PENGARUH ISLAMISASI JAWA

Nusantara selama masa pra-sejarah sampai awal abad Masehi sudah mengalami proses Hindunisasi dan agama Hindu telah mendominasi Nusantara setelah abad ke-4 dengan banyaknya bermunculan kerajaan hindu. Agama Islam sudah masuk ke-indonesia sejak pertengahan abad ke-7 Masehi, yang pada masa itu banyak saudagar Arab yang sudah membangun jalur perhubungan dagang dengan Nusantara jauh sebelum Islam lahir. Kehadiran saudagar arab di kerajaan Kalingga pada Abad ke-7 pada era kekuasaan Rani Simha diberitakan cukup panjang oleh sumber-sumber Cina dari Dinasti Tang. Kemudian menyusul migrasi keluarga-keluarga asal Persia ke Nusantara pada abad 9 dan 10 Masehi. Secara umum dapat dikatakan bahwa proses masuknya Islam di Nusantara yang ditandai awal hadirnya pedagang-pedagang Arab dan Persia pada abad ke-7 Masehi, terbukti mengalami kendala sampai masuk pada pertengahan abad ke-15. Ada rentang waktu sekitar delapan abad sejak kedatangan awal Islam, agama Islam belum dianut secara luas oleh penduduk pribumi Nusantara. Baru pada pertengahan abad ke-15, yaitu era dakwah Islam yang dipelopori para Wali dengan sebutan Wali Songo, para tokoh yang dikisahkan memiliki berbagai karomah, Islam dengan cepat diserap ke dalam asimilasi dan sinkretisme Nusantara. Sekalipun data sejarah pada era ini kebanyakan berasal dari sumber-sumber histografi dan cerita tutur, yang pasti peta dakwah Islam saat itu sudah bisa terdeteksi melalui jaringan kekeluargaan tokoh-tokoh keramat beragama Islam, yang menggantikan kedudukan tokoh-tokoh penting bukan muslim yang berpengaruh pada masa majapahit Dengan masuknya pengaruh Islam di Nusantara terutama di Jawa yang merupakan pusat peradaban dan kebudayaan. Hal ini sangat berpengaruh dengan perubahan nilai-nilai kebudayaan Jawa itu sendiri karena selama sepanjang sejarah Jawa semua hasil pemikiran, pengalaman dan penghayatan filsafat Jawa merupakan pola tetap dan lebih tepatnya disebut sebagai mozaik yang mempunyai pola tetap namun unsur-unsur atau batu-batunya akan berubah dengan masuknya budaya baru. Perubahan inilah yang biasanya disebut sinkretisme, yaitu dalam pengolahan unsur-unsur budaya asing dan budaya sendiri tanpa meninggalkan budaya asli. Perubahan yang terjadi dalam pergantian pengaruh hindu ke Islam di Nusantara juga mempengaruhi gaya penuturan dari Epos Mahabarata, yang sejak akhir abad ke 9 sudah masuk ke tanah Jawa, pada zaman Mpu Sindok, ayah Airlangga. Pada awalnya ketika zaman hindu disampaikan dengan lembaran-lembaran (satu lembar lukisan menggambarkan satu cerita) yang disebut “beber”. Dan pada zaman Islam masuk Nusantara dan sampai saat ini masyarakat Nusantara mengenalnya sebagai “wayang purwa”, yang kemudian oleh Sunan Kalijaga pada abad ke 15 diubah dari lembaran menjadi individu-individu/person, dibuat kulit binatang (kambing atau sapi) dalam bentuk tidak seperti manusia, tetapi jelas menggambarkan manusia. Dalam bahasa Kromo (Jawa halus) wayang purwa dinamakan Ringgit Purwa, Ringgit, ungkapan dari Miring Anggenipun Nganggit, artinya gambaran manusia dari samping. Dalam pagelaran digunakan lighting Blencong (nyala api minyak kelapa yang digantung di atas dalang) dan diproyeksikan pada Kelir (layar). Ketika wayang digerakan menjauh atau mendekat dari Kelir akan timbul ukuran/size dan fisik/motion yang berubah ditambah special effect dari nyala api Blencong yang bergerak oleh tiupan angin. Dulunya penonton menyaksikan pagelaran wayang kulit dari balik layar dan yang tampil bayangan hitam-putih. Kini dari depan, dibelakang dalang dan musisi, sehingga di layar muncul wayang berwarna-warni sesuai karakter dan alur cerita. Dr. Th.G.Th. Pigeaud dalam javaavscehe Volksvertoningen (1938) mengemukakan bahwa