Telah disebutkan dalam ayat sebelumnya bahwa setelah Isa berada di dalam rahim Maryam, lalu ia mengasingkan diri dari keluarganya di Nasaret ke suatu tempat yang jauh, menurut banyak pendapat adalah di Baitul Lahm atau Bethlehem selatan Yerusalem yang berjarak kurang lebih 130 km dari Nasaret. Disana Maryam melahirkan dan beristirahat di dekat sebuah batang pohon kurma. Kemudian melahirkan Isa as. Diceritakan dalam injil Barnabas pada pasal 2 bahwa Maryam merasa kawatir tentang kehamilannya yang tanpa suami sehingga menjadikan penduduk marah dan mengakibatkan penduduk menghukum dirinya dengan melempari batu atas tuduhan dosa persundalan. Maka maryam meminta tolong atas keselamatan dirinya kepada seorang tukang kayu bernama Yusuf, ia adalah kerabat dekat dari garis keturunannya yang tiada cela dalam kehidupannya, karena yusuf bersikap wajar, takwa kepada Allah, menyembah-Nya dengan melakukan ibadah puasa dan shalat sesuai dengan ajaran Musa kepada umat Yahudi. ketika Yusuf mengetahui Maria telah mengandung ia cenderung menolak mempersuntingnya, karena yusuf takut kepada Allah. Hukum taurat ini juga berlaku seperti hukum islam bahwa seorang yang sedang mengandung tidak boleh dinikahi sebelum bayi tersebut lahir. Lain cerita menurut Al Kitab, Yusuf adalah tunangan Maria yang tadinya hendak memutuskan hubungan dengan Maria ketika ia mengetahui Maria telah mengandung. Akan tetapi, Yusuf mendapat perintah dari Tuhan melalui malaikat supaya Yusuf tetap mengawini Maria dan menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Injil Matius dan Lukas mengatakan bahwa sebelum kelahiran Yesus, baik Maria ibunya, dan tunangannya, Yusuf, tahu bahwa Yesus akan menjadi Mesias atau Raja yang dijanjikan kepada orang-orang Yahudi, dalam kitab-kitab Yahudi kuno. Injil Lukas paling banyak menceritakan kisah ini. Ketika kehamilan Maria makin membesar, tiba sebuah dekrit dari kaisar Romawi Augustus yang menguasai sebagian besar Eropa, Inggris, Timur Tengah dan Afrika Utara menitahkan agar semua penduduk dilakukan pendataan (sensus penduduk) sehingga setiap orang harus kembali ke tempat dari mana mereka berasal. maka Yusuf dan sanak keluarganya kembali ke kampung halamannya dengan membawa Maryam pergi kota kecil Bethlehem, sekitar 80 atau 90 mil (kurang lebih 130 km) dari Nazareth. Meskipun Maria akan segera melahirkan, mereka harus melakukan perjalanan, dengan ribuan orang lainnya yang akan kembali ke tempat asalnya masing-masing. Sebagaimana fenomena tahunan di Indonesia bahwa jika mendekati lebaran, kota besar akan menjadi sepi dan kota kecil yang menjadi kampung kelahiran akan menjadi ramai, karena penduduk di kota kecil akan bermigrasi mencari kehidupan yang lebih layak di kota besar. Maka ketika mereka tiba di Bethlehem, setiap kamar dari masing-masing rumah telah penuh, tidak ada tempat bagi mereka untuk tinggal kecuali di sebuah kandang binatang yang pada saat itu diyakini sebagai kandang domba. Bayi Yesus lahir di kandang kemudian dibedung dengan kain bedungan dan dibaringkan di atas jerami di dalam palungan (tempat makan ternak). Berikut dikisahkan oleh Lukas : 1. Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. 2. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. 3. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. 4. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, -karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud- 5. supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. 6. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, 7. dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Injil Lukas dan Injil Barnabas menerangkan bahwa gembala yang mengurus domba di lereng bukit datang untuk melihat bayi itu, karena mendapat kabar dari para malaikat, lalu mereka pergi mencari tempat kelahiran bayi tersebut. Setelah menemukannya mereka melakukan penghormatan kepadanya, memberikan apa yang sekiranya mereka miliki kepada Maryam, dan memberitahukan tentang kabar yang mereka dapatkan dari para malaikat tentang kelahiran bayi itu. Tetapi Maryam tidak mengatakan sesuatu apapun kecuali berterima kasih kepada Allah dan para penggembala yang telah memberikan hadiah kepadanya. Setelah para penggembala itu