Pada abad sebelum masehi wilayah di Afganistan, Pakistan, India, Nepal, Burma dan Tibet adalah kesatuan kebudayaan yang disebut Kebudayaan Hindustan. Di berbagai daerah yang disinggahi Nabi Isa as, beliau menyampaikan kisah-kisah hikmah dalam bahasa yang dimengerti oleh penduduk setempat. Dari cerita-cerita yang disampaikan Isa as, menimbulkan pengaruh besar bagi kehidupan beragama dan bersusila dalam masyarakat hindustan pada waktu itu. Sehingga munculah gagasan bagi para pemimpin agama hindu mengumpulkan cerita-serita tersebut, diterjemahkan ke bahasa Sanskerta dan dibukukan menjadi satu kitab dijadikan kitab suci pegangan bagi umat Hindu dan disebut kitab Mahabharata dan Bhagawatgita pada abad 4 setelah semua terkumpul menjadi Kitab. Umat Hindu meyakini kitab Mahabharata ditulis oleh seorang begawan yang bernama Abiyasa, atau Vyasa. Nama tersebut tidaklah jauh berbeda dengan nama penulis kitab Hikmah yaitu Isa. Selama ini banyak dijumpai nama seseorang yang lahir di satu daerah ketika berpindah ke tempat lain yang berbeda kebudayaan dan bahasa nama tersebut akan berubah dengan ejakan dan logat berbeda tetapi huruf penentu yang disebut huruf konsonan tetap sama, seperti kata bahasa Yunani “iêSous” dalam bahasa Aram “yêSyûa” dalam bahasa Arab “’iSa” maka dalam bahasa Sansekerta “byaSa”. Awal mula Hindu dapat ditelusuri kembali pada sekitar 1800SM terdapat peradaban Lembah Sungai Indus. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta untuk sungai Indus, Siddhu sebuah kata yang diucapkan oleh bangsa Persia Kuno sebagai “Hindu”. Tidak lama sebelumnya kata itu digunakan untuk menyebut semua bangsa India pada umumnya, tetapi sekarang kata itu hanya digunakan untuk menyebut pengikut agama Hindu. Jadi Pembentukan Hindu sebagai kebudayaan lebih awal berdiri dari pada Hindu sebagai kepercayaan atau agama. Setelah 300 tahun secara relatif hidup dalam damai, sekitar tahun 1500 SM, Bangsa Nomaden Arya dari daerah barat laut yaitu daerah Persia mengalahkan bangsa Indus dan menguasai India pada millenium berikutnya. Keyakinan mereka berbaur dengan orang-orang dari penduduk lokal, mereka memulai gerakan spiritual yang menghasilkan beberapa nilai-nilai agama secara kolektif kemudian disebut sebagai agama Hindu. Sebuah agama yang berakar pada mitologi, Hindu bersifat pluralistik, sebagian besar Hindu mengakui otoritas kitab suci kuno, dan pembagian masyarakat menjadi empat kasta utama yaitu para imam (Brahmana), prajurit, pengrajin dan petani. Di luar kategori ini adalah "kasta paling rendah", yang sering dipaksa untuk melakukan pekerjaan kasar. Mulai dari kedatangan bangsa Arya di abad 15 sebelum Masehi kebudayaan Hindu mengalami banyak perkembangan. Pada zaman Weda, Dewa-Dewi dalam kepercayaan Hindu masih dalam konsep, pemujaan dan mitologi mengenai Dewa-Dewa merupakan pengetahuan akan ilmu ketuhanan. Setelah zaman Weda, disusul oleh kebudayaan zaman Brahmana. Pada zaman ini, ilmu Weda dikembangkan dengan pengetahuan akan upacara keagamaan. Zaman ini ditandai dengan cenderungnya pelaksanaan upacara dari pengajaran filsafat. Pada zaman ini mulai disusun kitab-kitab yang menceritakan tentang mitologi, legenda, kosmologi, dan sebagainya. Pada zaman Weda umat Hindu memohon anugerah dari para Dewa, sedangkan pada zaman Brahmana para Dewa memiliki kedudukan yang penting terutama dalam sistem upacara.Kemudian disusul dengan Zaman Purana yang merupakan perkembangan dari kebudayaan sebelumnya. Zaman ini merupakan masa-masa ketika mitologi Hindu dihimpun. Pada zaman tersebut, Dewa-Dewi tersebut memiliki karakter khusus dan dilukiskan secara detail. Pada zaman ini pula, terjadi kisah epos Ramayana dan Mahabharata, yang dipercaya sebagai kejadian bersejarah. Setelah kitab Mahabharata selesai dikumpulkan dan ditulis dalam bahasa Sanskerta pada tahun ± 400 Masehi, yang berisi cerita kepahlawanan (wiracarita), juga dianggap mengandung nilai-nilai Hindu, mitologi dan berbagai petunjuk lainnya. Oleh sebab itu kisah Mahabharata ini dianggap suci, dan teristimewa