wayang kulit purwa yang dikenal sebagaimana sekarang ini adalah produk yang dihasilkan oleh wali-wali penyebar Islam di tanah Jawa. Epos ini berasal dari India, namun diadaptasi dengan budaya dan latar tanah Jawa, sehingga kita kini mengenal wayang sebagai budaya "asli" tanah Jawa, sehingga ”wayang” merupakan identitas utama manusia Jawa. Ketika pada zaman para wali di tanah Jawa, mereka bukan mematikan epos ini yang pada bentuk luar sebenarnya adalah kitab yang digunakan agama hindu dalam meneladani dan menjalankan tata laku susila yang hidup di masyarakat. Tetapi para wali senantiasa melestarikan dan bahkan mempercantik agar dijaga dan dilestarikan manusia sehingga isi pesan dapat tersampaikan kepada suatu bangsa di zaman yang dikehendaki penulis. Proses masuknya Islam di tanah Jawa pada mulai abad 7, akhir abad 9 awal, abad 10 Masehi dan mencapai keberhasilan besar di awal abad 15 dengan ditandai berdirinya kerajaan Demak Bintoro tidaklah terlepas dari peran Sunan Kalijaga yang menciptakan wayang sehingga menjadi ikon, identitas dan jatidiri orang Jawa. Sunan Kalijaga berdakwah mengIslamkan Orang Jawa dengan media wayang yang sesungguhnya adalah manifestasi dari kitab Mahabharata. Sehingga terlihat aneh jika dibilang kitab suci agama hindu untuk meng-Islam-kan umat hindu, dan inilah fakta yang terjadi di Jawa 5 abad silam. Mengapa hal ini bisa terjadi, Ada apa dengan Wayang Purwa gubahan Sunan Kalijogo? Isi kitab Mahabharata secara umum sudah dikenal secara luas oleh penduduk khususnya di Tanah Jawa dan terekam secara kuat dalam alam pikir orang Jawa, sehingga seolah-olah wayang adalah pribadi orang Jawa sendiri, hal ini terpelihara dengan baik dan dengan dibawakannya epos ini oleh para dalang yang sangat berbakat, baik dalam penguasaan alur cerita yang lebih orisinil (pakem), mahir dalam membawakannya dalam gerakan dipentas pakeliran, juga master dalam menyampaikan pesan-pesan falsafah hidup dalam bentuk lisan yang lentur, dinamis dan heroik. Pernah suatu ketika saat kami menonton wayang purwa semalam suntuk, bersama seluruh penonton, begitu menghayati adegan demi adegan, sehingga kami semua merasa bahwa “tokoh pahlawan” yang dilakonkan sang dalang adalah diri meraka sendiri, sehingga ketika “sang tokoh” yang terkena ujian dalam hidup, kita sebagai penonton ikut terhanyut dalam kesedihan yang mendalam “sayalah yang sedang terkena ujian” dan ketika “sang pahlawan” sedang menghajar musuh, seolah-olah “sayalah yang menghajarnya” dan penonton bersatu bersorak riang “sayalah sang pahlawan”. Dengan tingginya falsafah hidup dalam epos Mahabharata, apa yang didengar dan dihayati dijadikan sebagai bimbingan hidup dalam bermasyarakat dan juga sebagai pencerahan spiritual sebagaiman lakon-lakon yang dibawakan oleh Sunan Kalijogo, sehingga apa yang disampaikan Sang Dalang adalah juga merupakan isinya. Selama beberapa abad ini, wayang digunakan sebagai cara penuturan pemikiran Jawa, karena banyak pengalaman dan penghayatan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kenyataan ini dimaklami pula oleh para ahli mistik di berbagai bangsa dan sepanjang masa, maka dipergunakan bahasa kias (symbolism). Oleh Sunan Kalijaga, tokoh-tokoh wayang dilukis dan digambarkan bukan dalam bentuk manusia, karena para Wali melarang “gambaran” manusia secara utuh, maka epos ini digambarkan dalam bentuk “bukan manusia” tetapi sangat jelas sekali mencerminkan manusia dengan semua aspek karakter yang kompleks yang mengandung ajaran kehidupan yang relatif memenuhi semua yang dibutuhkan sebagai pedoman hidup. Karena penggambaran tokoh wayang dibuat semacam itu dan epos ini di gambarkan dalam wujud fisik yang kini dikenal dengan wayang purwa, maka lambat laun (dari abad ke-15 