kembali ke kota mereka menceritakan betapa hebatnya apa yang telah mereka saksikan kepada penduduk Bethlehem, sehingga menyebar ke seluruh tanah Yudea (Palestina) kegemparan bagaimana jadinya bayi yang baru lahir tersebut. Peda surat Maryam ayat 23 dan 24 yang telah disebutkan diatas mengabarkan bahwa Maryam merasa sakit akan melahirkan Isa di bawah pohon kurma, sedangkan menurut Al Kitab Isa lahir di kandang. Dari kedua pendapat ini sebenarnya tidaklah terlalu prinsip untuk diperdebatkan, karena bisa jadi kandang tersebut berada di samping pohon kurma yang daun dan buahnya membuat teduh kandang di bawahnya. Dan keberadaan pohon kurma tentulah berada di pinggiran kota yang biasanya dipakai untuk perkebunan dan peternakan. Jikalau kandang tersebut dipakai untuk menginap tentunya ruang kandang itupun paling tidak dibersihkan dari kotoran ternak dan ternaknya pun pasti dipindahkan. Dua pernyataan antara kandang dan pohon kurma ini tentulah akan cocok dengan keberadaan anak sungai yang tidak jauh dari tempat tersebut, yaitu perkebunan kurma dan kandang domba memerlukan kedekatan dengan air. Walaupun seumpama dibawah pohon kurma tidak ada kandang, pastilah orang-orang yang menolong proses kelahiran Isa as akan membuatkan penutup sederhana seperti halnya gubuk kecil di pinggiran kebun, atau mungkin juga di pinggir kebun kurma ada gubuk yang fungsinya bisa dipakai istirahat tukang kebun kurma dan bisa juga dipakai untuk tempat tinggal ternak. Dan suatu hal yang pasti menurut sejarah pada zaman dahulu di daerah Bethlehem tumbuh pohon kurma, walaupun sekarang sudah tidak ada pohon kurma yang tumbuh disana. Dalam injil Barnabas pasal 3 menceritakan keajaiban kelahiran Yesus bahwa Maryam dikelilingi oleh cahaya terang dan cuaca yang luar biasa sehingga ia tidak merasakan sakit ketika melahirkan putranya. Sedangkan Dalam hadits Imam Bukhari juz 4 nomor 54:506, menyatakan bahwa "Ketika setiap manusia lahir. Setan menyentuh seorang bayi di kedua sisi tubuh dengan dua jarinya, kecuali Isa as., putera Maryam, Setan mencoba menyentuhnya tapi gagal, karena dia hanya menyentuh plasentanya saja." Menurut Al Tabari, hal ini disebabkan karena doa Maryam: "Aku berlindung kepada-Mu, untuk dia dan keturunannya dari setan yang terkutuk.". jadi berita bahwa Maryam melahirkan Isa as dengan tidak merasakan sakit kemungkinan berhubungan dengan hadis ini. Dan kelahiran yang tanpa rasa sakit ini hanya dialami satu-satunya di dunia oleh para wanita adalah kelahirannya Isa as dengan alasan yang dikabarkan pada hadis nabi Muhammad SAW tersebut. Sehingga yang disebutkan dalam Al Qur’an pada surat Maryam ayat 23 bahwa ia merasa sakit ketika akan melahirkan dan pada ayat 24 disebutkan Jibril menghibur Maryam agar berbahagia yang menjadikan Maryam tidak merasakan sakit ketika saat melahirkan, hal ini serupa dalam praktek bidan modern yang popular beberapa tahun ini yang menggunakan motode yang disebut Hipnotis pada kelahian bayi, dengan cara menghibur, memberikan semangat, perhatian, dan perasaan nyaman pada ibu bayi sehingga rasa sakit dalam proses kelahiran tersebut dapat dikurangi. Dalam Injil Matius diceritakan bahwa orang-orang bijak dari Timur melihat bintang baru di langit dan datang untuk menemukan Yesus, karena mereka tahu bahwa Mesias itu akan lahir, dan bahwa bintang adalah tanda bahwa Yesus lahir untuk menjadi seorang Raja. Matius mengatakan bahwa orang-orang majusi dari Timur datang membawa hadiah berharga bagi bayi Yesus. Sedangkan dalam Barnabas pasal 6 dikatakan bahwa 3 orang majusi dari Timur (Persia) sedang melakukan observasi terhadap bintang- bintang, kemudian mendapati dilangit sebelah barat ada bintang yang besar berkilau yang tidak seperti biasanya. Maka mereka berjalan ke barat seakan bintang tersebut memandu mereka sampai di Yerusalem, mereka menanyakan kepada penguasa pada waktu itu, yaitu Herodes tentang dimana keberadaan Raja Yahudi itu dilahirkan. Maka Herodes merasa ketakutan, dan memanggil pejabat agama dan para penulis kitab purba untuk mencari keterangan tentang letak dimana Al Masih akan dilahirkan. Mereka menjawab akan dilahirkan di Bethlehem atas keterangan seorang nabi jauh sebelumnya tang tercatat di kitab purba. Kemudian