MASA REMAJA

Banyak orang memperoleh kesan yang salah bahwa injil-injil perjanjian baru memberikan biografi-biografi yang cukup komplit tentang kehidupan Isa, yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya. Markus baru memulai kisah tentang Isa ketika ia berumur tiga puluh tahun, ketika injil ini memasuki pasal ke delapan kira-kira titik tengah dari teks yang berjumlah enam belas pasal ini, jalan cerita sudah memasuki minggu terakhir dari kehidupan Isa. Matius dan Lukas menambahkan kisah-kisah seputar kelahirannya, namun pada dasarnya kedua Injil ini juga mengikuti teladan Markus. Injil Yohanes dimulai ketika Isa berumur tiga puluh tahun, Injil inipun memfokuskan setengah dari kitabnya pada hari-hari terakhir Isa di Yerusalem. Kurun waktu tiga puluh tahun pertama dari kehidupan Isa ini banyak disebut dengan “Tahun-Tahun yang Hilang” jika demikian kemanakah Isa menghilang? Dari gambaran di atas terlihat bahwa Alkitab tidak memberikan keterangan apapun tentang kehidupan Isa menurut sejarah secara jelas, Sosok Isa sebagai manusia yang terlibat dalam sejarah, Al Kitab (versi Paulus) telah dikaburkan sedemikian rupa, sehingga sejarah asli Isa benar-benar gelap bagi sebagian besar umat manusia. Yang tinggal adalah Isa yang dibungkus dengan pakaian ketuhanan sehingga bagi orang-orang yang tidak mampu menggunakan akal sehatnya, menganggap Isa benar-benar sebagai Tuhan. Tidak semua umat Kristini mengetahui bahwa cerita atau kisah tentang diri Isa di dalam Alkitab ada banyak yang hilang. Bahkan yang hilang itu lebih separoh dari umur Yesus sendiri. Dalam semua kitab injil baik keempat Injil kanonik, Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, yang merupakan sumber utama biografi kehidupan Isa. Atau pun yang Injil non kanonik seperti Injil Andreas. Injil Apelles, Injil Bardesanes, Injil Barnabas, Injil Bartelomeus, Injil Basilides, Injil Kelahiran Maria, Injil Cerinthus, Injil Hawa, Injil Ebionit, Injil orang-orang Mesir, Injil Encratites, Injil Empat Wilayah Surgawi, Injil orang-orang Ibrani, Injil Hesychius, Injil Masa Kecil Yesus Kristus, Injil Judas Iskariot, Injil Jude, Injil Marcion, Injil Mani, Injil Maria, Injil Matthias tidak ada sama sekali cerita tentang kehidupan Isa selama usia 12-30 tahun. Benarkah injil sengaja mengkaburkan kehidupan Isa selama remaja. Jika injil mengkaburkan pastilah ada sedikit jejak walaupun satu kata dari semua kalimat yang ditulis dalam Injil. Mengkaburkan dapat berarti mengetahui tetapi ada yang ditutupi, sehingga ada sebuah kata kunci untuk membuka. Dalam hal ini tidak ada sama sekali kata kunci dalam Injil mengenai misteri kehidupan Isa di masa remaja. Sehingga dapat dikatakan Injil tidak mengetahui apapun tentang hal ini. Oleh sebab itu perlu dicari keterangan tentang ini dari catatan-catatan diluar Injil. Karena tidaklah mungkin Isa menghilang dari bumi dan jika orang-orang yang dekat dengan Isa tidak memberikan keterangan tentang kehidupan Isa dimasa Remaja maka sudah barang tentu mereka tidak mengetahuinya. Dan yang pasti masa remajanya tidak bersama dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya. Bagi sebagian manusia yang mau menggunakan akalnya, “Misteri kehidupan Isa” menjadi sumber pertanyaan akal yang tidak pernah berhenti. Mereka-mereka inilah yang sedikit demi sedikit, menguak misteri sejarah hidup Yesus. Tetapi diantara mereka yang menggunakan akalnya ada juga yang merasa kebenaran mutlak ada pada hasil analisisnya yang bertentangan dengan kabar yang sudah nyata berasal dari Tuhan dan disinilah letak kebohongan-kebohongan akal yang banyak diperbincangkan dan diperdebatkan sehingga banyak pula terjadi kerancuan yang berakibat pada pembodohan akan kepercayaan kepada Tuhan atau dalam arti men-“Tuhankan Akal” sehingga membuat polemik bahwa tidak ada Tuhan, dan inilah yang sengaja dibuat oleh Sang Pendusta, Sang Massiah Palsu, Anti Christ atau Dajjal. Setelah pulang ke Nazaret seperti yang dikisahkan Lukas, kemudian apa yang dilakukan Isa selama usia 12-30 tahun? Di manakah Dia selama waktu tersebut? