar dan telanjang).  Wong tuku ngenik sing dodol (pembeli mencurangi/ merayu penjual).  Sing dodol akal okol (si penjual bermain siasat). Kecil Besar Susah Semua  Sing gede kesasar (yang besar kesasar).  Sing cilik kepleset (yang kecil terpeleset).  Sing anggak ketunggak (si congkak terbentur).  Sing wedi mati (yang takut terbunuh). Pagar Makan Tuan  Wong momong mitenah sing diemong (pengasuh memfitnah yang diasuh).  Wong njaga nyolong sing dijaga (si penjaga mencuri yang dijaga).  Wong njamin njaluk dijamin (si penjamin minta di jamin).  Maling wani nantang sing nduwe omah (pencuri menantang yang punya rumah).  Begal pada ndugal (penyamun semakin kurang ajar).  Rampok pada keplok-keplok (perampok bersorak sorai).  Wong tani ditaleni (para petani diikat).  Wong dora ura-ura (si pembohong bernyanyi-nyanyi). Pemimpin Lupa Kewajiban  Ratu ora netepi janji musha penguwasane (pemimpin ingkar janji, hilang kekuasaannya).  Bupati dadi rakyat (bupati/pejabat menjadi rakyat).  Wong cilik dadi priyayi (rakyat kecil jadi pejabat).  Sing mendele dadi gedhe (yang curang menjadi besar).  Sing jujur kojur (yang jujur celaka). Pemimpin Kacau – Rakyat Kacau  Ana bupati saka wong sing asor imane (ada pemimpin berasal dari yang beriman rendah).  Patihe kepala judhi (menterinya/staf/pembantunya dari bandar judi).  Wong sing atine suci dibenci (yang berhati suci/baik dibenci).  Pangkat dadi pemikat (pangkat menjadi pemukau/daya tarik).  Bandha dadi memala (harta bena menjadi penyakit/bencana). Rakyat Kacau, Negeri Kacau  Sing sawenang-wenang rumangsa menang (yang sewenang-wenang merasa menang)  Sing ngalah rumangsa kabeh salah (yang mengalah serba salah).  Wong sing jahat lan pinter jilat soyo derajat (yang jahat dan pandai menjilat makin bergengsi/maju).  Pemerasan soyo ndadra (pemerasan merajalela).  Tukang mangan suap soyo ndadra (pemakan suap merajalela).  Wong sugih krasa wedi (orang kaya ketakutan).  Wong wedi dadi priyayi (orang takut jadi priyayi). Terbaliknya Zaman  Ratu karo ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi (para pemimpin berunding negara mana yang dipilih dan disukai).  Wong jawa kari separo, landa-cina kari sajodho (orang jawa tinggal separuh, belanda dan cina tinggal sepasang).  Akeh wong ijir, akeh wong cethil (banyak orang bathil, banyak orang kikir).  Sing eman ora keduman (yang hemat tidak mendapat bagian).  Sing keduman ora eman (yang mendapat bagian tidak berhemat).  Akeh wong mbambung, akeh wong limbung (banyak orang berulah dungu, banyak orang limbung/bingung/pikun).  Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka (lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman ). Namun, Kemanusiaan Tetap Hidup  Bejane sing lali, bejane sing eling (beruntunglah yang lupa, beruntunglah yang sadar).  Naning sauntung-untunge sing eling, isih untung sing waspada (namun betapapun beruntungnya yang sadar, masih lebih beruntung yang waspada). Satria Piningit, Sang Juru Selamat  Dununge ana sikil redi lawu sisih wetan (asalnya dari kaki gunung Lawu sebelah timur/sebelah timur gunung kailasa).  Wetane bengawan banyu (sebelah timurnya bengawan/sebelah timur sungai Yamuna/Gangga).  Hiya yayi Bethara Mukti (adalah Sang Juru Selamat).  Hiya Krisna, hiya Herumukti (dia adalah Krisna dan adalah Arjuna/ Al Mahdi dan Isa Ibnu Maryam).  