hingga kini) epos ini isinya tetap, yaitu alur ceritanya sebagai tingkah laku manusia sehari-hari yang riil dalam kehidupan, tetapi sekarang permasalahannya adalah tokoh-tokohnya semakin menjauh dari kehidupan nyata. Hal inilah yang menyebabkan langkanya dalang, sastrawan, ilmuwan, atau pemikir yang konsen pada epos ini untuk menelusuri jejak kaki tokoh-tokoh wayang dan membuktikan jejaknya, apakah wayang itu benar-benar ada sebagai sejarah hidup manusia dalam realitas sebagai manusia keturunan Bani Adam. Setelah periode Sunan Kalijaga, belum ada yang membuktikan dan meyakinkan atas keberadaan wayang sebagai manusia nyata keturunan Adam, maka boleh penulis anggap untuk sementara di masa ini, wayang ada sebagai karangan fiksi dan sastra yang adiluhung dari manusia yang sangat cerdas pada zaman nya, yang kita kenal dengan nama Wiyasa-Byasa-Wjasa-Vyasa-Abiyasa, seperti yang tertulis dalam kitab itu”. Sunan kalijaga memanfaatkan wayang untuk berdakwah agama Islam dengan memasukkan unsur Islam di dalam wayang. Misalnya di dunia ini ada kebaikan dan kejahatan, yang baik dilambangkan pendawa lima, yaitu kebaikan pada agama Islam itu dibangun dari lima pilar atau rukun agama. Dari pandawa lima yang tertua adalah Yudistira atau Puntadewa, ia diberi pusaka yang namanya Kalimosodo, kata ini jika diejak dalam bahasa Arab berbunyi Kalimat Syahadat yang merupakan rukun pertama dalam agama Islam. Dalam Mahabharata Gubahan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh (1157 M) yaitu ikhtisar Bharatayuda (43.1 - 45.12) disebutkan Yudhisthira membunuh Salya dengan Kalimahosadha, kitab ajaibnya yang berubah menjadi sebilah pedang yang menyala-nyala. Dari ketiga kata ini Kalimahosadha (Bahasa Jawa Kuno/Sansekerta), Kalimosodo (Bahasa Jawa Abad 15) dan Kalimat Syahadat (Bahasa Arab) ada keterkaitan sebagaimana kata Yesus, Isa dan Byasa yang berakar kata dalam bahasa yang paling tua. Selain ketiga kata tersebut, ternyata banyak sekali bahasa Jawa atau Indonesia yang akar katanya diambil dari bahasa sanskerta sepeti bumi, maha, panji, ruwat,dll. Hal ini menyimpulkan bahwa 20 abad yang lalu Nabi Isa pun sudah menggunakan Kalimat Syahadat “Lailaha Illa Allah, Muhammad Rasul Allah” sebagai suatu senjata yang paling ampuh dalam memenagkan segala pertempuran. Menurut keterangan Prof. Dr. A.Husain Jayadiningrat dalam bukunya “Critische beschouwingen van de Sejarah Banten”, ia mengungkapkan bahwa setelah Sunan Kalijaga selesai belajar dari sunan Bonang, kemudian ia menetap di desa dekat Cirebon. Apabila sedang men-dalang di daerah Padjajaran, ia bernama Ki Dalang Sido Brangti, bila mendalang di daerah tegal dikenal dalang barongan dengan nama Ki Dalang Bengkok, di purbalingga dikenal dalang topeng dengan nama Ki Dalang Kumendung, sedangkan di Majapahit dikenal dengan Ki Unehan. Kegiatan dakwah dengan memanfaatkan pertunjukan tari topeng, barongan dan wayang yang dilakukan Sunan Kalijaga dengan cara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain itu juga dicatat dalam Babad Cerbon dalam langgam Kinanthi. Dari catatan ini diketahui bahwa selama menjadi dalang berkelliling ke berbagai tempat, Sunan Kalijaga kadang menjadi dalang pantun dan dalang wayang karena pada saat itu belum dibentuk suatu pakem tertentu seperti saat ini. Sunan Kalijaga berkeliling dari wilayah pajajaran hingga wilayah Majapahit. Masyarakat yang ingin nanggap (mempertontonkan) wayang bayarannya tidak berupa uang, melainkan cukup membaca dua kalimat syahadat, sehingga dengan cara ini islam berkembang cepat. Dari berbagai pengalaman Sunan Kalijaga berdakwah menggunakan cara seperti ini, menjadikan Sunan Kalijaga banyak mendapatkan pengikut dan terkenal dari beberapa penyebar agama islam yang lain di