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang masih belum terjawabkan sampai sekarang. Mengingat keterbatasan keterangan Alkitab tentang hal ini, tidak heran muncul berbagai spekulasi sejak abad-abad permulaan sampai zaman modern. Diantara beberapa versi spekulatif tentang hidup Yesus di usia 12-30 tahun ada kisah yang menuebutkan Yesus di Himalaya. dalam buku The Unknown Life of Yesus Christ dikarang oleh Nicolas Notovich. Salah satu isu modern yang paling populer seputar “tahun-tahun Yesus yang hilang” (the Lost Years of Yesus) adalah keberadaan-Nya di India pada usia 12-30 tahun. Isu ini mulai mencuat pada tahun 1894 dengan publikasi buku La vie inconnue du Yesus Christ (diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi The Unknown Life of Yesus Christ, tahun 1907) yang dikarang oleh Nicolas Notovich. Dalam bukunya dijelaskan bahwa selama masa hilang itu Yesus tinggal di India dan kemudian di Tibet. Fakta ini diketahui dari naskah-naskah kuno yang dia temukan tahun 1882 di biara Himis, 25 mil dari Leh, ibu kota Ladakh di Tibet. Dikatakan bahwa di sana ia menemukan gulungan kitab yang berisi cerita mengenai kehidupan Issa (nama Yesus dalam bahasa Tibet). Menurut pemimpin Lama (pendeta Buddha Tibet) gulungan kitab tersebut berasal dari India dalam bahasa Sanskerta, lalu diterjemahkan kedalam bahasa Pali dan selanjutnya ke bahasa Tibet. Setelah itu beragam tokoh dengan berbagai motivasi yang berbeda mengadakan penelitian ke India dan Tibet untuk mencari bukti tambahan yang telah disebut dalam buku Notovich. Selanjutnya dalam buku “In Kashmir And Tibet”, karangan Svami Abhedananda membenarkan temuan Notovich ketika dia mengunjungi Tibet tahun 1922. Dia datang langsung ke Leh di Tibet dan mendapat penjelasan dari para Lama yang memperlihatkan naskah-naskah kuno dalam bahasa Tibet tentang keberadaan Yesus di India dan Tibet dimasa lalu. Dilanjutkan pula oleh Nicolas Roerich dalam bukunya “Heart Of Asia”, menjelaskan bahwa ada banyak cerita tentang Yesus yang dia dapatkan dari berbagai masyarakat selama melakukan perjalanan dari tahun 1924 sampai dengan tahun 1928 ke Asia Tengah (Sikkim, Punyab, Kashmir, Ladakh, Karakorum, Khotan, Kashgar, Kareshahr, Urumci, Irtysh, Altai, dsb). “Semua bercerita bahwa Yesus dahulu pernah kesana, dan bahwa ia memiliki kemampuan melakukan hal hal ajaib”, begitu Roerich menyimpulkan. Selanjutnya, dalam bukunya “Himalaya”, Nicolas Roerich mengutip isi naskah kuno Tibet berusia 1500 tahun yang menjelaskan bahwa pada usia 13 tahun Yesus secara diam-diam meninggalkan orang-tuanya dan pergi ke India bersama para pedagang guna menyempurnakan diri secara spiritual dan mempelajari hukum-hukum Buddha. Kemudian pada tahun 1939 guru musik Elizabeth G Caspari beserta suami Charles, dibimbing oleh rohaniwan Clarence Gasque, pergi ke pegunungan Kailash di Himalaya dan terus ke Tibet. Di Ladakh Caspari dan Gasque diperlihatkan tiga gulungan naskah kuno oleh petugas perpustakaan biara dan dua bikhu. Mereka berkata kepadanya, “Buku-buku ini menerangkan bahwa Yesus anda dahulu tinggal disini”, dan terus membacakan Injil Johanes. Caspari dan Gasque tertegun mendengarnya. Pada tahun 1951 Hakim Agung Amerika Serikat William O Douglas pergi ke Himis. Dalam bukunya, “Beyond The High Himalaya”, dia menulis, “Penduduk setempat masih percaya bahwa Yesus pernah tinggal di tempat mereka (Himis). Ia datang ketika berusia 14 tahun, kemudian pergi kearah barat pada usia 28 tahun dan sejak itu tidak ada lagi beritanya. Mereka berkata bahwa sewaktu tinggal di Himis, Yesus dikenal dengan nama Isa”. Tahun 1975 Robert S Ravics, Professor Anthropology at State California University pergi ke Leh, ibu kota Ladakh di Tibet. Pada kunjungan berikutnya, oleh seorang teman, dia diberitahu bahwa seorang Tabib setempat menyatakan bahwa di dalam biara dekat disana tersimpan naskah-naskah kuno yang