oleh pemeluk agama Hindu. Mitologi Hindu mudah beradaptasi dengan budaya lokal tanpa melupakan format aslinya (Weda, Purana, Itihasa). Dan pada masa selanjutnya agama Hindu menyebar ke wilayah Asia Tenggara, seperti: Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Nusantara (terutama Semenanjung Malaka, Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali dan lain-lain), beberapa bagian dari mitologi Hindu yang asli dari India telah bercampur dengan budaya lokal dan diadaptasi agar lebih mudah dicerna. Mitologi Hindu tersebut diadaptasikan sesuai dengan kepercayaan lokal (seperti ajaran kapitayan di Jawa sebelum kedatangan hindu), dengan menambahkan atau mengurangi format aslinya. Masuknya agama Hindu di Nusantara terjadi pada awal tahun Masehi, ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi dengan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: "Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman". Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan "Vaprakeswara". Data peninggalan sejarah disebutkan Resi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali, yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia, melalui sungai Gangga, Yamuna, India Selatan dan India Belakang. Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu, maka namanya disucikan dalam Prasasti Dinoyo di Jawa Timur berbunyi “Prasasti ini bertahun Caka 628, dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat pura suci untuk Resi Agastya, dengan maksud memohon kekuatan suci dari Beliau.” Dan Prasasti Porong di Jawa Tengah, Prasasti yang bertahun Caka 785, juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi Agastya. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya, maka banyak istilah yang diberikan kepada beliau, diantaranya adalah: Agastya Yatra, artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Pita Segara, artinya bapak dari lautan, karena mengarungi lautan-lautan luas demi untuk Dharma. Dari prasasti-prasasti di Jawa Barat didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa "Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki dewa Wisnu. Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Tarumanegara. Berdasarkan data tersebut, maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah, yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti, yaitu Trisula, Kendi, Cakra, Kapak dan Bunga Teratai Mekar, diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi. Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal, yang berbahasa sansekerta dan memakai huruf Pallawa. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi), dengan Candra Sengkala berbunyi: "Sruti indriya rasa", Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Syiwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti. Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi, merupakan bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Disamping itu, agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur, yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dewa Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda, para Brahmana besar, para pendeta dan penduduk negeri. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur. Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottungga dewa, yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia. Setelah dinasti Isyana Wangsa, di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222), sebagai pengemban agama Hindu. Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu, misalnya Kitab Smaradahana, Kitab Bharatayudha, Kitab Lubdhaka, Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). Pada zaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal, candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada zaman kerajaan Singosari. Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Majapahit, sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran, yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya buku Negarakertagama. Perkembangan selanjutnya sejak ekspedisi Gajahmada ke Bali (tahun 1343) agama Hindu mulai berkembang di Bali walaupun kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8 yang Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti, juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu, Gianyar. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Tengah, yang berasal dari abad ke-8. Kehidupan agama Hindu mencapai zaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra, agama, arsitektur. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci, seperti Pura Rambut Siwi, Peti Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung). Masuknya agama Hindu ke Nusantara menimbulkan pembaharuan yang besar, selama abad ke-5 hingga abad ke-15 Masehi pengaruh Hindu dari india menguat di berbagai aspek kehidupan masyarakat Nusantara. melalui naskah-naskah keagamaan India kuno terbangun berbagai pandangan, ide, gagasan, konsep, norma, nilai-nilai India yang berasimilasi dan beradaptasi dengan budaya Nusantara membangun tatanan sosial, nilai-nilai budaya, teknik arsitektur, tata negara, aturan hukum, sistem ekonomi dan politik sampai ajaran agama. Adaptasi budaya di Nusantara pada beberapa bagian dari kesusastraan Hindu seperti Ramayana dan Mahabharata dapat ditoleransi selama tidak mencemarkan atau melupakan versi aslinya. Sebagian dari mitologi Hindu yang datang ke Indonesia telah beradaptasi dengan budaya lokal. Kisah yang semula ditulis dalam bahasa Sanskerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa, terutama mengikuti perkembangan peradaban Hindu pada masa lampau. Salinan berbagai bagian dari Mahabharata, seperti Adiparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa dan mungkin juga beberapa parwa yang lain, diketahui telah digubah dalam bentuk prosa bahasa Kawi (Jawa Kuno) semenjak akhir abad ke-10 Masehi. Yakni pada masa pemerintahan raja Dharmawangsa Teguh (991-1016 M) dari Kadiri. Karena sifatnya itu, bentuk prosa ini dikenal juga sebagai sastra parwa. Yang terlebih populer dalam masa-masa kemudian adalah penggubahan cerita itu dalam bentuk kakawin, yakni puisi kuno dengan metrum India berbahasa Jawa Kuno. Salah satu yang terkenal ialah kakawin Arjunawiwaha (Arjunawiwāha, perkawinan Arjuna) gubahan mpu Kanwa. Karya yang diduga ditulis antara 1028-1035 M ini (Zoetmulder, 1984) dipersembahkan untuk raja Airlangga dari kerajaan Medang Kamulan, menantu raja Dharmawangsa. Karya sastra lain yang juga terkenal adalah Kakawin Bharatayuddha, yang digubah oleh mpu Sedah dan belakangan diselesaikan oleh mpu Panuluh (Panaluh). Kakawin ini dipersembahkan bagi Prabu Jayabhaya (1135-1157 M), ditulis pada sekitar akhir masa pemerintahan raja Daha (Kediri) tersebut. Di luar itu, mpu Panuluh juga menulis kakawin Hariwangśa pada masa Jayabaya, dan diperkirakan pula menggubah Gaţotkacāśraya pada masa raja Kertajaya (1194-1222 M) dari Kediri. Beberapa kakawin lain turunan Mahabharata yang juga penting untuk disebut, di antaranya adalah Kŗşņāyana (karya mpu Triguna) dan Bhomāntaka (pengarang tak dikenal) keduanya dari zaman kerajaan Kediri, dan Pārthayajña (mpu Tanakung) di akhir zaman Majapahit. Salinan naskah-naskah kuno yang tertulis dalam lembar-lembar daun lontar tersebut juga diketahui tersimpan di Bali. Di Jawa dan Bali, mahakarya sastra tersebut juga berkembang dan memberikan inspirasi bagi berbagai bentuk budaya dan seni pengungkapan, mulai dari seni patung dan seni ukir (relief) pada candi-candi, seni tari, seni lukis hingga seni pertunjukan seperti wayang kulit dan wayang orang. Pertunjukan seni wayang inilah yang banyak berperan dalam menjaga agar cerita yang ada dalam kitab Mahabharata ini dapat dipertahankan keadaannya. Selama berabad-abad wayang digunakan sebagai cara penuturan filsafat Jawa karena mengandung banyak hikmah yang dapat dipetik dari kisah-kisah tersebut, cerita itu mengiaskan perilaku watak manusia dalam mencapai tujuan hidup, baik lahir maupun batin karena banyak pengalaman dan penghayatan dan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.