Nusantara dengan ke-ciri khasan metode dakwah beliau. Maka kemudian pada tahun 1463 Sunan Kalijaga diangkat sebagai anggota dewan penyebar islam yang disebut Wali Songo. Wali Songo dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Wali Songo adalah Dewan atau Majlis Dakwah yang didirikan Sunan Gresik. melalui Majlis ini anggotanya selalu berjumlah 9 orang, jika salah seorang meninggal atau kembali ke negeri asalnya maka keanggotaannya digantikan oleh Wali yang lain, sehingga anggotanya tetap Sembilan. Pada zaman Wali Songo inilah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Wali Songo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain. Menurut buku Haul Sunan Ampel Ke-555 yang ditulis oleh KH. Mohammad Dahlan, 1979. Majelis Dakwah yang secara umum dinamakan Walisongo, sebenarnya terdiri dari beberapa angkatan. Para Walisongo tidak hidup pada saat yang persis bersamaan, namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, baik dalam ikatan darah atau karena pernikahan, maupun dalam hubungan guru-murid. Bila ada seorang anggota majelis yang wafat, maka posisinya digantikan oleh tokoh lainnya: Angkatan ke-1 (1404 – 1435 M), terdiri dari Maulana Malik Ibrahim (wafat 1419), Maulana Ishaq, Maulana Ahmad Jumadil Kubro, Maulana Muhammad Al-Maghrabi, Maulana Malik Isra'il (wafat 1435), Maulana Muhammad Ali Akbar (wafat 1435), Maulana Hasanuddin, Maulana 'Aliyuddin, dan Syekh Subakir atau juga disebut Syaikh Muhammad Al-Baqir. Angkatan ke-2 (1435 - 1463 M), terdiri dari Sunan Ampel yang tahun 1419 menggantikan Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq (wafat 1463), Maulana Ahmad Jumadil Kubro, Maulana Muhammad Al-Maghrabi, Sunan Kudus yang tahun 1435 menggantikan Maulana Malik Isra’il, Sunan Gunung Jati yang tahun 1435 menggantikan Maulana Muhammad Ali Akbar, Maulana Hasanuddin (wafat 1462), Maulana 'Aliyuddin (wafat 1462), dan Syekh Subakir (wafat 1463). Angkatan ke-3 (1463 - 1466 M), terdiri dari Sunan Ampel, Sunan Giri yang tahun 1463 menggantikan Maulana Ishaq, Maulana Ahmad Jumadil Kubro (wafat 1465), Maulana Muhammad Al-Maghrabi (wafat 1465), Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang yang tahun 1462 menggantikan Maulana Hasanuddin, Sunan Derajat yang tahun 1462 menggantikan Maulana ‘Aliyyuddin, dan Sunan Kalijaga yang tahun 1463 menggantikan Syaikh Subakir. Angkatan ke-4 (1466 - 1513 M, terdiri dari Sunan Ampel (wafat 1481), Sunan Giri (wafat 1505), Raden Fattah yang pada tahun 1465 mengganti Maulana Ahmad Jumadil Kubra, Fathullah Khan (Falatehan) yang pada tahun 1465 mengganti Maulana Muhammad Al-Maghrabi, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, Sunan Derajat, dan Sunan Kalijaga (wafat 1513). Angkatan ke-5 (1513 - 1533 M), terdiri dari Syekh Siti Jenar yang tahun 1481 menggantikan Sunan Ampel (wafat 1517), Raden Faqih Sunan Ampel II yang ahun 1505 menggantikan kakak iparnya Sunan Giri, Raden Fattah (wafat 1518), Fathullah Khan (Falatehan), Sunan Kudus (wafat 1550), Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang (wafat 1525), Sunan Derajat (wafat 1533), dan Sunan Muria yang tahun 1513 menggantikan ayahnya Sunan Kalijaga. Angkatan ke-6 (1533 - 1546 M), terdiri dari Syekh Abdul Qahhar (Sunan Sedayu) yang ahun 1517 menggantikan ayahnya Syekh Siti Jenar, Raden Zainal Abidin Sunan Demak yang tahun 1540 menggantikan kakaknya Raden Faqih Sunan Ampel II, Sultan Trenggana yang tahun 1518 menggantikan ayahnya yaitu Raden Fattah, Fathullah Khan (wafat 1573), Sayyid Amir Hasan yang tahun 1550 menggantikan ayahnya Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati (wafat 1569), Raden Husamuddin Sunan Lamongan yang tahun 1525 menggantikan kakaknya Sunan Bonang, Sunan Pakuan yang tahun 1533 