Herodes memberikan jawaban kepada orang-orang majusi untuk pergi ke Bethlehem dan setelah menemukan bayi tersebut ia meminta orang-orang majusi untuk kembali kepadanya dan menceritakan tentang kelahiran Raja Yahudi tersebut, dengan alasan ia juga akan memberi penghormatan kepada bayi itu. Hal ini dilakukan sebagai rencana tipu muslihat Herodes yang takut posisinya sebagai raja akan tergeser. Pada pasal 7 barnabas menjelaskan ketika orang-orang majusi sampai di Bethlehem mereka mendapati bintang pemandu perjalanan mereka berhenti di atas rumah tempat tinggal Maryam dan Putranya. Kemudian mereka membungkuk untuk memberikan penghormatan dan menghadiahkan rempah-rempah, emas, perak dan menceritakan kejadian yang telah mereka lihat. Pada saat majusi tidur dalam mimpinya anak itu memperingatkan kepada orang-orang majusi agar tidak kembali kepada Herodes tetapi kembali ke rumah mereka melalui jalan lain dan memberitakan apa yang telah mereka alami di tanah Yudea. Jika dilihat secara mata kasar atau mungkin menyebutnya dengan istilah ilmiyah, suatu kelahiran seseorang yang dihubungkan dengan bintang adalah suatu yang tidak masuk akal. Tetapi pada kenyataan sebenarnya, banyak terjadi suatu tanda-tanda melalui fenomena alam yang mengisyaratkan akan lahirnya seseorang yang istimewa dan tentunya adalah manusia pilihan Allah. Fenomena-fenomena yang tidak biasa atau diluar kebiasaan inipun terjadi pada saat sebelum kelahiran Rasulallah SAW yaitu seperti dijelaskan dalam surat Al fill tentang peristiwa penyerangan pasukan Gajah oleh Abrahah terhadap Ka’bah, walaupun sejarah mengatakan pasukan tersebut tidak secara spontan mati seketika, setelah burung ababil yang diartikan sebuah wabah yang terbang dibawa angin dari jurusan laut sehingga membunuh pasukan Abrahah dan ia sendiri mati dalam perjalanan kembali ke Yaman persis seperti gambaran Al Qur’an “lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”. Tentulah fenomena aneh (luar biasa) ini melalui sebuah proses Alam, yang mungkin bagi orang yang berpikiran praktis akan menganggap itu tidaklah masuk akal atau tidak ilmiah. Sama halnya dengan bintang yang menjadi petunjuk jalan bagi majusi tersebut sehingga menunjukan kebenaran bagi mereka. tentunya hal ini akan menjadi logis (ilmiah) bagi orang-orang yang berfikir secara dalam. Setelah Isa as cukup kuat untuk perjalanan pulang walaupun masih dalam gendongan, Maryam meninggalkan Baitullaham (Bethlehem) dan kembali ke Nasaret, maka mulailah orang yang tidak jauh tinggal dan rumahnya itu mengetahui kabar kelahiran bayinya, Tak lama kemudian, kabar itupun tersiar dengan cepatnya ke seluruh pelosok negeri. Orang-orang lalu datang berduyun-duyun, dari jauh dan dekat, ingin menyaksikan sendiri kabar yang luar biasa itu. Maryam dihujani orang ramai dengan pertanyaan-pertanyaan. Banyak pula pertanyaan yang mengejek dan kasar-kasar yang dihadapkan kepada Maryam. Akhirnya Maryam berdiri mengambil anak bayinya, lalu berkata kepada mereka “Ini adalah anakku, tanyakanlah kepadanya hakikat kejadian (peristiwa) yang sebenarnya, yang kalian tanyakan itu. Orang ramai heran dan tercengang mendengarkan jawaban Maryam yang tidak masuk akal itu. Hal ini sebagaimana dijelaskan pada ayat berikut ini : 27. Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. 28. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina", 29. maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?" 30. Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, (Maryam 19 : 27-30) Dalam surat Maryam ayat 16 “menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh” dapat diartikan bahwa Maryam melahirkan di negeri asing yaitu Bethlehem, sehingga aman dalam proses kelahirannya, ditambah peran penjagaan dari Yusuf sehingga orang-orang Bethlehem mengira ia adalah suaminya. Dan pada ayat 27 kata kaumnya (Qoumaha), ini dapat diartikan di negeri kaumnya (asalnya) yaitu Nasaret, Maryam dikenal belum menikah sehingga ketika pulang dan membawa anak, Maryam dianggap telah berbuat keji, kemungkinan hal ini dapat terjadi jika yusuf tidak ikut kembali ke nazaret, atau Yusuf kembali ke Nasaret selang beberapa waktu setelah Isa kecil menerangkan kepada masyarakat tentang dirinya.