Dalam sejarah manusia terdapat kepercayaan tentang hakikat keTuhanan yang dibawa oleh para agen atau nabi dan rasul dari langit (tempat bersemayam/tinggal Tuhan) yaitu Agama Samawi. Samawi adalah kata sifat dari kata Arab yang berarti langit. Jadi Agama Samawi berarti agama ‘langit’, maksudnya agama yang berbasis wahyu ilahiah, agama yang diturunkan dari ‘langit’ melalui para nabi atau rasul sejak Adam yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti. Atas dasar ini diperlukan ekstra hati-hati ketika mengkalim bahwa ‘agama saya’ adalah satu-satunya agama berbasis wahyu Tuhan. Sebagian agama sawami diturunkan kepada Nuh dan Ibrahim serta keturunan-keturunan mereka. Secara garis besar dalam silsilah agama samawi, ada tiga agama besar yang merupakan kelanjutan atau siklus wahyu ‘milah Ibrahim’ yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Banyak teks suci yang menegaskan ajaran tauhid sebagai inti ajaran semua rasul sejak Adam, Nuh dan Ibrahim beserta keturunan-keturunan mereka juga menyampaikan inti ajaran itu yang sama sekalipun sebagian memperoleh petunjuk, sebagian besar membelot. Ibrahim melanjutkan ‘milah’-nya yaitu agama hanif, kepada keturunan-keturunannya. Dan pada waktunya melahirkan agama besar dunia yang masih ada sampai sekarang yaitu Yahudi dan Nasrani melalui jalur Ya’kub putra Ishak putra ibrahim yang disebut bani Isra’il, serta Islam melalui jalur Isma’il putra ibrahim. Menarik untuk dicatat bahwa ketika perdebatan antara Islam, Yahudi dan Nasrani, Muhammad SAW diperintahkan untuk mengemukakan argumen bahwa dirinya meneruskan ajaran agama hanif Ibrahim. Dalam Ayat Al-Qur’an disebutkan : Dan mereka berkata, “Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petujuk.” Katakanlah,“(Tidak!) Tetapi (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus dan tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (Al-Baqoroh : 135) Narasi ayat itu menegaskan atau mengisyaratkan dua hal: Menegaskan bahwa ajaran Islam mengikuti milah Ibrahim Mengisyaratkan bahwa Yahudi maupun Nasrani (Kristen) adalah bukan atau tidak sejalan dengan milah Ibrahim Yang kedua ini ditegaskan lebih lanjut dalam ayat berikutnya : Katakanlah, kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’kub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami berserah diri kepada-Nya”. (Al-Baqoroh : 136) Dari kutipan ayat di atas jelas bahwa Ibrahim dan keturunan-keturunanya mengajarkan ajaran yang sama (di mata Tuhan). Dari kutipan yang sama juga jelas bahwa Ya’kub yang dikalim sebagai leluhur Yahudi dan Isa yang ajarannya diklaim sebagai rujukan Nasrani sebenarnya menyampaikan ajaran yang tidak berbeda dengan ajaran Ibrahim serta keturunan-keturunannya. Barangkali inilah salah satu alasan mengapa Muhammd SAW diperintahkan untuk ‘megajak’ kaum ahli kitab (gelar dalam Al-Qur’an yang sangat terhormat bagi kaum Yahudi dan Nasrani) untuk kembali kepada nilai-nilai kesamaan antara akar tradisi mereka yang sebenarnya dengan tradisi kaum muslimin yang ketika itu tengah dibangun sebagai ‘ahli kitab’ model Qur’ani. Diterangkan pula adalam Al-Qur’an : Katakanlah (Muhammad) “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) kembali kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain Tuhan-Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim” (Ali-Imran : 64). Sebagai catatan, ayat yang dikutip di atas tidak mengakui atau mengklaim Yahudi maupun