menggantikan ayahnya Sunan Derajat, dan Sunan Muria (wafat 1551). Angkatan ke-7 (1546- 1591 M), terdiri dari Syaikh Abdul Qahhar (wafat 1599), Sunan Prapen yang tahun 1570 menggantikan Raden Zainal Abidin Sunan Demak, Sunan Prawoto yang tahun 1546 menggantikan ayahnya Sultan Trenggana, Maulana Yusuf cucu Sunan Gunung Jati yang pada tahun 1573 menggantikan pamannya Fathullah Khan, Sayyid Amir Hasan, Maulana Hasanuddin yang pada tahun 1569 menggantikan ayahnya Sunan Gunung Jati, Sunan Mojoagung yang tahun 1570 menggantikan Sunan Lamongan, Sunan Cendana yang tahun 1570 menggantikan kakeknya Sunan Pakuan, dan Sayyid Shaleh (Panembahan Pekaos) anak Sayyid Amir Hasan yang tahun 1551 menggantikan kakek dari pihak ibunya yaitu Sunan Muria. Angkatan ke-8 (1592- 1650 M), terdiri dari Syaikh Abdul Qadir (Sunan Magelang) yang menggantikan Sunan Sedayu (wafat 1599), Baba Daud Ar-Rumi Al-Jawi yang tahun 1650 menggantikan gurunya Sunan Prapen, Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) yang tahun 1549 menggantikan Sultan Prawoto, Maulana Yusuf, Sayyid Amir Hasan, Maulana Hasanuddin, Syekh Syamsuddin Abdullah Al-Sumatrani yang tahun 1650 menggantikan Sunan Mojoagung, Syekh Abdul Ghafur bin Abbas Al-Manduri yang tahun 1650 menggantikan Sunan Cendana, dan Sayyid Shaleh (Panembahan Pekaos). Sebelum kehancuran Majapahit, wilayah Demak merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit yang dikenal dengan nama Bintoro atau Gelagahwangi. Kadipaten Demak tersebut dikuasai oleh Raden Patah salah seorang keturunan Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) yaitu raja Majapahit. Dengan berkembangnya Islam di Demak, maka Demak dapat berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran Islam di pulau Jawa. Hal ini dijadikan kesempatan bagi Demak untuk melepaskan diri terhadap Majapahit. Kemudian tahun 1477, Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan Raden Patah sebagai raja pertama. Sebagai seorang raja islam tentulah Raden Patah mengatur berbagai segi tatanan kehidupan dalam masyarakatnya dengan berbasiskan Islam. Termasuk pula dalam pengembangan seni budaya terutama seni pewayangan yang merupakan puncak kesenian pada waktu itu dikembangkan secara besar-besaran. Menurut R.Poedjosoebroto, 1978. Raden Patah sangat gemar pada kesenian wayang , yang juga sangat digemari oleh rakyatnya. Namun, sebagai penguasa kemudian ia merefleksikan kemampuan membaca fenomena sosial sebagai kebijakan dalam membangun masyarakatnya dengan mempertimbangkan dengan matang bersama para Wali Songo untuk mengembangkan kesenian wayang agar sesuai dengan ajaran Islam. Maka ditetapkan kebijakan sebagai berikut:  Seni wayang perlu dan dapat diteruskan, asal diadakan perubahan-perubahan yang sesuai dengan zaman yang sedang berlaku.  Kesenian wayang dapat dijadikan alat media dakwah islam yang baik.  Bentuk wayang diubah, bagaimana dan dibuat dari apa terserah, asal tidak lagi berwujud seperti arca-arca yang mirip manusia.  Cerita-cerita dewa harus diubah dan diisi paham yang mengandung jiwa islam untuk membuang kemusyrikan  Cerita wayang harus diisi dakwah agama yang mengandung keimanan, ibadah, akhlaq, kesusilaan dan sopan-santun.  Cerita-cerita wayang terpisah menurut karangan Walmiki dan Abiyasa harus diubah lagi menjadi dua cerita yang bersambung dan mengandung jiwa islam.  Menerima tokoh-tokoh cerita wayang dan kejadian-kejadian hanya sebagai lambang yang perlu diberi tafsiran tertentu yang sesuai perkembangan sejarah, dimana tafsiran-tafsiran harus sesuai dengan ajaran islam.  Pagelaran seni wayang harus mengikuti aturan susila dan jauh dari maksiat.  