menjelaskan bahwa Yesus pernah tinggal di Himis. Juga Ravics diberitahu oleh orang-orang terhormat setempat bahwa Yesus pernah tinggal di Tibet. Seorang petualang bernama Edward F Noack dari Sacramento Californis USA bersama istrinya Helen telah mengunjungi Asia Tengah (Tibet, Nepal, Sikkim, Bhutan, Ladakh, Afganistan, Balukistan dan Turkestan) sebanyak 18 kali. Dan mereka sudah 4 kali ke Leh, ibu kota Ladakh. Ketika berada di Himis tahun 1970-an, seorang Lama memberitahu mereka bahwa ada naskah-naskah kuno yang menceritakan perjalanan Yesus ke Ladakh tersimpan disatu ruangan dalam biara terdekat. Kesaksian orang-orang tersebut diatas berdasarkan naskah-naskah kuno dan cerita penduduk tentang kisah perjalanan Yesus di India dan Tibet, ditunjukkan oleh peta berikut. Ketika Isa (sebutan Yesus dalam naskah-naskah kuno) berumur 13 tahun banyak orang kaya dan bangsawan berkunjung ke rumahnya karena mereka ingin Isa jadi menantunya. Lalu Isa diam-diam meninggalkan orang tuanya (karena tidak mau menikah). Dan bersama para pedagang Isa lalu pergi ke India dengan tujuan menyempurnakan diri secara rohani sesuai perintah Tuhan dan mempelajari hukum-hukum Buddha. Ketika berusia 14 tahun, Isa tinggal di Sind, dan disana orang-orang Jaina minta agar ia tetap tinggal bersama mereka. (Tetapi Isa menolak) dan melanjutkan perjalanan ke Jaggernaut (Jagannatha-puri) di Orissa. Disana ia disamput hangat oleh para brahmana. Mereka mengajarkan Isa tata-cara mempelajari dan mengerti Veda, mengajarkan Veda dan menyembuhkan penyakit dengan doa (mantra) dan mengusir roh jahat yang mengganggu jasmani mereka yang kesurupan. Isa tinggal selama 6 tahun di Jaggernaut, Rajagriha, Benares dan kota-kota suci lainnya di India. Penduduk yang tergolong sudra dan vaisya amat senang kepadanya. Oleh karena tidak mematuhi petunjuk agar tidak bergaul dengan orang sudra dan vaisya dan mengajarkan Veda kepada mereka, para brahmana dan ksatriya lalu memusuhinya. Disamping itu, Isa menolak banyak ayat Veda yang menjelaskan tentang Tuhan, makhluk hidup dan alam material. Dan ia sangat menentang pemujaan arca-vigraha Tuhan (yang dianggap berhala). Oleh karena kini para brahmana telah menganggap Isa merusak ajaran Veda, lalu mereka berencana membunuhnya. Seorang sudra memberitahu Isa tentang rencana mereka, dan Isa meninggalkan Jaggernaut di malam hari. Kemudian Isa tiba di Gautamida (Kapilavastu), tempat kelahiran Buddha. Orang-orang dengan ramah menyambut kedatangannya disana. Di Gautamida Isa belajar bahasa Pali dan ajaran Buddha. Enam tahun kemudian Isa secara resmi diangggap guru kerohanian. Kemudian ia meninggalkan daerah Nepal dan Himalaya, terus pergi ke Rajputana, lalu ke-arah barat dan menyebarkan ajarannya kepada penduduk yang ditemuinya. Isa sampai di Persia dan penduduk setempat dengan ramah menyambutnya. Tetapi para pemuka agama setempat men-curigainya, sebab ia mengajarkan amanat rohani yang tidak cocok dengan ajaran Zoroaster. Mereka kemudian membawa Isa keluar tembok kota dan meninggalkannya sendirian di tempat sunyi agar dimangsa binatang buas. Tetapi Isa selamat melanjutkan perjalanannya ke arah barat dan akhirnya tiba di Palestina/Israel pada usia 29 tahun. Gelar “Kristus” yang ditambahkan dibelakang nama Yesus diperoleh setelah ia datang ke India. Kata ini berasal dari kata “Krishna” yang diucapkan oleh orang-orang Benggali menjadi “Kristo”, lalu berubah menjadi “Kristus”. Sedangkan menurut umat Kristen "Kristus" adalah gelar yang berasal dari bahasa Yunani (Christos), yang berasal dari bahasa Ibrani ("Mesias", berarti "yang diurapi" atau "yang terpilih") Dari berbagai versi cerita masa muda Isa tersebut diatas tentu tidaklah dapat dijadikan sebuah kepastian sejarah karena tentu sejarah adalah sebuah cerita yang dibuat oleh masing-masing penulisnya dengan berbagai latar belakang kondisi penulis tersebut. Tetapi bukti-bukti sejarah akan terus bertambah dan kebenaran akan terus terbuka seiring dengan berjalannya waktu.