Nasrani yang mengatakan bahwa Ibrahim adalah pengikut Yahudi atau Nasrani. Argumennya sederhana, Taurat maupun Injil datang setelah (bukan sebelum) era Ibrahim. Dari ketiga agama samawi itu sebenarnya memiliki kesamaan yang dapat dijadikan pegangan bersama yaitu ajaran Tauhid. Tetapi pada tingkat sosiologis ketiga agama itu berbeda dan Al-Qur’an mendokumentasikan banyak kasus penyimpangan yang dilakukan oleh ahli kitab dalam Surat Al-Baqarah mengenai kaum Yahudi dan Surat Al-Imran dan Al-Maidah mengenai kaum Nasrani. Yang mungkin menarik untuk dicatat adalah bahwa Al-Qur’an tidak pernah memberikan ‘pujian’ kepada kaum Yahudi tetapi beberapa kali memuji kaum Nasrani sebagaimana ditemukan dalam surat Al-Maidah ayat 82-83 : 82. Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan pasti akan kamu dapati orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani”. Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para rahib, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri. 83. Dan apabila mereka mendengarkan apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri), seraya berkata “Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad). (Al-Maidah 5 : 82-83) Di dalam surat Al-Hadiid ayat 27 pengikut Isa as. dipuji sebagai kelompok orang yang memiliki rasa santun dan kasih sayang (ra’fah dan rahmah) tetapi juga mengkritik sikap rahbaniyah (tidak beristri atau bersuami dan mengurung diri dalam biara)” yang dinilai mengada-ada. Tertelepas dari itu, ayat itu menegaskan sebagian pengikut Isa as. memperoleh pahala dan banyak di antara mereka yang fasik”. Pertanyaan yang mungkin menarik untuk dijawab adalah mengapa ketiga agama samawi itu berbeda (sekalipun memiliki akar tradisi yang sama). Jawaban hakiki untuk pertanyaan ini merupakan salah satu rahasia Allah SWT yang agaknya tidak diwahyukan bahkan kepada Rasul SAW sekalipun sebagaimana tersirat dalam banyak teks suci antara lain Al-Baqarah ayat 141. Ajaran Ibrahim, Musa dan Isa sebenarnya lengkap dalam arti mencakup semua unsur dalam agama Islam sebagaimana diungkapkan dalam hadis yang terkenal yaitu Al-Iman (Faith), Al-Islam (Law) dan Al-Ihsan (Way). Yang berbeda dalam ketiga ajaran itu adalah dalam penekanan atau aksentuasi. Dalam ajaran Ibrahim Al-Iman (Faith) memperoleh penekaan sedemikian rupa sehingga menyerap dua unsur lainnya. Dalam ajaran Musa, Al-Islam (Law) yang memeroleh penekanan sehingga dua unsur lainnya seolah-olah terserap. Berbeda dengan ajaran Ibrahim maupun Musa, ajaran Isa menekankan unsur Al-Ihsan (Way) sedemikian kuatnya sehingga dua unsurnya terserat dalam unsur ketiga itu. Bagaimana dengan ajaran Muhammad saw? Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa perbedaan agama samawi terletak dalam hal penekanan sehingga silsilah agama samawi dapat dinyatakan dalam bagan berikut : Maka dapat disimpulkan bahwa kesempurnaan ISLAM (kaffah) lebih terletak pada kelengkapan unsurnya (Iman, Islam dan Ihsan) dari pada kelengkapan penerapan hukum fikih secara harfiah (tekstual). Jadi Agama Islam adalah agama yang paling ideal dan sempurna bagi seluruh umat manusia dan meyakini bahwa Muhammad SAW adalah Utusan yang sengaja diutus Allah sebagai pembawa risalah (pesan) terakhir dari Allah untuk dijadikan pedoman/petunjuk hidup manusia yang telah dinyatakan kesempurnaan Islam tersebut dalam Al-Qur’an. Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu. (Al-Maidah : 3)