Memberikan makna yang sesuai dengan dakwah islam pada seluruh unsur seni wayang, termasuk gamelan, tembang-tembang, tokoh-tokoh dan lakon lakon. Dengan sembilan ketetapan tersebut maka dilakukan perubahan-perubahan dalam rangka penyesuaian seni pertunjukan wayang dengan ajaran islam. Pertunjukan wayang yang sampai pada masa Majapahit digambar/dilukis di atas kain dengan diberi warna yang dikenal dengan nama Wayang Beber Purwa atau Karebet dan diiringi gamelan selendro, maka pada masa demak digambar pipih dua dimensi dengan gaya dekoratif menjauhi kesan bentuk manusia sebagaimana tampak pada relief-relief candi. Dengan banyaknya pengalaman mendalang, sunan kalijaga melakukan inovasi terhadap bahan wayang yang semula dari kain menjadi selembar kulit kerbau dengan warna hitam dan putih, wujud wayang berubah dari gambar utuh menjadi gambar satuan person dengan tangan yang bisa digerakkan. Gambar wayang yang semula lukisan mirip manusia diubah menjadi gambar beraneka ragam warna yang disimbolkan sesuai dengan karakter masing-masing tokoh wayang. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengembangkan wayang tidak sekedar mengembangkan bentuk-bentuk gambar beserta kelengkapan sarana pertunjukannya, melainkan tak kalah penting adalah adanya usaha penyusunan pakem cerita pewayangan dan falsafah dari segala bentuk pertunjukan wayang, yang sudah barang tentu akan membantu dalam proses dakwah islam. Dalam proses pengembangan wayang selain Sunan Kalijaga, tokoh Wali Songo yang lain seperti Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kudus ikut menyempurnakan perlengkapan wayang dengan menggunakan kelir, debog, blencong, kotak, kepyak, gamelan serta tembang-tembang yang falsafahnya akan kami bahas lebih rinci dalam Bab 4 Karya yang melegenda. Menurut Zarkasi (1977), salah satu sumbangan penting raden patah dalam usaha pengembangan wayang sebagai alat dakwah adalah menciptakan kayon (gunungan) yang ditancapkan di tengah panggung kelir dan menciptakan simpingan. Dari jaringan gerakan dakwah islam yang kemudian menjadi suatu lembaga yang disebut Wali Songo itu, muncul kekuatan politik kekuasaan dalam bentuk kerajaan Demak, Cirebon, Banten, menyusul Banjarmasin, Pontianak, Gowa, Tallo, Ternate, Tidore, Tual, Sumbawa, sehingga menjadikan Nusantara pada abad 16 sebagai daerah kekuasaan Islam di dunia timur. Pertumbuhan kota-kota bercorak islam di pesisir utara dan timur Sumatra di selat Malaka sampai ke ternate melalui pesisir utara Jawa ada faktor ekonomi di bidang pelayaran dan perdagangan. Kerajaan demak digambarkan sebagai kekuatan politik Islam pertama di Jawa yang kelahirannya dibidani oleh Walin Songo. Secara sosiologis, keberadaan Wali Songo selalu dihubungkan dengan pusat-pusat kekuatan masyarakat yang dicirikan oleh identitas dakwah Islam. Tempat-tempat para tokoh Wali Songo tinggal, seperti di Giri tempat kediaman Sunan Giri, Gresik tempat kediaman Sunan Gresik, Ampel tempat kediaman Sunan Ampel, Drajat tempat kediaman Sunan Drajat, Bonang tempat kediaman Sunan Bonang, Kadilangu tempat kediaman Sunan Kalijaga, Kudus tempat kediaman Sunan Kudus, Muria tempat kediaman Sunan Muria, Cirebon tempat kediaman Sunan Gunung Jati senantiasa dihubungkan dengan pusat-pusat kekuatan dakwah islam yang pengaruhnya sangat kuat di tengah masyarakat. Bahkan, kediaman tokoh-tokoh yang menjadi kerabat Wali Songo akibat terjadi pernikahan dengan keluarga Wali Songo ikut pula dikenal menjadi bagian dari pusat-pusat dakwah Islam di daerahnya. Di setiap pusat dakwah inilah para wali mengembangkan pusat-pusat pendidikan keagamaan islam yang disebut pesantren, yang tidak lain adalah pusat pendidikan keagamaan dukuh dalam bentuk yang baru sesuai asas Islam. Di pesantren inilah para kader-kader penyebar Islam di lahirkan, sehingga terbentuk kekuatan masyarakat muslim di Nusantara.