Agegaman trisula wedha (senjatanya tiga kitab/Al-Qur’an-Hadis-Hikmah)  Landepe triniji suci; bener, jejeg, jujur (pedomannya tri tunggal yang suci benar-lurus-jujur).  Momongane pada dadi nayaka perang (para asuhannya menjadi perwira perang/Kalifah Allah).  Perange tanpa bala (jika berperang tanpa pengikut/tidak mempunyai pasukan).  Sakti mandraguna tanpa aji-aji (hebat dan sakti tanpa jimat/memakai kalimat Allah).  Yen menang tan ngasorake liyan (kalau menang tidak menghinakan lawan).  Tan pokro anggoning nyandang (berpakaian serba sederhana/pecis-gamis-sarung-tasbih).  Ning liya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sak pirang-pirang (namun juga bisa mengatasi-menyelesaikan perkara banyak orang).  Pendak Sura nguntapa Kumara (tiap bulan Muharram menjauhi kejahatan/mengasingkan diri/bertapa/I’tikaf)  Kang wus katon nembus dosane kadhepake ngarsaning Sang Kuasa (yang sudah terlihat menebus dosa/suci dari dosa dihadapkan ke Hadirat-Nya).  Isih timur kaceluk wong tuwa (masih muda dipanggil tua/sudah bijak dan berilmu).  Paringane Gatutkaca sayuta (mempunyai kekuatan / kecepatan bergerak / terbang 1 juta kali Gatutkaca / tidak terhingga).  Idune idu geni, sabdana malati (ludahnya mujarab,kata-katanya keramat).  Beja-bejane sing yakin lan tuhu setya sabdanira (beruntunglah yang percaya dan patuh mentaati kata-katannya/beruntunglah yang menjadi pengikutnya yang patuh/percaya pada kata-katanya).  Tan karsa sinutudan wong sak tanah jawa (tidak mau dihormati orang setanah Jawa/tidak suka dipuja-puja orang banyak).  Nanging mung pilih-pilih sapa (akan tetapi hanya memilih beberapa saja/memilih beberapa saja untuk menjadi pengikutnya).  Ora bisa diapusi marga bisa maca ati (tidak bisa ditipu karena mengetahui isi hati).  Wasis, wegig, waskita (bijak, cermat dan waspada).  Ngerti sakdurunge winarah (mengerti sebelum sesuatu terjadi).  Angawuningani jantraning zaman Jawa (memahami-mengerti perputaran zaman tanah Jawa/mengerti perjalanan roda dunia).  Ngerti garise siji-sijine umat (mengerti garis kehidupan setiap umat).  Tan kewran sasuruping zaman (tidak khawatir tertelan zaman ).  Ing zaman Kalabendhu Jawa (pada zaman serba tidak menentu di tanah Jawa/di dunia ini).  Aja kleru pandita samusana (jangan keliru mencari Sang Bijak/jangan keliru pada Sang Bijak yang Palsu).  Ana manungsa kaiden ketemu (ada manusia yang bisa/boleh bertemu).  Uga ana jalma sing durung mangsane (tapi ada juga manusia yang belum di ijinkan/belum saatnya untuk bertemu).  Aja serik aja gela, iku dudu wektunira (jangan iri dan jangan kecewa, karena memang belum waktunya).  Ing ngarsa Begawan, gawang-gawang terang ndranding (dihadapan Sang Begawan/Sang Juru Selamat apapun menjadi jelas terang benderang/tiada keraguan).  Nora ana wong ngresula kurang, hiya iku tandane kalabendu wis minger (tidak ada manusia/hamba yang mengeluh kekurangan, itulah tanda bahwa zaman yang tidak menentu telah berakhir-usai).  Centi wektu jejering kalamukti (bergantilah menjadi zaman yang penuh kemuliaan).  Andayani indering jagat raya (kemakmuran meliputi seluruh dunia).  Pandha asung bekti (semua manusia/hamba pada bersyukur).  Hiya siji iki kang bisa paring pituduh marang jarwane jangka kalaningsun (hanya Beliaulah/Dialah satu-satunya orang yang dapat memberi PETUNJUK kepada umat manusia).